Bolehkah Menambah Jumlah Bacaan Wirid Setelah Shalat?

0
37

BincangSyariah.ComWirid atau zikir setelah shalat fardu merupakan amalan yang biasa dilaksanakan masyarakat muslim Indonesia, baik berjamaah atau pun sendiri-sendiri. Pengamalan wirid tersebut berdasarkan petunjuk Rasulullah yang diriwayatkan dalam banyak kitab hadis. Tapi bagaimana hukum menambah jumlah bacaan wirid setelah shalat?

Sebelum membahas hal tersebut, imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar mengutip hadis Rasulullah SAW mengenai anjuran membaca wirid setelah shalat sebagai berikut:

عن أبي هريرة رضي اللّه عنه عن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم قال : مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ في دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاثاً وَثَلاثينَ وكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ وَقالَ تَمامَ المئة: لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ على كُلّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطاياهُ وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ

Dari Abu Hurairah RA. dari Rasulullah SAW. beliau bersabda: “Barangsiapa bertasbih kepada Allah setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, dan bertakbir kepada Allah tiga puluh tiga kali, kemudian sebagai penyempurna bilangan keseratus membaca Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.” 

Dalam hadis di atas Rasulullah mengajarkan tiga bacaan wirid: tasbih (subhaanallah), tahmid (alhamdu lillah), dan takbir (allahu akbar) dengan jumlah tertentu, yaitu tiga puluh tiga kali. Namun dalam riwayat lain, Rasulullah juga menyebutkan jumlah yang berbeda, sebagaimana disampaikan Ibnu Hajar dalam Fathul Ilah, Syarah Misykat (juz 4:182).

Menurut Ibnu Hajar, bacaan tasbih ada yang meriwayatkan dibaca sebanyak tiga puluh tiga kali, dua puluh lima kali, sebelas kali, tiga kali, satu kali, tujuh puluh kali dan seratus kali.

Kemudian bacaan tahmid ada yang meriwayatkan dibaca tiga puluh tiga kali, dua puluh lima kali, sebelas kali, sepuluh kali dan seratus kali.

Sedangkan bacaan tahlil ada yang meriwayatkan sepuluh kali, dua puluh lima kali, dan seratus kali.

Paling tidak ada dua kemungkinan alasan, kenapa Rasulullah menyebutkan wirid tersebut dalam jumlah yang berbeda-beda. Pertama, Rasulullah menyampaikan masing-masing bilangan di atas dalam kesempatan yang berbeda. Kedua, agar umatnya bisa memilih, atau karena ada latar belakang kondisi yang berbeda.

Masalahnya kemudian adalah, apakah diperbolehkan menambahkan atau mengurangi jumlah bilangan wirid tersebut, sehingga melebihi jumlah yang telah disebutkan Rasulullah atau bahkan menguranginya?

Menjawab pertanyaan tersebut, para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda sebagaimana berikut:

Pendapat pertama, Muhammad Ali dalam Futuhaat ar-Rabbaniyyah (juz 3:34) mengutip pendapat al-Qarrafi, makruh hukumnya menambahi jumlah wirid sehingga tidak sesuai dengan yang diajarkan Nabi. Selain itu wirid yang jumlahnya ditambah atau dikurangi tidak akan mendapatkan pahala, karena yang demikian itu telah melanggar etika (suu-ul adab) terhadap Rasulullah.

Lebih jelas a-Qarrafi mengatakan:

وَمِن البِدَعِ المَكْرُوهَهِ الزّيَادَةُ في المَنْدُوبَاتِ المحدُودَةِ شَرْعًا لأن شأنَ العُظَمَاءِ إذا حَدُّوا حَدًّا أن يُوقَفَ عِندَهُ ويُعَدّ الخارِجُ عنه سَيّئًا للأدَبِ.

Di antara bid’ah yang dimakruhkan adalah menambahi kesunahan-kesunahan yang yang jumlahnya telah ditentukan syariat. Karena orang-orang yang mulia ketika mereka telah menetapkan sebuah batasan, maka harus berhenti pada batas tersebut. Orang yang keluar batas, dianggap melanggar etika.

Namun menurut al-Iraqi berdasarkan penjelasan dari gurunya, juga menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (juz 2:330), yang tidak didapatkan adalah pahala khusus yang telah dijanjikan jika dibaca sesuai dengan bilangan yang dianjurkan. Karena ada kemungkinan, dalam bilangan tersebut terkandung hikmah dan keistimewaan, yang tidak akan didapat ketika dibaca menyalahi anjuran.

