Bertani di Masa Pandemi dan Anjuran Bercocok Tanam dalam Islam

0
649

BincangSyariah.Com – Ada dua aktivitas yang meningkat tajam di masa pandemi Covid-19. Pertama, bersepeda. Kedua, bertani. Pandemi Covid-19 membuat pertanian kota semakin digemari. Banyak orang mencoba menanam sendiri sayurannya. Ada yang menanam di pekarangan, teras, dinding, bahkan atap rumah.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan gangguan pasokan makanan menjadi alasan utama masyarakat untuk belajar dan mencoba memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Adalah tugas manusia sebagai hamba Allah Swt. di muka bumi untuk mengelola tata letak lahan yang mempertimbangkan keseimbangan alam dengan bercocok tanam. (Baca: Ayat-ayat Anjuran Bertani)

Pertanian adalah kegiatan biologis yang dilakukan di atas sebidang tanah yang bertujuan untuk menghasilkan tanaman. Hasil tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup umat manusia dengan tidak merusak lingkungan agar keberlanjutan hidup tetap bisa terjaga. Pengelolaan pertanian pada dasarnya telah diajarkan Islam sejak ribuan tahun yang lalu.

Islam telah mengajarkan kepada manusia bahwa pemanfaatan sumber daya alam yang ada di bumi bisa dilakukan secara efektif. Hal ini berarti bahwa pengelolaan pertanian mesti didasarkan pada kebijaksanaan dan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yakni Allah Swt.

Tapi pada kenyataannya, banyak sekali manusia yang melakukan kerusakan terhadap alam. Padahal, agar bisa tetap hidup, manusia mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap alam. Banyak yang bertani atau bercocok tanam dengan menggunakan bahan kimia berbahaya yang justru merusak alam.

Seorang ulama besar Mesir bernama Syaikh Thanthawi Jauhari dalam kitab Al-Jawahir fi Tafsir Al-Quran Al Karim menyatakan bahwa terdapat 750 ayat yang menceritakan tentang ilmu sains yang di dalamnya memuat tentang pertanian. Ayat tentang lahan pertananian ini menjadi sangat penting bagi manusia. Ayat-ayat tersbeut adalah bukti bahwa Allah Swt. amat menganjurkan manusia untuk bertani.

Baca Juga :  Agar Tidak Malas, Kekanglah Nafsumu

Salah satu tujuan membangun kemajuan pertanian adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang sangat bergantung pada hasil alam. Tapi, meskipun alam diciptakan untuk manusia, bukan berarti manusia bisa bersikap semena-mena terhadap pengelolaan alam. Oleh sebab itu, dibutuhkan ilmu dan pemahaman utuh yang Allah Swt. telah ajarkan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Rasulullah Saw. bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ رواه البخاري

Artinya: “Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau bertani kemudian burung, manusia atau pun binatang ternak memakan hasilnya, kecuali semua itu merupakan sedekah baginya.” (H.R. Bukhari)

Bercocok tanam atau pertanian juga menjadi anjuran Nabi Muhammad Saw. sebab bernilai jariyah bagi pelakunya. Hadis lain riwayat Ahmad (12512) menyebutkan, “Jikapun kiamat datang, lalu di tangan seorang Muslim tergenggam sebatang tunas tanaman, maka hendaklah ia menanamnya selagi sempat, karena demikian itu terhitung pahala baginya.”

Melalui hadis tersebut, Al-Qur’an dan amanat Nabi Muhammad Saw. menegaskan bahwa pertanian sangat penting bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Kebutuhan manusia atas makanan adalah hal yang wajib yang tak bisa tunda. Makanan adalah kebutuhan primer manusia.

Perlu digarisbawahi juga bahwa ukuran kemakmuran suatu bangsa dinilai atas pemenuhan terhadap kebutuhan dasar warganya, dan yang paling utama ialah pangan. Tidak mungkin jika dalam sebuah negara yang masih ditemukan kasus kelaparan atau kekurangan bahan makanan disebut negara makmur. Meski sebuah negara telah mencapai kemajuan dalam pembangunan di berbagai bidang, kelaparan adalah salah satu indikator ketidakmakmuran.

Inilah yang mestinya dijiwai oleh setiap Muslim bahwa pertanian selain berdimensi duniawi, ada pula jaminan yang berdampak ukhrawi sebab ada kemanfaatan yang bernilai jariyah dan terhitung pahala.

Baca Juga :  Terkait Putusan MK, Ini Petunjuk Hadis Nabi dalam Menyikapi Keputusan Hakim

Dikisahkan pula bahwa para sahabat Nabi Muhammad Saw. adalah orang-orang yang sangat perduli dengan bercocok tanam. Sesibuk apapun sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw. seperti Utsman bin Affan, Abu Darda, Abdurrahman bin Auf dan banyak sahabat yang lain, tapi mereka masih menyempatkan waktu berkebun sebagaimana diriwayatkan dalam banyak atsar.

Salah satu kisahnya termaktub dalam al-Taratib al-Idariyyah karya Abdul Hayyi al-Kattani, suatu kali Abu Hurairah ditanya tentang integritas (muru’ah), beliau menjawab, “Taqwa kepada Allah Swt. dan berkebun.”

Maka dari itu, bertani di masa pandemi Covid-19 sangatlah bagus sebab selain mendapat manfaat untuk dikonsumsi sehari-hari, kita juga telah mengikuti anjuran Nabi Muhammad saw. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa meladani beliau.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here