BincangSyariah.Com – Tidak lama lagi umat Islam akan melakasanakan hari raya besar yaitu Iduladha atau hari raya Kurban. Selain ada yang menunaikan rukun Islam kelima ke Mekah, umat Islam diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban (unta, sapi, kambing, dan sebagainya). Pelaksanaannya pun sudah ditentukan, yaitu pada 10 Zulhijjah atau pada hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah).

Segala persiapan menyambut hari raya itu tentu sudah disiapkan. Seperti menyisihkan sebagian uang untuk membeli hewan kurban atau langsung mendaftar ke panitia kurban. Terlepas dari itu, kepada siapa perintah kurban itu ditujukan? Apakah seluruh umat Islam? Atau sebagian umat Islam yang mampu secara ekonomi?

Disyariatkan Berkurban

Kurban pada awalnya merupakan syariat yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS sebagaimana firman Allah:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS ash-Saffat: 107)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk meneruskan syariat tersebut setiap Iduladha atau hari raya Kurban. Hal ini terjadi pada tahun kedua Hijrah. Dalam surah al-Kautsar ayat 2 Allah menerangkan:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah.” (QS al-Kautsar: 2)

Perintah Berkurban

Rasulullah SAW bersabda:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ

“Tidak ada satu amalan yang dikerjakan anak Adam pada hari nahar (hari penyembelihan) yang lebih dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla daripada mengalirkan darah. Sungguh dia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku dan rambutnya. Sesunggunya darahnya akan sampai kepada Allah ‘azza wa jalla sebelum jatuh ke tanah…” (HR Ibnu Majah dan al-Tirmidzi, beliau menghasankannya)

Baca Juga :  Apakah Menggunakan Obat Tetes Mata Membatalkan Puasa?

Mestinya setiap muslim hendaknya giat untuk memperoleh fadhilah yang besar sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis di atas. Hal ini hendaknya dengan sungguh-sungguh mengusahakan agar mampu mengerjakan ibadah yang agung tersebut. Bagi orang yang mampu agar tidak sengaja meninggalkannya. Nabi SAW bersabda terhadap orang mampu tapi tak mau berkurban dengan keadaan mampu:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan, sedangkan ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat salat kami.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim)

Melihat begitu besarnya imbalan yang dijanjikan, tentu setiap muslim akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Namun bagaimana jika orang yang tidak mampu secara ekonomi tidak bisa melaksanakannya. Tetapi tetap diusahakan dengan mencari pinjaman uang atau berutang. Apakah hal itu dibolehkan?

Berkurban dari Uang Pinjaman

Salah satu prinsip pelaksanaan hukum Islam adalah ‘adamul haraj (tidak menyulitkan). Semua jenis ibadah ada ruang rukhsah (keringanan) dalam aplikasinya, seperti salat dan puasa bagi yang sakit atau berpergian. Ada juga yang disyariatkan berdasarkan kemampuan (kalau mampu), seperti haji, zakat, kurban, nikah dan sejenisnya.

Utang dalam Islam tidak dilarang, halal, boleh, jika memang benar-benar membutuhkannya untuk sesuatu yang wajib, seperti untuk menafkahi keluarga, biaya anak sekolah dan sejenisnya. Tapi sebaiknya dan sedapat mungkin dihindari, terutama untuk hal-hal yang tidak mendesak.

Sesungguhnya berutang untuk membeli hewan kurban pada dasarnya tidak dianjurkan, karena dia tidak termasuk yang memiliki kelapangan dan juga kedudukan utang jauh lebih penting.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin tergantung kepada utangnya sehingga dibayarkan.” (HR Ahmad dan al-Tirmidzi)

Baca Juga :  Alasan Puasa Sunah Diharamkan pada Hari Tasyriq

Utang juga bisa menjadi sebab seseorang terhalang dari masuk surga, diriwayatkan dalam sahih Muslim, ada seseorang datang kepada Nabi SAW, lalu berkata: “Bagaimana menurut Anda, jika aku terbunuh di jalan Allah dalam kondisi sabar, berharap pahala dan maju terus tidak kabur, apakah Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahanku?”

Nabi SAW menjawab, “Ya.” Namun ketika orang tersebut berbalik, Rasulullah SAW memanggilnya atau memerintahkan untuk memanggil dia kembali. Lalu Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang kamu katakan tadi?” Lalu orang tersebut mengulangi pertanyaannya, dan Nabi menjawab, “Ya, kecuali utang, begitulah yang dikatakan Jibril.” (HR Muslim).

Sementara itu, bagi orang yang memiliki jaminan untuk membayarnya seperti gaji tetap atau semisalnya, maka dia dibolehkan berutang dan berkurban. Sementara orang yang tidak memiliki jaminan untuk membayarnya, maka janganlah dia berutang supaya tidak membebankan pada dirinya dengan sesuatu yang tidak diwajibkan seperti kondisinya saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here