Berprasangka Baik Kepada Allah

0
657

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri, mereka mengingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? …. (QS âli ‘Imrân [3]: 135)

BincangSyariah.Com- Sepanjang bulan puasa, orang beriman dianjurkan mem­­perbanyak ibadah seperti qiyâmu ’l layl, salat ma­lam, tadarus, menelaah dan merenungkan Al-Qur­an serta iktikaf. Amalan-amalan tersebut sesung­guhnya me­rupakan spiritual excercise, pelatihan ruhaniah yang sangat baik dalam rangka meningkatkan kesadaran ketuhanan, se­ba­­gai­­­mana bunyi hadis Rasulullah yang sering kita dengar, “Barang siapa menjalankan puasa dengan penuh keimanan dan melakukan penghitungan terhadap diri, maka ia akan diampuni do­­sa-dosanya, baik yang telah lalu.”

Suasana bulan puasa yang dipenuhi oleh pelatihan ter­sebut di sisi lain menjadi momen yang sangat berarti dalam mempertajam kesadaran ketuhanan atau takwa. Dengan demikian, bulan puasa sangat kondusif sebagai bulan untuk melakukan tobat.

Dari hadis di atas, bila diperhatikan dapat ditarik sebuah analogi bahwa ibadah puasa pada substansinya identik de­ngan prak­tik tobat. Substansi dan muaranya sama, yakni me­­­mohon ampunan atas dosa-dosa yang pernah diperbuat pa­da masa lalu.

Dan perlu diingatkan kembali berkenaan dengan pe­nger­tian perbuatan dosa bahwa dosa adalah semua perbuat­an yang dalam jangka pendek menyenangkan, namun da­lam jangka panjang membawa penderitaan. Seseorang me­lakukan dosa bisa jadi karena ketidakmampuan me­ngen­dalikan hawa nafsu atau ketidakmam­puan mengontrol ke­sadaran diri.

Bertobat adalah salah satu ciri orang beriman apabila sadar dirinya telah tergelincir dalam perbuatan keji atau do­sa, seperti yang diilustrasikan dalam kitab Al-Quran. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri, mereka mengingat akan Allah, lalu memo­hon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang da­pat mengampuni dosa selain daripada Allah? … (QS âli ‘Im­rân [3]: 135).

Kata “tobat” dalam bahasa Arab terdiri dari huruf tawaba yang dalam bahasa Indonesia “tobat” dalam kese­ha­ri­an seperti yang sering kita dengar berarti “kapok”. Namun, da­lam bahasa Arab, kata itu mengandung pengertian peng­gambaran sebuah aktivitas, sebuah gerak kembali kepada asal. Pengertian tersebut dapat dilihat dalam sebuah ayat yang berbunyi, Dan orang-orang yang menjauhi thâghût (yaitu) tidak menyembah, dan kembali kepada Allah … (QS Al-Zumar [39]: 17).

Baca Juga :  Puasa Ramadan sebagai Pembelajaran Rendah Hati

Yang dimaksudkan dengan gerak kembali kepada asal adalah gerak kepada kesucian asal, fitri. Gerak itu didorong oleh adanya sebuah kesadaran diri karena ketidakmampuan diri dalam menghadapi atau menyelesaikan persoalan atau masalah. Gerakan serupa merupa­kan dorongan dari fitrah ma­nusia yang disebut hanîf. Dorongan hanîf adalah dorong­an yang selalu mengajak manusia untuk mencintai kebajik­an sebagai nature atau fitrahnya. Dorongan hanîf yang ber­sum­ber pada hati nurani.

Fitrah atau nature tersebut tidak akan pernah berubah atau perenial, seperti yang diilustrasikan dalam Al-Quran, Ma­ka hadap­kanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia me­nurut fitrahnya itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah … (QS Al-Rûm [30]: 30). Dari situ dapat dianalogikan bahwa hakikat tobat adalah melakukan aktivitas yang natural atau alamiah, yakni gerak kembali kepada asal (Allah) sebagai Pen­­cipta dan Sumber Kesucian.

Bertobat dalam pengertiannya yang sungguh-sungguh haruslah diiringi oleh kesadaran diri. Dalam bahasa Arab, to­bat yang demi­kian dinamakan tobat nashûhâ. Tobat na­shûhâ adalah tobat yang dibarengi oleh kejujuran dan ketu­lus­an sehingga setelah bertobat ia tidak akan kembali kepada per­buatan dosa lagi.

