Bolehkah Menerima Zakat Fitrah Lebih dari Satu Kali?

0
1007

BincangSyariah.Com – Menjelang Hari Raya Idul Fitri bersamaan kewajiban membayar zakat fitrah, banyak pertanyaan furu’iyah seputar zakat fitrah yang muncul. Di antaranya adalah soal cara pendistribusian zakat. Sebagaimana yang telah di ketahui, yang berhak menerima zakat adalah ashnaf tsamaniyah atau delapan kelompok yang disebutkan dalam surah at-Taubah ayat 60:

Pertanyaannya adalah: Jika seorang yang berhak menerima zakat (mustahiq) menyandang dua status yang berbeda, bolehkah dia menerima bagian ganda atau menerima lebih dari satu kali? Semisal fulan adalah orang yang fakir sekaligus gharim atau Amil sekaligus fakir.

Menjawab pertanyaan tersebut kita perlu merujuk pada keterangan para ulama, di antaranya sebagai berikut:

Qulyubi dan Umairah dalam Hasyiyahnya menjelaskan:

(وَمَنْ فِيهِ صِفَتَا اسْتِحْقَاق) كَفَقِيرٍ غَارِمٍ (يُعْطَى بِإِحْدَاهُمَا فَقَطْ فِي الْأَظْهَرِ) لِأَنَّ عَطْفَ بَعْضِ الْمُسْتَحَقِّينَ عَلَى بَعْضٍ فِي الْآيَةِ يَقْتَضِي التَّغَايُرَ، وَالثَّانِي يُعْطَى بِهِمَا بِجَعْلِ تَعَدُّدِ الْوَصْفِ كَتَعَدُّدِ الشَّخْصِ .

Orang yang menyandang dua status mustahiq, semisal fakir sekaligus gharim (orang yang berutang), maka menurut pendapat al-adhhar dia hanya boleh diberi dengan satu status yang dia sandang, karena mengathafkan (menggabungkan) sebagian mustahiq pada mustahiq yang lain (dalam at-Taubah, ayat: 60) menuntut adanya perbedaan. Menurut pendapat kedua, orang tersebut boleh diberi berdasarkan dua status tersebut, sebab memberi karena dua status yang berbeda sama seperti memberi pada dua orang yang berbeda”. (Baca: Bolehkah Korban Bencana Alam Menerima Zakat?)

Abu Ishaq Ibrahim asy-Syairazi dalam al-Muhadzdzab menjelaskan panjang lebar:

Jika dalam diri seseorang terkumpul dua status, maka ulama memunculkan tiga pendapat:

Pertama, di antara ashhab Syafi’i ada yang berpendapat, orang tersebut tidak diberi dengan dua status, akan tetapi dia diperintah memilih agar mengambil dengan satu status yang ia kehendaki.

Kedua, ulama fikih dalam mazhab Syafii lain berpendapat, jika dua status tersebut memiliki kesamaan jenis; bisa jadi, dua status tersebut sama-sama menunjukkan bahwa dia membutuhkan kita, contoh status fakir sekaligus berhutang untuk keperluan pribabdinya, atau bisa juga dua status tersebut sama-sama menunjukkan bahwa kita membutuhkan dirinya, seperti orang yang berperang sekaligus berhutang untuk mendamaikan sengketa, maka dia tidak diberi kecuali hanya berdasarkan satu status yang dia sandang.

Baca Juga :  Adab Memenuhi Undangan Menurut Ulama

Jika dua status yang disandang berbeda; satu status menunjukkan bahwa kita membutuhkan dirinya, dan status lain menunjukkan bahwa dirinya butuh kepada kita, maka dia diberi dengan dua status tersebut.

Masalah tersebut dianalogkan dengan waris; ketika seseorang memiliki dua bagian furudh (bagian pasti) maka dia hanya diberi satu bagian, dan ketika memiliki bagian furudh (bagian pasti) sekaligus ashabah (sisa harta) maka dia bisa diberi dua bagian.

Ketiga, Ashhab lain mengatakan, masalah tersebut terbagi dalam dua pendapat; pertama, dia diberi dengan dua status yang dimiliki, karena Allah menjadikan bagian untuk orang yang fakir, dan bagian untuk gharim, sedangkan dia adalah orang yang fakir sekaligus gharim. Pendapat kedua, dia diberi berdasarkan satu status saja, karena dia hanyalah satu orang, sehingga tidak boleh mengambil dua bagian.

