Bolehkah Melihat Kemaluan Istri saat Berhubungan Badan?

1
6231

BincangSyariah.Com – Islam telah banyak memberi beragam gambaran perihal kedekatan hubungan antara dua insan yang berada dalam bingkai pernikahan. Allah SWT telah menggambarkan dengan sebuah ungkapan, bahwa suami adalah pakaian buat istrinya. Begitu juga istri sebagai pakaian buat suaminya. Sedangkan Nabi Muhammad SAW telah menggambarkan dengan sebuah ungkapan lain lagi, bahwa suami adalah selimut bagi isterinya. Begitu juga isteri sebagai selimut bagi suaminya.

Maksud daripada dua gambaran ini masih memiliki arti yang sama, yaitu bahwa manusia ketika diikat dalam pernikahan, hubungannya menjadi sangat dekat. Sehingga tidak ada lagi batas-batas bagi keduanya (suami-istri). Maka pada puncaknya, konsekuensi daripada pernikahan adalah ke-halal-an istimta’ bagi keduanya.

Dalam pernikahan, menurut perspektif fiqih; wanita diposisikan sebagai mahallu al-istimta’ (tempat bersenang-senang). Mulai ujung rambut hingga ujung kaki halal (boleh) bagi suami untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dalam rangka menjaga keturunan dan beribadah mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana Firman Allah SWT :

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أَنّى شِئْتُمْ

(..Isteri-isteri mu adalah seperti tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki…) [QS. Al-Baqarah: 223]

Lalu bagaimana Islam mengatur permasalahan ini, apakah boleh bagi suami untuk melihat kemaluan istri, dan begitu juga sebaliknya?.

Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh seorang kakek tua, Wahai Rasulullah, mana aurat yang boleh kami buka dan mesti kami tutup?, Nabi menjawab; Tutup auratmu kecuali untuk isteri dan budakmu. Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan oleh Imam Al-Tirmidzi. [Lihat Ibn Al-Qudamah dalam Al-Mughni]

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya yang berjudul ‘Uqudu al-Lujjain telah memberikan sebuah ketentuan kaidah fiqih yang sangat logis untuk dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan jawaban pertanyaan ini, beliau berkata demikian :

Baca Juga :  Amalan yang Dapat Mengantarkanmu ke Surga

فَإِنَّمَا يَحْرُمُ نَظْرُهُ يَحْرُمُ مَسُّهُ بِالْأَوْلَى لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي اللَّذةِ وَأَغْلَظُ فِي الدَّلِيْلِ

(…Pastinya ketika sesuatu haram dilihat, maka memberikan hukum haram ketika memegang atau menyentuhnya lebih utama. Karena kenikmatan yang didapat ketika memegang melebihi kenikmatan yang didapat ketika memandang, dan menyentuh hukumnya lebih berat dalam persoalan dalil…)

Pada pernyataan beliau (Syekh Nawawi Al-Bantani) memberikan sebuah pemahaman bahwa ketika sesuatu boleh dipegang atau disentuh maka boleh dilihat, terlebih kenikmatan yang didapat ketika memegang itu melebihi kenikmatan ketika hanya melihat. Maka sebuah  ijtihad yang aneh bila seseorang diizinkan memegang dan menyentuh seluruh tubuh istri lalu tidak diizinkan melihat, padahal menyentuh lebih nikmat daripada memandang atau melihat. [Lihat: Syekh Nawawi al-Bantani, ‘Uqudullujain, 10]

Mengenai persoalan ada pendapat Ulama yang mengatakan akan menyebabkan buta bagi yang melihat atau bagi anaknya kelak, ternyata hadits yang dijadikan hujjah (landasan) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Buqyah yang telah divonis sering membuat hadis-hadiss Maudhu (palsu). Hal tersebut (mengenai hadits maudhu’) telah disampaikan oleh Ibnul Jauzi. Sehingga pendapat yang melarang untuk melihat kemaluan istri atau sebaliknya, adalah pendapat yang tidak kuat, sedangkan pendapat yang kuat justru memperbolehkan. [Lihat: Al-Baijuri, Hasyiyatu al-Baijuri ‘ala Ibn al-Qasim, 1/194]



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here