Bolehkah Mencocokkan Nash Al-Qur’an dengan Teori Ilmiah?

0
785

BincangSyariah.Com – Akidah atau keyakinan sifatnya mutlak, pasti dan absolut. Kebalikan dari sains yang bersifat relatif, nisbi dan progresif. Teori-teori ilmiah yang dari dulu sudah dianggap “mapan”, terbuka untuk selalu ditantang dan diruntuhkan dengan teori baru yang lebih mendatangkan bukti empiris.

Terkadang, sebagai obat dan kompensasi rasa inferioritas terhadap hegemoni peradaban Barat, sebagain cendekiawan muslim tergesa-gesa menyelaraskan (tafsir) ayat al-Qur’an dengan teori ilmiah tertentu, seperti teori Big Bang (QS. Al-Anbiya’:30), teori penciptaan manusia (QS. Al-‘Alaq:2), teori astronomi (QS. Yasin 37-40) dan lain-lain, dengan maksud mengagungkan mukjizat ilahi.

Prof. Quraish Shihab dalam Wawasan al-Qur’an menjelaskan, agar jangan sekali-kali kita lupa bahwa sampai kapan pun, teori ‘ilmiah’ tersebut masih bisa direvisi. Ketika ia di-cocoklogi-kan dan terbukti keliru di kemudian hari, maka tercederai pula kesakralan teks-teks transenden.

Menurut beliau, yang diciptakan Allah jalla wa ‘ala itu iklim menuntut ilmu, bukan pelembagaan teori jadinya.

Wahyu pertama turun dengan perintah iqra’ maksdunya; baca, telaah, pahami, kritisi apa saja, selama bismi rabbika, dalam naungan spirit mengagungkan Tuhan.

Bahaya meresmikan suatu hukum relatif bisa dilihat pada kasus geraja di abad-18. Teori geosentris, bahwa bumi adalah pusat semesta dan dikelilingi oleh benda planet lain dilembagakan uskup gereja. Ketika Galileo menyatakan sebaliknya dengan teori heliosentris, bahwa bumi mengitari matahari, penemuan ia pun akhirnya dianggap bid’ah dan tindakan heretik.

Jadi dawuh Prof. Quraish, agar kita hanya menjadikan ayat suci sebagai inspirasi-inspirasi teori/penemuan. Bukan memutlakkan atau meruntuhkan teori itu sendiri. Kalaupun ternyata ada kecocokan, cukup dianggap sebagai kahazanah dan wawasan tambahan. Karena al-Qur’an, mengutip Syekh Abudllah Darraz, bagaikan intan berlian, yang dipandang dari sudut manapun tetap akan memancarkan cahaya.

Baca Juga :  Melawan Fitnah, Hoax dan Penghinaan, Bolehkah??

Senada dengan tesis di atas, Imam Ghzali juga menyatakan bahwa Ilmu pengetahuan dibangun di atas hubungan sebab-akibat yang sifatnya temporal/sementara. Hakikat di balik hubungan tersebut tetap di tangan Allah Yang Mahaagung.

Penulis ingin menambahkan, apabila menyocokkan ayat dengan dengan sekian bukti lapangan (empiris) saja tidak dibenarkan, apalagi cocoklogi serampangan dan tebak-tebakan tanpa nash. Umpama, “malam tahun baru hujan deras, tandanya Tuhan titik-titik”, “tokoh anu masuk tanah haram, crane roboh”, “kezaliman atas umat Islam terjadi, asap berebentuk kalimat ‘Allah’ tampak”, dan semisalnya. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here