Bolehkah Melangkahi Kakak dalam Hal Menikah?

0
365

BincangSyariah.com – Dalam hal menikah, ada banyak aturan yang ditetapkan berdasarkan adat di sekitar lingkungan. Sebenarnya ini tidak masalah, karena Islam menghargai adat dan budaya, selama tidak bertentangan dengan aturan Allah dan tidak ada unsur kezaliman.

Ketika salah satu dari kriteria ini tidak terpenuhi, tentu saja adat dan budaya itu tidak boleh diberlakukan. Karena yang paling penting adalah menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Terkait dengan nikah ini, salah satu kajian Islam yang ada kaitannya dengan adat dan budaya adalah masalah melangkahi kakak dalam menikah. Bagi sebagian masyarakat, ini pantangan atau bahkan tindakan kedurhakaan. Seorang adik dianggap melanggar hak kakaknya ketika dia mendahului menikah sebelum kakaknya. Bagaimana Islam mengatur hal demikian?

Di dalam Islam pada dasarnya tidak dikenal dengan pelangkah. Melangkahi kakak yang lebih tua dalam menikah tidak ada aturan dasar yang melarangnya.

Namun yang diharuskan adalah seorang adik menghormati kakaknya. Mereka yang lebih muda menghormati yang lebih tua. Junior menghormati senior. Namun apakah melangkahi dalam menikah itu termasuk hormat atau tidak hormat, semua dikembalikan kepada kebiasaan adat dan budaya masyarakat setempat.

Sebagian masyarakat Indonesia memandang bahwa menikah dengan melangkahi kakak sendiri sebagai bentuk ketidaksopanan, sehingga yang dilangkahi itu secara tidak sadar akan merasa sakit hati, direndahkan bahkan merasa dilecehkan.

Apalagi yang dilangkahi kakak perempuan, untuk beberapa kalangan, terkadang memang bisa menjadi perkara yang besar.

Islam menganjurkan untuk memotivasi saudaranya agar segera menikah. Dari Ibnu Masud, Nabi saw. bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena menikah akan lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sementara siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena itu bisa menjadi benteng syahwat baginya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  Tauhid Menurut Abu Hasan Al Asy'ari

Islam juga menganjurkan agar saling bekerja sama untuk mewujudkan pernikahan. Ketika ada yang belum menikah, yang lain dianjurkan untuk membantunya agar bisa segera menikah. Allah berfirman:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Nikahkahlah orang yang bujangan di antara kalian serta orang baik dari budak kalian yang laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan karuniaNya. Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui.” (Q.S. an-Nur: 32)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here