Bolehkah Ayah Tiri Menjadi Wali Nikah?

0
1193

BincangSyariah.Com – Apakah ayah tiri termasuk orang yang berhak menjadi wali? Wali dalam pernikahan menduduki posisi yang sangat penting, bahkan menjadi syarat sah nikah. Di dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada pernikahan kecuali dengan seorang wali, dua orang saksi yang adil. Suatu pernikahan yang selain itu (tidak adanya mereka) maka nikahnya batil. Apabila terjadi perselisihan di antara mereka, maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR Ibnu Hibban)

Sementara untuk urutan yang berhak menjadi  wali nikah itu sebagaimana yang dijelaskan Imam Abu Suja’ dalam Matan al-ghayah Taqrib adalah sebagai berikut:

وأولى الولاة الأب ثم الجد أبو الأب ثم الأخ للأب والأم ثم الأخ للأب ثم ابن الأخ للأب والأم ثم ابن الأخ للأب ثم العم ثم ابنه على هذا الترتيب فإذا عدمت العصبات فالحاكم

“Wali paling utama ialah ayah, kakek (ayahnya ayah), saudara lelaki seayah seibu (kandung), saudara lelaki seayah, anak lelaki saudara lelaki seayah seibu (kandung), anak lelaki saudara lelaki seayah, paman dari pihak ayah, dan anak lelaki paman dari pihak ayah. Demikianlah urutannya. Apabila tidak ada waris ashabah, maka hakim.”

Karena begitu pentingnya, sehingga yang berhak menjadi wali nikah juga tidak sembarangan. Ada urutan tertentu yang harus dipatuhi. Ayah tiri tidaklah termasuk di dalam urutan perwalian meskipun dirinya membantu ibunya dalam mengurus wanita itu sejak kecil hingga dewasa. Begitu juga dengan saudara-saudara laki-lakinya yang non muslim maka mereka tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi wali darinya. Karena di antara syarat seorang wali adalah beragama islam, sebagaimana firman Allah SWT:

Baca Juga :  Menjawab Tudingan Nasionalisme Pecah Belah Umat Islam

وَلَن يَجْعَلَ اللّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS an-Nisa’: 141)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (QS an-Nisa’: 144)

Meski ayah tiri tidak ada urutan dalam perwalian, namun ia masih bisa menjadi wali nikah dengan cara mewakilkan (tawkil). Artinya, wali asli dari wanita tersebut mewakilkan perwaliannya kepada ayah tiri si wanita tersebut.

Terkait dengan mewakilkan perwalian tersebut, ada syarat yang harus dipenuhi. Sebagaimana penjelasan Abu Hasan Ali al-Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir:

فَأَمَّا تَوْكِيلُ الْوَلِيِّ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُوَكِّلَ فِيهِ إِلَّا مَنْ يَصِحُّ أَنْ يَكُونَ وَلِيًّا فِيهِ وَهُوَ أَنْ يَكُونَ ذَكَرًا بالغاً حراً مسلماً رشيداً فإذا اجتمعت هَذِهِ الْأَوْصَاف صَحَّ تَوْكِيلُهُ    

“Adapun mewakilkan perwalian, hal tersebut tidak diperbolehkan kecuali seseorang yang memenuhi persyaratan yakni: lelaki, baligh, merdeka, muslim, dan pintar. Jika syarat tersebut terkumpul maka sah mewakilannya.”

Hal yang menjadi perhatian adalah saat mewakilkan perwalian tersebut harus dilakukan dengan kalimat serah terima yang sah menurut syariat. Ini juga berlaku selain ayah tiri, seperti ayah angkat ataupun lainnya. Namun, perlu benar-benar diingat bahwa mewakilkan wali ini dilakukan atas dasar serah terima, sehingga keberadaan pihak yang mewakilkan mesti benar adanya.

Jika wali yang asli tidak ada, seperti meninggal dunia atau sebab lainnya. Maka yang berhak menjadi wali nikah itu adalah hakim. Atau lembaga yang ditunjuk pemerintah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here