Bertabaruk di Makam Nabi

0
261

BincangSyariah.Com – Syaikh Yûsuf ibn Isma’îl an-Nabhânî ra. yang pernah ditemui oleh Malaikat Jibril as. dalam mimpinya ketika berada di Madinah al-Munawwarah pada malam Kamis 14 Rabiul Awal 1331 H., sebagaimana disebutkan dalam kitabnya, ad-Dilâlât al-Wâḍiḥât ‘alâ Dalâil al-Khairât wa Syawâriq al-Anwâr (2007: 31), menyebutkan sabda Nabi Muhammad saw. dalam kitabnya, al-Faḍâ’il al-Muḥammdiyah (1994: 233), yang berbunyi; “barang siapa menunaikan ibadah haji dan berziarah ke kuburanku setelah aku meninggal, maka dia seperti berziarah (berkunjung) kepadaku dalam keadaan hidup,” dan “barang siapa menunaikan haji ke Baitullah dan tidak ziarah ke kuburanku, maka dia berpaling dariku,” serta “barang siapa berziarah kepada kuburanku, maka wajib baginya syafaat(pertolongan)ku.”

Sehingga para Imam Mujtahid dari empat mazhab (Ḥanafî, Mâlikî, Syâfi’î, dan Ḥanbalî), menurut Syaikh Yûsuf an-Nabhânî, berpendapat bahwa ziarah ke makam Nabi saw. merupakan salah satu ketaatan yang paling utama dan kedekatan yang paling mulia yang telah disepakati oleh seluruh umat Muhammad, baik dari generasi awal maupun generasi akhir. Oleh karena itu, Syaikh Muḥammad Ḥasbullah mengatakan dalam kitabnya, ar-Riyâḍ al-Badî’ah fî Uṣûl ad-Dîn wa Ba’ḍ Furû’ asy-Syarî’ah (hlm. 86), bahwa ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. merupakan sunnah muakkad (sunah Rasul yang dikokohkan/ditekankan) bagi setiap umat Islam, terlebih lagi kepada orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Siapa saja yang tidak melaksanakannya dalam keadaan luang dan mampu, maka dia berada dalam penyesalan yang besar dan tercegah dari kebaikan yang banyak. Sementara bagi orang-orang yang mengingkarinya, maka dia berada dalam kesesatan yang besar dan kerugian yang nyata. Bahkan Syaikh Yûsuf an-Nabhânî menyebutkan satu pendapat yang mewajibkan umat Islam ziarah ke makam Nabi saw.

Baca Juga :  Adab-adab Berziarah ke Makam Nabi Saw.

Keutamaan ziarah ke makam Nabi saw., menurut Imam Muḥammad Nawawî al-Jâwî dalam aś-Śimâr al-Yâni’ah fî ar-Riyâḍ al-Badî’ah (hlm. 86), berkaitan dengan firman Allah yang berbunyi, “dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (an-Nisâ’: 64),” di mana pertolongan Nabi Muhammad saw. ini tidak terputus meskipun sudah wafat.

Oleh karena itu, Syaikh Muḥammad Ḥasbullah menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki keinginan berziarah ke makam Nabi saw. untuk memperbanyak membaca salawat dan salam kepada Rasulullah saw. dan lebih memperbanyak lagi setelah menginjakkan kakinya di bumi Madinah.

Dengan demikian, para Sarkub (sarjana kuburan), istilah Guru Besar Sarkub, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Allâh Yarḥamhu, boleh bertawasul kepada Nabi Muhammad saw., keluarganya, para Nabi, dan para Aulia. Bahkan ia disunahkan, sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Muḥammad ibn ‘Alawî al-Mâlikî dalam az-Ziyârah an-Nabawiyyah fî Ḍaw’i al-Kitâb wa as-Sunnah (2003: 182). Hal ini berdasarkan pemahaman firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya (al-Mâidah: 35).” Wasilah (sarana) ini bisa ditempuh oleh seseorang dengan tawasul kepada sesuatu yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah, baik melalui perbuatan maupun orang-orang yang memiliki kedudukan dan kemuliaan di sisi Allah.

Sehingga makna tawasul di sini adalah berdoa dan memohon kepada Allah melalui perantara mereka (Nabi saw., keluarganya dan para Aulia) yang telah dianugerahi kemuliaan oleh Allah dan menghadapkan diri kepada-Nya dengan cara menghormati mereka.

Namun demikian, meskipun seseorang belum bisa ziarah ke makam Nabi saw. atau kepada kekasih Allah lainnya karena keterbatasan dana dan waktu, maka dia bisa bertawasul kepada mereka (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah), baik dengan mengirimkan fatihah, membaca salawat, surat Yasin, maupun tahlil, yang bisa dilakukan di mana pun dia berada.

Baca Juga :  Nabi Tidak Selalu Menganggap Orang Musyrik Sebagai Musuh

Lain pada itu, sungguh sangat beruntung apabila ada umat Islam yang meninggal di Madinah (bukan karena bunuh diri). Tidak lain dan tidak bukan karena Rasulullah saw. akan menjadi saksi dan memberikan syafaat (pertolongan) kepadanya kelak di hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi saw. yang disebutkan oleh Sayyid as-Sâbiq dalam Fiqh as-Sunnah (I: 524).

Sehingga tidak heran kalau sahabat ‘Umar ra. memohon kepada Allah agar nyawanya dicabut ketika berada di Madinah seraya berkata, “Allâhumma Irzuqnî Syahâdata fî Sabîlik wa Ij’al Mawtî fî Ḥarâmi Rasûlik Ṣallâ Allâh ‘alaih wa Sallam (Ya Allah, semoga Engkau menganugerahkan kepadaku persaksian di jalan-Mu dan menjadikan kematianku di tempat suci Rasul-Mu saw.)” wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here