Bolehkah Melakukan Pernikahan Dini?

0
634

BincangSyariah.Com – Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka pernikahan dini tertinggi di dunia. Kota Depok misalnya, pada tahun 2016 terdapat 11,77 persen anak di bawah usia 17 tahun melakukan pernikahan dini. Pada tahun 2017 angka tersebut meningkat tajam menjadi 28,78 persen (nasional.republika.co.id). Secara nasional data menunjukkan bahwa 25 persen anak di Indonesia melakukan perkawinan di bawah usia 18 tahun (news.liputan6.com).

Pernikahan di bawah umur menimbulkan banyak efek negatif, walau pendapat ini tidak sepenuhnya disepakati semua ahli. Di antaranya meningkatkan angka kematian anak akibat melahirkan, anak terlantar, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kesulitan ekonomi, putusnya akses pendidikan, dan beberapa dampak lainnya.

Lantas pertanyaanya bagaimana hukum Islam menyikapi pernikahan dini? Sebelum membahas pertanyaan tersebut. Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa atau dalam bahasa Inggris disebut dengan child marriage.

Dewasa dalam Islam dihubungkan dengan akil dan baligh. Ketika baligh maka hal tersebut tidak disebut dengan di bawah umur. Baligh ditandai dengan haidh bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki.

Ulama fikih tidak menetapkan berapa usia minimal melakukan pernikahan. Tidak ada ketentuan khusus usia pernikahan menjadi syarat sah atau tidaknya perkawinan. Syarat sah perkawinan adalah terpenuhinya rukun dan syarat perkawinan. Rukun pernikahan adalah adanya dua mempelai (laki-laki dan perempuan), saksi, wali dan ijab kabul.

Syarat sahnya adalah mahar dan tidak melanggar larangan-larangan perkawinan. Di antara larangan perkawinan adalah menikahi ibu, menikahi saudari, menikahi anak saudari atau saudara, menikahi ibu susu dan saudara sepersusuan, poligami lebih dari empat, poligami dua saudara, poliandri.

Muhammad Jawab al-Mughinya menjelaskan dalam kitab ahwal al-syakhsiyyah, ulama berbeda pendapat tentang batasan baligh. Mazhab Syafi’I dan Hanbali mengatakan bahwa usia baligh 15 tahun. Ulama hanafiah mengatakan usia baligh perempuan adalah 17 atau 18 tahun.

Baca Juga :  Usia Ideal Menikah

Diskusi mengenai hukum perkawinan dini dalam kitab fikih sering dikaitkan dengan boleh tidaknya wali menikahkan anak di bawah usia 9 tahun atau yang belum baligh. Sebagian mengatakan mengatakan boleh. Pendapat kedua datang dari mazhab syafi’i yang mengatakan disunnahkan untuk tidak menikahkan anak di bawah usia sembilan tahun. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tidak boleh walinya menikahkan anak di bawah usia Sembilan tahun.

Lantas bagaimana jika orang tua atau wali lainnya menikahkan anaknya. Dikatakan anak tersebut ketika sudah dewasa dapat memilih untuk melanjutkan pernikahannya atau tidak.

Imam Sarakhsi dalam kitab mabsut mengatakan bahwa perkawinan adalah akad yang bertujuan untuk menunaikan syahwat dan melanjutkan keturunan. Di sisi lain dikatakan bahwa perkawinan tidak hanya menunaikan syahwat (al-wath’u), tapi adalah ikatan menyatukan (al-dhammu). Sehingga perkawinan tidak musti berhubungan badan.

Di Indonesia misalnya kita mengenal kawin gantung. Setelah akad nikah pengantin tidak melakukan hubungan badan badan sampai dengan waktu tertentu. Sebagaimana halnya yang dilakukan Nabi Saw ketika menikah dengan Aisyah.

Biasanya pemilihan pasangan hanya menyantumkan hadis sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya: Perempuan dinikahi karena empat alasan, yakni karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah agamnya engkau akan merasa tenang.

Hadis di atas adalah perintah Rasulullah Saw untuk memilih karena kepentingan moral. Namun sering dilupakan hadis lain yang mengatakan bahwa

تَزَوَّجُوا الْوَدُود الْوَلُود

Artinya: Nikahi kalianlah seorang yang mencintai kalian dan yang subur (banyak keturunan)

Hadis ini menunjukkan bahwa dalam memilih pasangan harus memiliki kesiapan mental. Setiap pasangan harus saling mencintai. Kedua adalah calon mempelai harus subur. Artinya alat reproduksinya telah siap. Dalam ilmu kedokteran usia siap alat reproduksi adalah 20 tahun.

Baca Juga :  Zakat Solusi Mengatasi Kemiskinan

Sebagai penutup pernikahan walau tidak hanya bertujuan untuk hubungan seksual, tetap perlu memperhatikan kesiapan dari alat reproduksi, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.