Berpura-pura Menjadi Penyandang Disabilitas untuk Mengemis, Apa Hukumnya?

1
619

BincangSyariah.Com – Di berbagai daerah di Indonesia banyak dijumpai pengemis, terutama di tempat-tempat keramaian, seperti tempat ziarah, pasar dan lainnya. Demi untuk menarik simpati masyarakat, tak jarang para pengemis yang berpura-pura menyandang disabilitas padahal aslinya normal. Misalnya, pura-pura buta, pura-pura tidak punya tangan dan lainnya. Lantas bagaimana hukum menjadi disabilitas untuk menjadi pengemis?

Dalam Islam, berpura-pura menjadi penyandang disabilitas untuk menjadi pengemis adalah haram. Setidaknya dalam tindakan tersebut ada tiga kezaliman, yaitu mengemis, menipu orang lain, dan mengambil hak orang lain dengan cara zalim.

Dalam kitab Nihayatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan sebagai berikut;

ومن اعطي لوصف يظن به كفقر او صلاح او نسب بأن توفرت القرائن انه انما اعطى بهذا القصد اوصرح له المعطي بذلك وهو باطنا بخلافه حرم عليه الاخذ مطلقا ومثله ما لو كان به وصف باطنا لو اطلع عليه المعطي لم يعطه ويجري ذلك في الهدية ايضا على الاوجه ومثلها سائر عقود التبرع فيما يظهر كهبة ووصية ووقف ونذر

“Barangsiapa yang memberi sesuatu sebab adanya sifat yang disangka ada pada dalam diri penerima semisal kefakiran, kesalehan, atau nasab yang diketahui dari beberapa tanda bahwa dia memberikan dengan motif tersebut atau si pemberi menjelaskan motifnya sendiri, sedangkan sesungguhnya tidak demikian, maka haram secara mutlak bagi penerima untuk mengambilnya. Demikian juga kalau ada salah satu sifat yang disembunyikan dalam diri penerima yang seandainya tampak pada orang yang memberi, maka dia tidak akan memberinya. Hal ini berlaku juga dalam konteks hadiah menurut pendapat yang lebih kuat. Hukum yang sama juga perlu berlaku bagi semua akad tabarru’ atau bantuan sosial seperti hibah, wasiat, wakaf dan nazar.”

Melalui penjelasan ini, maka tidak dibenarkan berpura-pura menjadi penyandang disabilitas dengan tujuan menarik simpati orang lain dengan alasan apapun, seperti menjadi pengemis dan lainnya.

1 KOMENTAR

  1. […] Boleh jadi kita “salah sasaran” dalam bersedekah. Tapi sebagaiman diktum Nabi SAW yang lain, jika ternyata orang yang meminta itu mampu, maka itu menjadi urusan personal dia dan Allah SWT. Mengutip perkataan Imam an-Nawawi: kita hanya dibebani dengan menyikapi seseorang dari lahiriyahnya dan sesuatu yang keluar dari lisannya. Sedangkan hati, itu bukan urusan kita. (Baca: Berpura-pura Menjadi Penyandang Disabiltas untuk Mengemis, Bagaimana Hukumnya?). […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here