Banyak Dikaitkan dengan Covid-19, Kapan Bintang Tsurayya itu Muncul?

1
1153

BincangSyariah.Com – Bintang Tsurayya akhir-akhir ini menjadi populer karena banyak dikaitkan dengan musibah pandemi covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini. Banyak postingan di media sosial yang memprediksi pandemi ini akan berakhir ketika bintang Tsurayya ini terbit.

Bahkan di antaranya juga mengutip hadis-hadis Nabi Muhammad untuk menguatkan berakhirnya wabah dengan terbitnya bintang Tsurayya. Namun pendapat ini kemudian dibantah oleh beberapa ahli dari lembaga fatwa Mesir. Menurut para ulama dari lembaga ini, hadis tentang bintang Tsurayya bukan ditujukan untuk wabah, melainkan berlaku untuk pedoman dalam bercocok tanam.

Terlepas dari itu semua, bintang Tsurayya sendiri jika dilihat dari sudut pandang astronomi sebenarnya bukan merupakan satu bintang tunggal, melainkan suatu gugusan bintang terbuka (open star cluster) yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan bintang yang sudah diketahui. Dari sekian banyak bintang yang terdapat dalam gugusan ini, hanya sekitar 7 atau 9 bintang saja yang dapat terlihat jelas dengan mata telanjang. Meskipun terdiri dari banyak bintang, gugusan bintang Tsurayya ini bukan merupakan rasi bintang, melainkan suatu asterism atau salah satu bagian dari rasi bintang Taurus atau dalam bahasa Arab disebut dengan buruj al-tsaur.

Gugusan bintang Tsurayya ini terletak pada jarak sekitar 440 tahun cahaya dari posisi kita. Artinya jika kita ingin sampai ke bintang tersebut, maka butuh waktu sekitar 440 tahun untuk mencapainya dengan menggunakan kendaraan yang mempunyai kecepatan setara dengan kecepatan cahaya. Meskipun dengan jarak yang sangat jauh tersebut, beberapa bintang dalam gugusan ini dapat dengan jelas dilihat dengan mata telanjang karena ukurannya yang besar dan kecemerlangannya yang kuat.

Kecermelangan gugusan bintang Tsurayya membuatnya begitu mudah untuk dilihat sehingga menjadikannya sangat dikenal di berbagai penjuru dunia. Dalam dunia astronomi barat, bintang Tsurayya ini dikenal dengan nama Pleiades. Tujuh bintang utamanya dikenal dengan nama Alcyone, Celaeno, Electra, Maia, Merope, Taygeta, dan Sterope, sementara untuk dua bintang lainnya adalah Atlas dan Pleione. Dalam mitologi Yunani, Atlas dan Pleione ini merupakan orang tua dari tujuh bintang utama dari Pleideas yang merupakan putri-putri mereka. Selain dikenal dengan Pleaides, bintang ini juga dikenal dengan sebutan Seven Sisters. Dalam katalog Messier, Tsurayya ini berada dalam urutan yang ke-45, sehingga para astronom juga menyebutnya dengan M45 (Messier 45).

Baca Juga :  Gus Mus: Saat Ini Kesempatan Dokter Berdakwah ke Mereka yang Anggap ini Pandemi Abal-Abal

Di Jepang, bintang ini dikenal dengan nama Subaru. Sementara di Babilonia bintang ini disebut dengan Mul. Di Jawa sendiri, bintang Tsurayya ini dikenal dengan sebutan Lintang Kartika yang artinya bintangnya bintang. Penamaan ini menunjukan betapa istimewanya bintang ini bagi masyarakat Jawa. Bahkan beberapa kebudayaan masyarakat Jawa ini tidak terlepas dari Lintang Kartika. Dalam legenda Jaka Tarub misalnya, tujuh bintang utama dari gugusan bintang Tsurayya ini dihubungkan dengan tujuh bidadari yang turun dari Kahyangan untuk mandi di Bumi. Sementara dalam tari bedhaya ketawang yang dibawakan oleh tujuh penari ini juga melambangkan tujuh bintang utama dari Lintang Kartika tersebut.

Selain dihubungkan dengan legenda Jaka Tarub, bintang Tsurayya atau Lintang Kartika ini begitu istimewa bagi masyarakat Jawa karena biasa digunakan juga sebagai pedoman dalam pertanian. Apabila posisi Lintang Kartika ini sudah tinggi, itu berarti sudah masuk dalam Mangsa Kapitu (masa ketujuh) dalam kalender Pranata Mangsa. Pada Mangsa Kapitu ini, para petani mulai memindahkan bibit padi dari lahan pembibitan ke lahan utama untuk selanjutnya ditanam di lahan utama tersebut.

Mangsa Kapitu dalam kalender Pranata Mangsa ini terjadi pada bulan pertengahan Desember hingga Februari dimana pada waktu tersebut lintang Kartika memang mempunyai posisi yang mudah untuk diamati. Ketika pertengahan bulan Desember misalnya, Lintang Kartika mulai terbit di ufuk timur sekitar pukul 15.30 sehingga ketika Matahari terbenam posisinya sudah tinggi dan terlihat jelas di langit malam. Semakin hari berganti, terbitnya Lintang Kartika atau bintang Tsurayya ini akan semakin pagi hingga pada akhir Februari atau akhir mangsa kapitu ini bintang Tsurayya terbit sekitar pukul 11.00.

Setelah bulan Februari berakhir, waktu untuk mengamati bintang Tsurayya selepas terbenamnya Matahari ini akan semakin singkat karena terbitnya yang semakin pagi. Bahkan pada pertengahan Mei, bintang Surayya ini sudah tidak bisa diamati ketika Matahari terbenam karena bintang Tsurayya juga ikut terbenam pada waktu-waktu tersebut.

Baca Juga :  Sikap Umar bin al-Khattab Saat Menghadapi Wabah

Untuk bisa melihat bintang Tsurayya lagi setelah pertengahan Mei ini, maka pengamatannya bukan lagi mengarah ke ufuk barat selepas Matahari terbenam, melainkan harus menghadap ke ufuk timur dan dilakukan selepas terbitnya fajar atau sebelum terbitnya Matahari.

Pada saat tersebut bintang Tsurayya akan terbit terlebih dahulu dari pada Matahari. Karena lebih dahulu terbit, bintang Tsurayya ini menjadi bisa diamati karena cahaya Mataharinya belum begitu kuat untuk mengalahkan cahaya dari bintang Tsurayya.

Waktu ketika bintang Tsurayya terbit pada saat fajar inilah yang banyak disebut-sebut sebagai pertanda diangkatnya wabah penyakit sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis yang sudah banyak dikutip dalam postingan-postingan di berbagai media.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here