Bolehkah Membagi Warisan Berdasarkan Kesepakatan?

0
633

BincangSyariah.Com – Perihal warisan masuk dalam bab muamalat dalam kitab-kitab fikih. Ketika seorang wafat maka harta yang dia miliki dibagi kepada ahli warisnya. Bagaimana hukumnya jika para ahli waris sepakat untuk membagi secara rata atau berdasarkan keridaan mereka?

Ulama berpendapat bahwa membagi harta berdasarkan kesepakatan ahli waris diperbolehkan. Terdapat tiga syarat kebolehan membagi warisan berdasarkan kesepakatan.

Pertama, para ahli waris telah cakap hukum. Artinya mereka telah dewasa dan mengerti akan bagiannya masing-masing.

Kedua, kesepakatan tersebut terjadi bukan karena ada paksaan atau ancaman dari ahli waris atau pihak lainnya.

Ketiga, ketika membagi warisan tersebut bukan karena alasan tidak suka akan bagian yang telah ditetapkan Allah Swt. Ahli waris harus berkeyakinan bahwa pembagian yang ditetapkan Allah adalah yang paling adil.

Sebagi contoh, missal ada seorang meninggalkan ahli waris terdiri atas 2 anak laki-laki, 1 anak perempuan, dan seorang ibu. Jika dibagi sebagaimana yang diatur dalam ilmu Faraid maka bagiannya adalah sebagai berikut:

Anak laki-laki dan anak perempuan mendapatkan ‘ashabah (sisa), sedangkan ibu mendapatkan 1/6.

Jadi, sisanya adalah 5/6. Kemudian 5/6 tersebut dibagi kepada penerima ‘ashabah:

1 anak laki-laki : 5/6 x 2/5 = 10/30

1 anak laki-laki : 5/6 x 2/5 = 10/30

1 anak perempuan : 5/6 x 1/5 = 5/30

Bagian akhir masing-masing ahli waris adalah

1 anak laki-laki            = 10/30

1 anak laki-laki            = 10/30

1 anak perempuan       = 5/30

Ibu                               = 1/6 atau 5/30

Jika para ahli waris di atas sepakat membagi rata, ibu mendapat bagian paling banyak, atau kesepakatan lainnya, sesuai dengan kebaikan keluarga maka hal tersebut diperbolehkan. Selama tidak ada paksaan dan para ahli waris telah mengetahui bagiannya masing-masing.

Kebolahan tersebut berdasarkan firman Allah Swt. dalam surah al-Nisa ayat 114

Baca Juga :  Yang Diajarkan Rasulullah Tentang Kelestarian Alam

 لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”

Hal ini juga diperkuat dengan hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

الصلحُ جائزٌ بين المسلمين إلا صلحاً أحلَّ حراماً أو حرَّم حلالاً

Artinya: “Perdamaian itu hukumnya boleh antara sesama muslim kecuali perdamaian yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.” (Hr. Abu Daud).

Kedua dalil di atas menunjukkan bahwa perdamaian, pembagian warisan sesuai dengan kesepakatan diperbolehkan. Lebih lanjut dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan selama mereka sepakat saja, tanpa ada tujuan menjegah mudarat, itu sudah cukup.

Wallahu a’lam. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.