Bolehkah Memakai Perhiasan Saat Ihram?

0
17

BincangSyariah.Com – Terdapat sebagian perempuan yang membawa perhiasan ketika hendak melaksanakan ibadah haji di Baitullah. Bahkan ketika melaksanakan ihram pun, ada sebagian jemaah haji perempuan yang tetap memakai perhiasan, seperti gelang, cincin, dan kalung. Lantas bagaimana hukum memakai perhiasaan saat ihram, apakah  diperbolehkan ?

Mengenai hukum memakai perhiasan bagi perempuan saat ihram, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Setidaknya, ada dua pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama, boleh bagi perempuan memakai perhiasan apapun saat ihram, seperti gelang kaki, gelang tangan, cincin, kalung, anting, sarung tangan dan lainnya. Ini adalah pendapat Sayidina Ali, Sayidah Aisyah, Imam Al-Tsauri, Imam Abu Hanifah, dan salah satu pendapat Imam Syafii.

Kedua, boleh bagi perempuan memakai perhiasan saat ihram selain sapu tangan dan gelang kaki. Adapun memakai sapu tangan dan gelang kaki hukumnya tidak boleh. Ini adalah pendapat Abdullah bin Umar, Imam Thawus, Mujahid, Al-Nakha’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan salah satu pendapat Imam Syafii.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

التَّزَيُّنُ فِي الإْحْرَامِ: – يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ الْمُحْرِمَةِ أَنْ تَلْبَسَ مَا أَحَبَّتْ مِنْ أَلْوَانِ الثِّيَابِ وَالْحُلِيِّ، إِلاَّ أَنَّ فِي لُبْسِهَا الْقُفَّازَيْنِ وَالْخَلْخَال خِلاَفًا بَيْنَ الْفُقَهَاءِ. فَرَخَّصَ فِيهِ عَلِيٌّ وَعَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَبِهِ قَال الثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَهُوَ أَحَدُ قَوْلَيِ الشَّافِعِيِّ. وَمَنَعَهُ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَبِهِ قَال طَاوُسٌ وَمُجَاهِدٌ وَالنَّخَعِيُّ وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ، وَهُوَ الْقَوْل الآْخَرُ لَلشَّافِعِيِّ.

Hukum berhias saat ihram. Boleh bagi perempuan yang sedang ihram memakai perhiasan apa saja yang ia sukai mulai dari warna pakaian dan perhiasan. Akan tetapi terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqih terkait hukum perempuan memakai dua sapu tangan dan gelang kaki. Sayidina Ali dan Sayidah Aisyah mentoleransi. Ini merupakan pendapat Imam Al-Tsauri, Abu Hanifah, dan salah satu pendapat Imam Syafii. Sementara Abdullah bin Umar melarangnya. Ini merupakan pendapat Imam Thawus, Mujahid, Al-Nakha’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan salah satu pendapat Imam Syafii.

Baca Juga :  Budaya Titip Salam untuk Nabi Ketika Haji dan Umrah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here