Bolehkah Ahli Maksiat Melarang Orang Lain Melakukan Kemaksiatan?

2
261

BincangSyariah.Com – Dalam keseharian sering kita melihat orang yang berbuat kebajikan menjalankan perintah Allah, dan sebaliknya tidak sedikit pula kita melihat orang berbuat kemungkaran, bahkan sudah terang-terangan di tempat umum tanpa ada rasa malu. Apabila kita melihat secara kasat mata orang berbuat maksiat, kita dianjurkan untuk mencegah-Nya bila kita merasa mampu, minimal inkar dalam hati.

Imam Al-Nawawi dalam kitab Syarh Al-Nawawi ‘Ala Muslim (juz 2 hlm. 22) menyatakan bahwa para ulama tidak mensyaratkan di dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar itu harus orang yang sempurna dalam sikap melaksanakan perintah dan menjahui larangan Allah. Siapa pun masih berkewajiban untuk memerintah (kebajikan) kendati ia melalaikan perintah dan melakukan larangan. Maka ia berkewajiban dua hal, yakni memerintahkan diri sendiri (menuju kebajikan) dan menjahui larangan serta memerintahkan orang lain dan mencegah dari (melakukan) larangan.

Imam Muhammad bin Ahmad bin Salim Al-Hanbali menegaskan dalam kitab Ghoda’ul Albab Syarh Mandhumatil Adab, Juz,1 Hlm. 170

وقيل للحسن البصري : إن فلانا لا يعظ ويقول أخاف أن أقول ما لا أفعل . فقال الحسن : وأينا يفعل ما يقول ؟ ود الشيطان أنه قد ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف ولم ينه عن منكر .

Ada seseorang yang berkata kepada Imam Hasan Al- Bashri “Sesungguhnya ada seseorang yang tidak mau memberikan nasehat dan ia berkata ‘Saya takut mengucapkan hal-hal yang tidak saya laksanakan’’. Lalu Imam Hasan Al-Bashri berkata “Apakah ia harus melakukan yang ia katakan? Setan menyukai dan memperdaya dengan ini, maka tidak ada seseorang yang memerintah kebajikan dan melarang dari kemungkaran” .

والحاصل أنه يجب على كل مؤمن مع الشروط المتقدمة الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ولو فاسقا أو بغير إذن ولي أمر حتى على جلسائه وشركائه في المعصية وعلى نفسه فينكر عليها ، لأن الناس مكلفون بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر .

Baca Juga :  Status Hukum Air Liur Binatang Ternak, Najis Atau Tidak?

Walhasil, pada intinya wajib bagi setiap orang mukmin dengan syarat-syarat terdahulu untuk memerintahkan kebajikan dan melarang dari kemungkaran walaupun ia fasiq atau tanpa izin dari pemimpin kepada teman-teman duduk dan sekutunya dalam kemaksiatan, karena setiap manusia dibebani tanggung jawab untuk amar makruf dan nahi mungkar.

Mencegah kemungkaran tidak harus menunggu perbaikan diri, justru kalau kita  membiarkan kemungkaran terjadi di mana-mana imbas dari kemungkaran tersebut akan kita rasakan, karena Allah akan menurunkan adzab-Nya bila manusia banyak berbuat maksiat di muka bumi.

Pada suatu saat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِى أُمَّتِى عَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ

Apabila kemaksiatan telah merajalela di kalangan umatku maka Allah meratakan azab kepada mereka semua dari sisi-Nya” (HR. Ahmad)

Wallahu A’lam Bissawab

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dosa dan maksiat, termasuk diri kita sendiri. Namun adakalanya, seseorang melakukan kesalahan, dosa dan maksiat secara terang-terangan sehingga kita bisa melihatnya, dan adakalanya melakukannya secara sembunyi sehingga tidak terlihat oleh kita. (Baca: Bolehkah Ahli Maksiat Melarang Orang Lain Melakukan Kemaksiatan?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here