Ketiga pendapat dalam al-Muhadzdzab di atas kemudian dijelasaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’:

هَذِهِ الطُّرُقُ الثَّلَاثَةُ مَشهُوْرَةٌ (وَأَصَحُّهَا) طَرِيْقَةُ الْقَوْلَيْنِ صَحَّحَهَا أَصْحَابُنَا وَنَقَلَهَا صَاحِبُ الشَّامِلِ عَنْ أَكْثَرِ الْاَصْحَابِ. وَأَصَحُّ الْقَوْلَيْنِ أَنَّهُ لَا يُعْطَي اِلَّا بِسَبَبٍ وَاحِدٍ يَخْتَارُ أَيّهُمَا شَاءَ …

قَالَ الرَّافِعِىُّ إِذَا جَوَّزْنَا اِعْطَاءَهُ بِسَبَبَيْنِ جَازَ بِاَسْبَابٍ أَيْضًا قَالَ وَقَالَ الحَنَّاطِيّ وَيَحْتَمِلُ أَنْ لَا يُعْطَى اِلَّا بِسَبَبَيْنِ. قَالَ الخُرَاسَانِيُّوْنَ فَاِنْ قُلْنَا لَا يُعْطَي بِسَبَبَيْنِ بِأَنْ كَانَ عَامِلًا فَقِيْرًا فَوَجْهَانِ مَبْنِيَّانِ عَلَى الْوَجْهَيْنِ فِيْمَا يَأْخُذُهُ الْعَامِلُ هَلْ هُوَ أُجْرَةٌ أَمْ زكَاةٌ؟ اِنْ قُلْنَا أُجْرَةٌ أُعْطِيَ بِهِمَا وَاِلَّا فَلَا…

Ketiga pendapat di atas adalah pendapat yang terkenal. Pendapat yang ashah menyatakan khilaf (kontra) antara dua pendapat. Pendapat ini telah disahihkan oleh ashhab kita, dan dikutip oleh pengarang kitab Syamail dari mayoritas ashhab.

Dari dua khilaf tersebut, yang paling ashhah adalah: Orang tersebut tidak diberi zakat kecuali hanya berdasarkan satu status yang dia miliki, dan dia diperbolehkan memilih status mana yang dia inginkan…

An-Nawawi kemudian menguti penjelasan ar-Rafi’i, jika kita boleh memberi dengan dua status, apakah kita juga boleh memberi dengan beberapa status yang berbeda? Menjawab pertanyaan tersebut imam Rafi’i mengutip pendapat al-Hannathi, “Kemungkinan kita tidak diperbolehkan memberi kecuali dengan dua status saja.”

Ulama Khurasan mengatakan, jika kita mengacu pada pendapat yang melarang memberi zakat dengan dua status yang berbeda, maka dalam kasus Amil yang fakir ada dua versi pendapat berbeda. Perbedaan tersebut bermula dari pemahaman, apakah bagian Amil sebagai upah kerja atau sebagai bagian zakat. Jika kita mengatakan bahwa yang diterima Amil adalah upah, maka Amil yang fakir bisa mendapatkan bagian ganda, namun jika kita mengatakan bahwa yang diterimanya adalah zakat, maka dia tidak boleh menerima bagian ganda…”.

Dari deskripsi jawaban di atas dapat disimpulkan bahwa ulama berbeda pendapat tentang mustahiq yang menyandang status ganda. Pendapat yang paling ashah atau adhar mengatakan, dia tidak boleh mengambil dua bagian zakat dari dua status tersebut, bahkan dia hanya boleh mengambil satu bagian zakat dengan satu status yang dia pilih.

Baca Juga :  Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitrah setelah Salat Idulfitri?

Kebalikan dari pendapat ashah atau adhar menyatakan, boleh mengambil dua bagian zakat dengan dua status yang berbeda. Walaupun pendapat ini lemah, tetapi dianggap benar karena dalil yang digunakan cukup jelas dan kuat.

Perbedaan pendapat (khilaf) di atas terjadi apabila bagian ganda tersebut berasal dari satu zakat yang sama, semisal sama-sama dari zakat fitrah. Namun jika berasal dari dua zakat yang berbeda, semisal zakat fitrah dan zakat tanaman, maka ulama memperbolehkan tanpa khilaf.

