Bolehkah Amplop Khitanan Anak Dipakai Orangtua?

0
147

BincangSyariah.Com – Khitanan anak yang dirayakan dengan pesta atau selamatan biasanya mengundang sanak-famili untuk datang menghadiri acara berbahagia tersebut. Sebagaimana tradisi di beberapa daerah, para tamu undangan yang datang terkadang membawa amplop berisi uang atau hadiah lain untuk anak yang dikhitan. Apakah uang atau hadiah tersebut boleh dipakai oleh orangtua si anak tersebut?

Syekh Abu Bakar Syatha dalam I‘anatut Thalibin menjelaskan permasalahan tersebut sebagai berikut.

الهدايا المحمولة عند الختان ملك للاب، وقال جمع: للابن. فعليه يلزم الاب قبولها، ومحل الخلاف إذا أطلق المهدي فلم يقصد واحدا منهما، وإلا فهي لمن قصده، اتفاقا.

Hadiah yang dibawa saat acara khitanan itu hak bapak. Namun ada sebagian ulama yang berpendapat, hadiah itu untuk anak. Tapi bapaknya wajib menerima hadiah tersebut. Perbedaan pendapat itu terjadi jika orang yang memberi hadiah itu tidak menyebutkan pemberian hadiah itu buat bapak atau anaknya. Jika pemberi hadiah itu menyebutkan hadiah tersebut untuk yang dituju (anaknya, misal), maka hadiah itu untuk anak. Ini berdasarkan kesepakatan ulama.

Penjelasan ini mengindikasikan bahwa pemberian hadiah saat ada pesta khitanan itu bersifat kondisional boleh digunakan untuk orangtua atau anak. Biasanya amplop dalam acara pesta dipisahkan antara yang buat anak atau buat orangtuanya. Bila amplop yang dimasukkan itu di kotak orangtua, maka uang tersebut milik orangtua anak tersebut. Tapi sebaliknya, amplop yang ditempatkan di kotak milik anak, maka itu adalah miliknya. Hadiah yang diberikan berupa mainan tentu itu milik anak tersebut, karena tidak mungkin seseorang memberikan hadiah mainan ditujukan untuk bapak atau ibu anak tersebut.

Selain itu, Syekh Abu Bakar Syataha memperingatkan bagi orangtua anak yang bekerja sebagai hakim atau pejabat pemerintah untuk tidak mudah menerimah hadiah dalam acara khitanan anak.

Baca Juga :  Orang Tua Meninggal dalam Keadaan Marah, Apakah Anak Bisa Mendapatkan Ridhanya?

ومنه قصد التقرب للأب وهو نحو قاض، فيمتنع عليه القبول.

Termasuk hal yang berhaya adalah pemberian hadiah (khitanan) untuk tujuan mengambil hati bapak (anak yang khitan) yang menjabat sebagai hakim. Ini bagi bapak yang berprofesi hakim tersebut tidak boleh menerimanya.  

Ini merupakan sikap kehati-hatian agar seorang hakim tidak menerima gratifikasi dari orang yang memang ingin memanfaatkannya untuk meloloskan masalah hukum yang sedang menjerat orang tersebut. Wallahualam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here