Bolehkah Kampanye Politik di Mimbar Khutbah?

2
1158

BincangSyariah.Com –  Akhir-akhir ini penulis sering menemui masjid yang digunakan untuk kampanye politik. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kampanye politik itu dilakukan di atas mimbar khutbah Jumat.

Padahal fungsi utama masjid adalah tempat untuk berjamaah salat dan melakukan ibadah. Selain itu, masjid juga punya kapasitas sebagai ruang publik. Umat Muslim dari berbagai latar belakang, boleh beribadah di masjid. Tidak memandang perbedaan ras dan suku apalagi perbedaan pilihan politik.

Oleh karenanya, sudah sepatutnya masjid dapat mengakomodasi kebutuhan para jamaahnya tanpa terkecuali. Lalu pertanyaannya bolehkah kampanye politik di mimbar khutbah? Apa hukumnya?

Dalam berbagai kitab fikih dari mulai yang dasar seperti Safinat al-Najah dan Fath al-Qarib hingga kitab tingkat lanjut seperti Fath al-Mu’in dijelaskan bahwa rukun melaksanakan khutbah Jumat sedikitnya ada lima: membaca hamdalah, membaca salawat kepada Nabi saw., wasiat takwa, membacakan salah satu ayat al-Quran, dan doa. Jika seluruh rukun khutbah ini sudah terpenuhi, maka khutbah sebagai rangkaian ibadah salat Jumat adalah sah. Oleh karenanya, dalam kacamata fiqih kampanye politik dalam khutbah Jumat bisa dilakukan.

Akan tetapi, agar kualitas ibadah kita semakin meningkat penting memperhatikan aspek berikutnya. Artinya, fiqih sebagai syarat minimal dalam ibadah perlu naik kelas ke tingkat tasawuf.

Ketika kita membaca uraian Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin mengenai adab ibadah Jumat, salah satu kata kunci penting yang dijelaskan adalah menjadikan sepenuhnya hari Jumat untuk akhirat (an yaj’ala yaum al-jum’at lil akhirat). Inilah aspek yang penting diperhatikan oleh umat Islam saat ini di tengah hiruk pikuk politik yang cenderung memecah belah.

Penulis perlu menegaskan di sini bahwa umat Islam perlu membawa misi nilai-nilai yang tidak menaruh kepercayaan penuh pada satu di antara pilihan politik. Karena yang abadi dalam politik adalah kepentingan dan perebutan kekuasaan. Sementara itu, nilai-nilai luhur Islam bersifat universal yang lebih tinggi derajatnya dibanding perebutan kekuasaan dan kepentingan.

Baca Juga :  Pentingnya Kesalehan Sosial

2 KOMENTAR

  1. Demokrasi : kesyirikan sangat bertentangan dgn Islam. Dlm demo’kera’si kekuasaan ada ditangan dan yg membuat hukum2 adalah rakyat melalui wakil rakyat(parlemen) padahal dalam Islam hukum itu hanya milik Alloh dan yg berhak mengatur kehidupan makhluk itu hanya Alloh(sang pencipta makhluk n alam semesta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here