Apakah Biaya Operasional Pertanian Mempengaruhi Kadar Zakat?

0
1181

BincangSyariah.Com – Di antara jenis benda yang wajib dizakati adalah tanaman (hasil bumi) atau biji-bijian dan buah-buahan. Dalam surah Al-An’am 141 Allah berfirman:

كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah dan tunaikanlah haqnya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya) dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Dan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (Baca: Menurut Imam Abu Hanifah, Semua Komoditas Agraria Mesti Dizakati)

Kewajiban zakat dari hasil bumi memiliki aturan tersendiri dalam agama. Secara garis besar, kadar zakat yang dikeluarkan harus dihitung dari hasil panen tanpa terlebih dahulu mengurangi biaya operasional mulai pupuk, tenaga kerja dan lain sebagainya. Sebab yang dapat mengurangi kadar zakat dari 10% menjadi 5% hanya biaya pengairan. Sebagaimana dalam sabda Nabi saw.:

فيما سقت السماء والعيون أو كان عثريا العشر وما سقي بالنضح نصف العشر

“ Tanaman yang pengairanya dengan air hujan dan mata air, atau menghisap air dengan akarya maka sepersepuluh (10%), dan tanaman yang pengairanya dengan menimba air menggunakan unta (mengeluarkan biaya) adalah seperduapuluh (5%)” (HR Bukhari).

Dalam Tarsyih al-Mustafidin (vol.147) disampaikan:

قوله ومؤنة الحصاد والدياسة على المالك أي مالك الزرع وعبارة شرح المنهج ومؤنة حذار الثمر وتجفيفه وحصاد الحب وتصفيته من خالص مال المالك لا يحسب شيئ منها من مال الزكاة اهـ

“Biaya panen dan pengolahan lahan dibebankan atas pemilik tanaman. Sementara biaya pemeliharaan buah serta pengeringannya, biaya panen biji dan pembersihanya diambilkan dari harta pemilik tanaman dan tidak dihitung dari harta zakat.”

Dari pemaparan di atas, ulama Syafi’iyah menetapkan bahwa biaya operasional selain air tidak dapat mengurangi kadar zakat, dan kadar zakat dihitung dari hasil panen tanpa terkecuali.

Ulama lain seperti madzhab Hanbali lebih ringan dengan berpendapat bahwa diperbolehkan mempergunakan hasil panen (termasuk untuk kebutuhan makan) sebelum menentukan dan menghitung kadar zakat yang harus dikeluarkan. Dalam arti kadar zakat yang dikeluarkan adalah persentase dari sisa panen setelah digunakan untuk kebutuhan. Tarsyih al-Mustafidin menampilkan:

في التحفة وإذا زادت المشقة في التزام مذهبنا فلا عيب على المتخلص بتقليد مذهب آخر كمذهب أحمد فإنه يجيز التصرف قبل الخرص والتضمين وأن يأكل هو وعياله على العادة ولا يحسب عليه وكذا ما يهديه منه في آوانه اهـ أي ويزكى الفاضل إن بلغ نصابا. ح ل ع

“Dalam Tuhfah dijelaskan ketika bertambah berat dalam menetapi mazhab kami (syafi’iyah), maka tidak ada cela bertaqlid dengan madzhab lain seperti imam ahmad bin hanbal karena sesungguhnya memperbolehkan tasharruf (membelanjakan hasil panen) sebelum menghitung (kadar zakatnya) serta pemilik harta zakat dan keluarga (diperkenankan) memakan hasil panen sesuai kebiasaan dan tidak dihitung (dalam penghitungan zakat), dan sisa dari pembelanjaan dan makan harus dizakati bila mencapai nishob (kadar wajib zakat)”

Pendapat lain yang mengatakan prosentase zakat dihitung dari hasil panen setelah mengurangi biaya penanaman dan perawatan adalah pendapat imam Atha dan Ibnu Arabi. Dalam Fiqhu al-Zakat vol.394 disampaikan:

وعن عطاء أنه يسقط مما أصاب النفقة فإن بقي مقدار ما فيه الزكاة زكي وإلا فلا-الى أن قال- فقال اختلف قول علماءنا هل تحط المؤنة من المال المزكي وحينئذ تجب الزكاة أي فى الصافي- إلى أن قال -؟ فذهب إلى أن الصحيح أن تحط وترفع من الحاصل وان الباقي هو الذي يؤخذ عشره واستدل لذلك لحديث النبي صلى الله عليه وسلم (دعوا الثلث او الربع) وأن الثلث أو الربع يعادل قدر المؤنة تقريبا

Dari ‘Atho sesungguhnya harta yang harus dizakati dikurangi dengan biaya perawatan, kemudian bila tersisa kadar yang wajib dizakati maka wajib mengeluarkan zakat, begitu juga sebaliknya. Kemudian berkata (Ibnu Arabi) ulama berselisih apakah biaya operasional diambilkan dari harta zakat (hasil panen) dan wajib zakat dalam jumlah bersih?

Pendapat yang shahih (kuat) biaya operasional dihitung dari harta zakat dan sisanya diambil sepersepuluh (kadar zakat). Dan ketentuan tersebut berpijak pada Hadis Nabi saw. “Tinggalkan sepertiga atau seperempat.” Sepertiga atau seperempat adalah perkiraan biaya operasional secara perkiraan. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here