Bolehkah Melepas Hijab karena Diintimidasi Saat Berada di Luar Negeri?

0
844

BincangSyariah.Com – Sebuah fatwa Darul Ifta al-Mishriyyah merilis sebuah pertanyaan dari seorang dosen Muslimah di luar negeri. “Saya seorang muslimah yang sudah menikah, dan menjadi salah satu dosen di salah satu kampus di luar negeri yang berpenduduk mayoritas non-Muslim. Saat saya hendak mulai mengajar, para mahasiswa mengintimidasi saya karena berhijab. Mereka pun melakukan demo untuk melarang dan menghalang-halangi saya bekerja. Apakah sebaiknya saya terus mempertahankan hijab atau saya boleh melepaskan hijab karena menghendari intimidasi tersebut?

Menurut fatwa Darul Ifta al-Mishriyyah, berhijab bagi Muslimah yang sudah balig itu fardu ain. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt.:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Sampaikanlah Muhammad pada wanita mukmin untuk menundukkan pandangannya, menjaga kehormatannya, jangan menampakkan anggota tubuh mereka kecuali yang terlihat (dalam kehidupan sehari-hari), dan hendaknya mereka menutupi dadanya dengan kain kerudung. (Q.S. Al-Nur: 31)

Selain itu, menutup aurat, termasuk berhijab, juga terdapat dalam hadis riwayat Aisyah berikut.

عن عائشة رضي الله عنها: أَن أَسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما دخلت على رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وعليها ثياب رقاق، فأعرض عنها رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، وقال: «يا أسماء، إن المرأة إذا بلغت المحيض لم تصلح أن يُرى منها إلا هذا وهذا» وأشار إلى وجهه وكفيه.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Asma putri Abu Bakar pernah memasuki rumah Rasulullah saw. dan ia mengenakan baju tipis. Rasulullah saw. pun memalingkan wajahnya dan menasihati Asma, “Asma, wanita yang sudah balig (seperti kamu) itu tidak patut terlihat anggota tubuhmu, kecuali ini dan itu, Rasulullah sambil menunjuk wajah dan tangan Asma” (HR Abu Daud).

Atas dasar ini, wanita Muslimah tidak boleh terlihat auratnya oleh pria yang bukan mahramnya, kecuali dalam keadaan darurat, seperti berobat ke dokter yang membutuhkan terlihatnya aurat. Misalnya, terdapat luka yang harus diobati di kepala.

Baca Juga :  Melawan Fitnah, Hoax dan Penghinaan, Bolehkah??

Terkait pertanyaan di atas, fatwa Darul Ifta al-Mishriyyah menjabarkan dua hal. Pertama, jika intimidasi tersebut hanya berupa kata-kata dan masih dapat dihadapi dengan cara merespon dengan bersikap santun kepada mereka, maka melepas hijab itu tidak diperbolehkan. Kedua, jika intimidasi tersebut sampai pada melukai atau bahkan dosen itu dapat kehilangan pekerjaannya, dan belum ada profesi lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, maka melepas hijab diperbolehkan. Kebolehan melepas hijab tersebut dengan catatan tidak dilakukan selamanya. Artinya, jika keadaan sudah memungkinkan memakai hijab lagi saat mengajar, maka memakai hijab menjadi wajib kembali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here