Dalam I’anatuh Thalibin, Sayyid Bakri menjelaskan:

(قوله: وَلَا يُعْطَى أَحَدٌ بِوَصْفَيْنِ) أي اِجْتَمَعَا فِيْهِ، وَاسْتَحَقَّ بِهِمَا الزَّكَاةَ، كَفَقْرٍ وَغَرِمٍ، أَوْ غَزْوٍ. والمرادُ: لَا يُعْطَى بِهِمَا مِن زَكَاةٍ وَاحِدَةٍ. أَمَّا مِنْ زَكَاتَيْنِ فَيَجُوْزُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ وَاحِدَةٍ بِصِفَةٍ، وَمِنَ الْاُخْرَى بِصِفَةٍ أُخْرَى.كَغَازٍ هَاشِمِيٍّ، فَإِنَّهُ يَأْخُذُ بِهِمَا مِنَ الْفَيْئِ.

Seseorang tidak boleh diberi zakat dengan dua status yang berbeda, dimana dua status tersebut ada pada dirinya, dan dengan keduanya dia berhak menerima zakat. Seperti fakir dan gharim, atau prajurit berperang. Maksudnya adalah, dia tidak diberi dari satu zakat yang sama. Adapun dari dua zakat, maka dia diperbolehkan menerima satu zakat dengan satu status yang dia miliki, dan menerima zakat yang lain dengan statusnya yang lain. Masalah ini dianalogkan dengan orang yang berperang dan berstatus Bani Hasyim, maka dengan dua status tersebut dia boleh mengambil harta fai’”.

Ibnu Hajar dalam Tuhfatul Muhtaj menjelaskan:

( وَمَنْ فِيهِ صِفَتَا اسْتِحْقَاقٍ ) لِلزَّكَاةِ كَالْفَقْرِ وَالْغُرْمِ ، أَوْ الْغَزْوِ ( يُعْطَى ) مِنْ زَكَاةٍ وَاحِدَةٍ أَيْ : بِاعْتِبَارِ مَا وَجَبَتْ فِيهِ لَا مَنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ فِيمَا يَظْهَرُ فَلَوْ كَانَ عَلَى وَاحِدٍ زَكَوَاتٌ أَجْنَاسٌ كَانَتْ زَكَوَاتٍ مُتَعَدِّدَةً ، وَلَوْ اشْتَرَكَ جَمَاعَةٌ فِي زَكَاةِ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَانَتْ مُتَّحِدَةً

Baca Juga :  Enam Macam Pengalaman Batin Sufi Terhadap Tuhannya

Orang yang memiliki dua status mustahiq, seperti fakir dan gharim atau prajurit perang, maka dia diberi dari satu zakat. Artinya dengan mempertimbangkan jenis zakat yang wajib dibayarkan, bukan orang yang wajib mengeluarkan zakat. Dengan demikian, jika seseorang memiliki kewajiban zakat dari beberapa jenis yang berbeda, maka zakat tersebut disebut dengan ‘zakat yang berbeda’. Sebaliknya, jika beberapa orang bersama-sama mengeluarkan zakat dari satu jenis yang sama, maka zakat tersebut disebut dengan ‘zakat yang sama’.”

Dalam hal ini al-Mawardi dalam al-Iqna’ menjelaskan:

وَإِذَا كَانَ الفَقِيْرُ غَارِمًا لَهُ مِن زَكَاةٍ وَاحِدَةٌ بَيْنَ سَهْمَيْ فَقْرٍ وَغَرِمٍ وَأُعْطِىَ بِأَحَدِ السَّهْمَيْنِ وَجَازَ أَن يُعْطَي بِالسَّبَبِ الآخَرِ مِنْ زكَاةٍ أُخْرَى وَالْمَأْخُوذُ مِنَ الْمَعَادِنِ وَالرّكَازِ وَأَعْشَارِ الزُّرُوْعِ وَالثِّمَارِ زَكَاةٌ تُصْرَفُ مَعَ زَكَاةِ الْفِطْرِ مَصْرَفَ الزَّكَاةِ

Ketika orang yang fakir memiliki banyak hutang, maka dia berhak menerima satu bagian zakat, dia boleh memilih antara bagian fakir atau gharim. Dia diberi dari salah satu bagiannya. Dia juga bisa diberi berdasarkan status lain, namun dari zakat yang lain. Harta dari pertambangan, harta karun, serta sepersepuluh dari biji-bijian dan buah adalah zakat yang bisa didistribusikan bersama zakat fitrah, pada saluran-saluran zakat.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here