Bolehkah Barang Jaminan Utang Diolah Agar Mendapat Keuntungan?

0
680

BincangSyariah.Com – Sudah menjadi kebiasaan banyak orang, setiap kita mau berhutang sesuatu kepada orang lain kita sering diminta untuk memberikan jaminan. Boleh jadi orang yang menghutangkan itu untuk untuk saling menjaga kepercayaan atau hal lain.

Sebenarnya tidak ada larangan bagi seseorang untuk memberikan jaminan atas sebuah hutang bahkan hal pada sebagai syarat untuk memberikan hutang. Namun, kadangkala banyak terjadi di sebagian orang antara jaminan dan hutang tidak sepadan. Ada yang jaminannya lebih tinggi nilainya daripada hutangnya, ada juga yang hutangnya besar tapi jaminannya kecil.

Biasanya fenomena mengambil keuntungan dari sebuah jaminan hutang itu diakibatkan karena ketidakseimbangan antara hutang dan jaminannya. Sehingga hal itu berakibat ada kecemburuan boleh jadi pemberi hutang merasa rugi jika jaminanya tidak dieksploitasi untuk meraup keuntungan.

Lantas bagaimana pandangan ulama tentang seseorang yang berhutang uang (misalkan) dengan memberikan jaminan atau tanggungan sebidang tanah, yang mana hasil tanah tersebut diambil oleh orang yang memberi hutang. Selama hutang tersebut belum dilunasi, maka tanah tersebut masih dikelola oleh pemilik uang (orang yang mengutangi) dan hasilnya tetap diambil olehnya?

Hukumnya haram, karena orang tersebut menghutangi yang bertujuan untuk mengambil manfaat, akan tetapi apabila syarat mengambil keuntungan hasil tanah itu tidak akan dimasukkan dalam aqad (shulbi al-aqdi) maka hukumnya boleh.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anatu at-Thalibin, Juz III, Hlm. 56.

قوله ومن الربا بالقرض) اي ومن ربا القرض وهو كل قرض جر نفعا للمقرض غير نحو رهن لكن لايحرم عندنا إلاّ إذاشرط فى عقد)

“Termasuk riba qordhu yaitu setiap hutang yang menarik keuntungan bagi yang menghutangi selain gadai. Tetapi menurut kita (golongan Syafi’iyah) tidak haram kecuali jika disyaratkan pada waktu akad (maka itu haram)”.

Atas dasar ini, orang yang yang menghutangi tidak boleh (haram) mengambil keuntungan dari barang Jaminan, namun jika itu itu masuk dalam akad (orang yang berhutang mengijinkan mengambil keuntungan kepada yang mengutangi) maka itu boleh-boleh saja alias sah. Namun jika sebelumnya tidak masuk pada akad dan tidak ada kesepakatan, tetapi pemberi hutang diam-diam mengambil keuntungan dari jaminan itu maka keuntungan itu masuk dalam kategori riba riba yang hukumnya haram.

Baca Juga :  Sumbangan Saat Walimah Disebut Hibah atau Hutang?

Praktek seperti di atas banyak terjadi di masyarakat kita. Lebih-lebih bagi masyarakat yang membutuhkan uang dan mendesak sekali sehingga apapun jaminan yang diminta akan dikasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here