Bolehkah Langsung Menguburkan Jenazah Covid-19 Tanpa Memandikannya?

2
2102

BincangSyariah.Com – Manusia merupakan makhluk yang mulia. Karena itu dalam Islam, dianjurkan agar menjaga kemuliaan tersebut salah satunya tercermin dalam tata cara memandikan, mengkafani dan menguburkan jenazah orang tersebut saat telah meninggal.

Namun dalam beberapa kondisi terkadang hal ini sulit diterapkan, seperti jika menerapkannya pada jenazah pasien covid-19, yang jika dilakukan dengan standar normal diduga menimbulkan bahaya bagi yang hidup, yaitu penularan virus. Pertanyaannya bolehkah tidak memandikan, mengkafani, dan menyolatinya jenazah Covid-19, tapi langsung  mengkuburkannya saja?

Dalam Islam, jenazah yang boleh tidak dimandikan dan dikafani tapi langsung dikuburkan adalah orang yang meninggal karena syahid di jalan Allah. Sebagaimana dalam hadis riwayat Jabir ra. Ia mengatakan,

وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ فِي دِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُغَسَّلُوا، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ

“Nabi saw. memerintahkan agar memakamkan mereka bersama dengan darah mereka, tidak dimandikan dan tidak dishalatkan. (HR. Bukhari)

Pasien yang meninggal akibat virus Covid-19 dapat dikatagorikan sebagai syahid. Sebab Covid-19 termasuk merupakan wabah (tho’un). Para ulama sepakat bahwa seseorang yang meninggal karena wabah penyakit adalah syahid berdasarkan hadis berikut ini

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما تعدون الشهداء فيكم? قالوا : يا رسول الله, من قتل في سبيل الله فهو شهيد. قال إن شهداء أمتي إذا لقليل! قالوا: فمن هم يا رسول الله? قال من قتل في سبيل الله فهو شهيد, ومن مات في سبيل الله فهو شهيد, ومن مات في الطاعون فهو شهيد, ومن مات في البطن فهو شهيد, والغريق شهيد .رواه مسلم

“Rasulullah Saw. bertanya (kepada sahabatnya): ‘Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?’ Mereka menjawab: ‘Orang yang gugur di medan perang itulah syahid ya Rasulullah,’. Rasulullah Saw bersabda: ‘Kalau begitu, sedikit sekali umatku yang mati syahid.’ Para sahabat bertanya: ‘Mereka itu siapa ya Rasul? ’Jawab Rasulullah Saw: ‘Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, orang yang mati karena sakit perut juga syahid, dan orang yang tenggelam adalah syahid” (HR Muslim).

Jadi berdasarkan hadis ini, kedudukan mati syahid tidak hanya didapat oleh mereka yang gugur di medan perang. Mereka yang meninggal karena wabah penyakit juga dapat meraih kedudukan syahid. Jadi apakah boleh tidak memandikan, mengkafani dan menshalati jenazah Covid 19?

Perlu diketahui syahid selain meninggal di jalan Allah, adalah shahid secara status bukan hakiki. Selain itu, redaksi hadis yang mengatakan kebolehan langsung menguburkan jenazah syahid, hanya riwayat yang menjelaskan untuk jenazah yang meninggal karena perang. Karena itu, orang yang meninggal karena wabah masih tetap wajib dimandikan, dipakaikan kain kafan dan dishalatkan.

Hal ini dijelaskan oleh Badr al-Din al- ‘Aini dalam ‘Umdatul Qari’ saat menjelaskan hadis tersebut, dengan redaksi penjelasan berikut ini

فهم شُهَدَاء حكما لَا حَقِيقَة، وَهَذَا فضل من الله تَعَالَى لهَذِهِ الْأمة بِأَن جعل مَا جرى عَلَيْهِم تمحيصاً لذنوبهم وَزِيَادَة فِي أجرهم بَلغهُمْ بهَا دَرَجَات الشُّهَدَاء الْحَقِيقِيَّة ومراتبهم، فَلهَذَا يغسلون وَيعْمل بهم مَا يعْمل بِسَائِر أموات الْمُسلمين

“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.”

Perlu diketahui memandikan, mengkafani dan menshalati jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah, yakni jika telah dilakukan oleh sebagian lainnya maka gugur kewajiban yang lain. Apalagi karena Virus Covid-19 termasuk pandemic yang berbahaya dan tingkat penularannya tinggi maka proses memandikan, mengkafani dan menshalatinya harus sesuai dengan saran tenaga medis. Seperti dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan lain sebagainya, agar virus tidak membahayakan orang yang masih hidup.

Namun, jika memandikannya masih dinilai berbahaya maka boleh dengan tayammum. Tapi jika hal itu juga tidak dapat dilakukan karena dalam kondisi darurat, maka jenazah boleh langsung dikafani dan disholati, tanpa dimandikan atau ditayamumkan. Hal ini menurut hasil Bahstul Masail PBNU pada tanggal 21 Maret 2020.

“Karena kondisi darurat atau sulit tersebut, maka boleh mengambil langkah kemudahan (al-masyaqqoh tajlibut taisir). Dan termasuk bagian dari prinsip ajaran Islam adalah menghilangkan kesulitan,” demikian tertulis dalam hasil bahstul masail yang ditandatangani oleh KH. M. Najib Hassan, Ketua Lembaga Bahstul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Menurut hasil Bahstul Masail tersebut, termasuk katagori kesulitan yang secara umum dapat melepaskan tuntutan suatu ibadah adalah jika kesulitan tersebut teramat sangat seperti khawatir akan menghilangkan keselamatan jiwa, organ, dan fungsi organ. Sebagaimana mengutip pendapat Al-Izzu bin Abdissalam dalam kitab Qawaid al-Ahkam fi Mashalih al-Anam. Berikut redaksinya

الثانى: مشقة تنفك عنها العبادة غالبا وهى أنواع: النوع الأول: مشقة عظيمة قادحة كمشقة الخوف على النفوس والأطراف ومنافع الأطراف فهذه مشقة موجبة للتخفيف والترخيص لأن حفظ المهج والأطراف لإقامة مصالح الدارين أولى من تعريضها للفوات فى عبادة أو عبادات ثم تفوت أمثالها

“(Jenis masyaqoh) Kedua, yakni suatu kesulitan yang secara umum dapat melepaskan tuntutan suatu ibadah. Jenis ini mempunyai beberapa macam. Pertama: kesulitan yang teramat sangat seperti kekhawatiran akan keselamatan jiwa, organ, dan fungsi organ. Kesulitan semacam ini menetapkan keringanan. Karena menjaga keselamatan jiwa dan organ tubuh guna menegakkan kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat itu lebih diprioritaskan daripada mengeksploitasi tubuh demi menjalankan satu ibadah atau beberapa ibadah, namun ibadah lainnya menjadi terbengkalai akibat kerusakan tubuh.”

Wallahu’alam.

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here