Ibnu Hajar selanjutnya mengutip penjelasan para ulama, jumlah wirid itu bagaikan dosis dalam pengobatan. Ketika seorang dokter telah memberikan resep dalam dosis tertentu, kemudian pasien menambahi dosis melebihi anjuran dokter, maka dimungkinkan pengobatan tersebut tidak akan berhasil. Demikian pula jika pasien mungurangi dosisnya.

Selain itu, ketika ada beberapa wirid yang dianjurkan untuk diamalkan secara konsisten dengan jumlah tertentu, kemudian seuatu saat jumlah tersebut ditambahi. Maka penambahan tersebut berarti telah merusak konsistensi dalam mengamalkan wirid, padahal dalam konsistensi tersebut diharapkan ada hikmah yang akan didapatkan oleh pengamal wirid tersebut.

Pendapat di atas dikuatkan oleh keterangan Ahmad Zarruq al-Faasi dalam Qawaidut Tasawwuf wa Syawaahidu at-Ta’arruf (181). Dalam kaidah ke 109 Zarruq mengatakan:

مَا خَرَجَ مَخْرَجَ التَّعْلِيمِ وُقِفَ به على وَجْهِهِ مِنْ غيرِ زيادَةٍ ولا نَقْصٍ… فَكُلُّ مَا وَرَدَ فيه عَدَدٌ قُصِرَ عَلَيْهِ، وكَذَا اللَّفْظُ

Sesuatu yang berasal dari pembelajaran, maka harus seperti apa adanya, tidak boleh ditambahi atau dikurangi … segala sesuatu yang dijelaskan jumlahnya maka harus dilakukan sesuai jumlah tersebut, demikian pula lafaz (juga tidak boleh ditambahi).

Dalam kitab tersebut az-Zarruq mengisahkan seseorang yang mewiridkan subhanallah, alhamdulillah dan allahu akbar, masing-masing seratus kali. Kemudian dia tidur dan bermimpi seolah-olah ada suara memanggil, “Dimanakah orang-orang yang berzikir setiap selesai shalat?” Laki-laki itu pun berdiri. Kemudian terdengar suara, “Kembalilah! Engkau tidak termasuk dalam golongan mereka. karena keistimewaan ini hanya untuk orang-orang yang berzikir tiga puluh tiga kali”.

Laki-laki dalam kisah tersebut, mengamalkan seratus kali tanpa mengikuti riwayat lain yang menganjurkan wirid tersebut dibaca seratus kali, sebagaimana penjelasan di atas.

Pendapat kedua, Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (juz 2:330) mengutip pendapat al-Hafiz Abu al-Fadl dalam Syarah at-Tirmidzi, menurut beliau pendapat pertama perlu dikritik, karena orang yang menambahi jumlah wirid berarti sebelumnya dia telah melakukan wirid tersebut sesuai dengan ajaran. Dengan demikiain dia telah mendapat pahala yang dijanjikan dalam wirid tersebut. Sehingga ketika dia menambahkan jumlah bacaan dari jenis wirid yang sama, maka penambahan tersebut tidak bisa menghilangkan pahala yang telah dia dapatkan sebelumnya.

Pendapat ketiga, Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (juz 2:330), pendapat pertama dan pendapat kedua bisa dikompromikan dengan melihat niat pengamal wiridnya, ketika orang yang melaksanakan wirid berhenti pada bilangan yang dianjurkan dengan niat mengikuti perintah syariat, kemudian dia meneruskan dengan menambahkan bilangannya, maka dia akan tetap mendapatkan pahala.

Namun, jika dia menambahkan bialangan wirid dengan tanpa niat, semisal syariat menjanjikan pahala bagi orang yang mengamalkan wirid sebanyak sepuluh kali, kemudian dia menambahkan sampai seratus kali, maka dia tidak mendapatkan pahala, semagaimana sebagaimana resep obat dalam contoh di atas.

Atau jika dia menambahkan bilangan karena ragu-ragu (syak) dengan bilangan yang telah dilakukan sebelumnya, maka penambahan tersebut diterima. Namun jika penambahan tersebut karena alasan ibadah (ta’abbud), maka pelakunya telah menyalahi ajaran Nabi Muhammad, dan tentunya hal tersebut dilarang. []

Wallahu A’lam.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here