Bolehkah Makan Anak Lebah untuk Obat?

1
345

BincangSyariah.com – Sebagian masyarakat memiliki keyakinan bahwa anak lebah yang masih ada di sarangnya sangat bermanfaat untuk kesehatan. Mereka umumnya makan anak lebah tersebut dengan tujuan berobat supaya sehat meskipun secara lahir mereka sehat, tidak sakit. Bolehkah makan anak lebah untuk obat?

Pada dasarnya, lebah termasuk hewan yang tidak halal dimakan. Ia digolongkan hewan hasyarat atau hewan serangga yang haram dimakan. Meskipun madunya baik dan halal dikonsumsi, namun untuk lebahnya sendiri tidak boleh dikonsumsi.

Adapun terkait anak lebah, para ulama membaginya ke dalam tiga bagian hukum. Pertama, jika anak lebah tersebut masih di dalam sarangnya dan masih berupa telur, maka boleh dan halal dikonsumsi. Kedua, jika sudah berupa ulat yang sudah ditiupkan ruh, maka tidak boleh dan haram dikonsumsi. Ketiga, jika sudah berbentuk anak lebah, maka tidak boleh dan haram dikonsumsi.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitab Sullamul Munajat berikut;

ما كانت فى بيت العسل أخياف فابتـداؤها بيض النحـل ثم صارت دودا مع الروح ثم ماتت ثم صارت نحلا تطير فهى فى الطور الأول حلال وفى الطور الذى بعـده حرام كما قـرره بعضـهم

“Apa yang terdapat di dalam sarang lebah, maka awalnya ia adalah telur; kemudian menjadi ulat beserta adanya ruh; kemudian mati dan menjadi lebah yang bisa terbang. Pada bentuknya yang awal ia halal, dan pada bentuk yang selanjutnya ia haram sebagaimana telah ditetapkan oleh sebagian ulama.”

Melalui keterangan ini, jika yang dimaksud adalah makan anak lebah yang masih berupa telur, maka halal mengkonsumsinya, meskipun bukan untuk tujuan berobat. Namun, jika sudah berbentuk ulat atau anak lebah, maka haram dikonsumsi tanpa ada tujuan berobat. Tapi jika bertujuan berobat, maka boleh dan halal. Semua hewan yang haram dikonsumsi bisa berubah menjadi halal jika bertujuan untuk berobat. Disebutkan dalam kitab Almuntaqa Syarh Al-Muwaththa’ sebagai berikut;

Baca Juga :  Halalkah Darah Terselip pada Daging Hewan?

قَالَ ابْنُ حَبِيبٍ : كَانَ مَالِكٌ وَغَيْرُهُ يَقُولُ : مَنْ احْتَاجَ إِلَى أَكْلِ شَيْءٍ مِنْ الْخَشَاشِ لِدَوَاءٍ أَوْ غَيْرِهِ فَلَا بَأْسَ بِهِ إِذَا ذُكِّيَ كَمَا يُذَكَّى الْجَرَادُ كَالْخُنْفُسَاءِ وَالْعَقْرَبِ وَبَنَاتِ وَرْدَانَ وَالْعُقْرُبَانِ وَالْجُنْدُبِ وَالزُّنْبُورِ وَالْيَعْسُوبِ

“Ibnu Habib berkata: Bahwa Imam Malik dan ulama lainnya mengatakan, ‘Barangsiapa butuh makan serangga untuk obat atau yang lainnya, hukumnya dibolehkan, apabila disembelih sebagaimana menyembelih belalang. Seperti kumbang, kalajengking, kecoa, kalajengking jantan, tawon tabuhan, dan capung.”

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here