Ada beberapa fase atau ta­hap untuk dapat mencapai dera­jat tobat nashûhâ. Yang pertama-tama adalah seseorang terlebih da­hulu melakukan pelatihan-pe­la­tihan persiapan secara ruhani­ah atau preconditioning. Selain itu, seseorang juga harus terlebih dahulu menyadari bahwa dirinya melakukan perbuatan dosa dan dirinya sudah tidak mampu lagi se­hingga ia menyerahkan (pas­rah) diri kepada Allah Swt. Di si­ni, makna tobat menjadi paralel dengan Islam yang arti generik­nya adalah pasrah.

Di samping itu, seseorang ha­rus memiliki hati yang bersih. Hati yang tidak diliputi oleh polu­si akibat pretensi atau embel-em­bel kesucian, seperti yang dicon­toh­kan oleh Rasulullah saw. lewat sebuah hadisnya, “Sebaik-baik zuhud adalah menyem­bunyi­kan zuhud.”

Dengan kata lain, sebelum melakukan tobat, seseorang terle­bih dahulu harus menyucikan dirinya, menjauhkan diri dari rasa tinggi hati, seperti yang dicontohkan oleh Rasulul­lah saw. Meskipun sudah dijanjikan baginya surga dan am­punan dari Tuhan, beliau terus memperbanyak tobat, khu­sus­nya sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadis, “Beliau (Rasulullah) memperban­yak ibadah dengan iktikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan puasa.”

Adapun sikap yang lain adalah harus ada optimisme pada diri bahwa setelah menyadari dengan segala kejujuran dan ketulusan dirinya telah terjerumus dalam perbuatan do­sa, ia berjanji tidak mengulangi lagi. Sikap ini tentu saja harus dibarengi sikap rendah hati. Kalau tidak, sulit rasanya mela­ku­kan koreksi diri. Dan yang terjadi justru malah se­baliknya, seperti yang diungkap­kan dalam pepatah Melayu yang ber­bunyi, “Semut di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak.”

Baca Juga :  Dia yang Kita Sebut Ulama

Sikap optimis yang dimaksudkan di sini adalah prasang­ka positif terhadap Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan akan meng­ampuni dosanya, sebagaimana dalam hadis Rasulullah di­terangkan bahwa orang beriman harus berprasangka po­si­tif atau baik husnu zhan terhadap Allah Swt. karena Allah Swt. akan bertindak sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ini seperti yang diriwayatkan, “Aku (Allah Swt.) adalah seperti yang diprasangka­kan hamba-hamba-Ku” (Hadis qudsi).

Sikap gemar bertobat adalah salah satu ciri orang ber­iman, dan sebaliknya sikap tidak mau bertobat adalah salah satu sifat orang kafir. Sikap yang demikian itu sering kita de­ngar dalam idiom bahasa Indonesia yang sangat populer, “sesal dulu pendapa­tan, sesal kemudian tak berguna.”

Sifat itu dalam Alquran digambarkan sebagai sikap orang-orang zalim dan mereka adalah orang-orang yang me­rugi di akhirat kelak, seperti yang difirmankan dalam Alqur­an, … lalu ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kema­tian)-ku sampai waktu yang dekat …” (QS Al-Munâfiqûn [63]: 107).

Adapun amalan saat menjalankan tobat biasanya mem­perbanyak tasbih, yakni menyucikan Tuhan, subhana Allah karena selama itu diasumsikan kita telah berprasangka bu­ruk terhadap Tuhan. Kemu­dian, kita memperbanyak istigfar atau memohon ampunan, astaghfir­u Allâh al-Adzîm atas ke­sa­lahan tersebut.

Sekali lagi, bertobat sebagaimana dikatakan di awal ta­di, amat tepat dilakukan pada bulan puasa karena selama bu­­lan puasa, hati nurani dalam kondisi sangat sensitif dan responsif untuk menerima kesadaran kehadiran Tuhan. Hal itu diperkuat oleh anjur­an agar memperbanyak ibadah se­pan­jang bulan puasa sebagai bulan ampunan. Dengan be­gitu, bulan puasa pun dengan sendirinya iden­tik dengan bu­lan tobat. Hal itu dikarenakan sepanjang bulan puasa kita dianjurkan untuk memohon ampunan dengan memper­banyak iktikaf.

Bangun malam sangat dianjurkan dalam menjalani tobat karena pada malam hari, saat manusia yang lain tidur, kita berada dalam keheningan dan kesendirian, sehingga yang ada hanyalah kita dan Allah Swt. Bahkan pada malam bulan puasa, khususnya bertepatan dengan datangnya ma­lam kepastian, Lailatul Qadar, dii­syaratkan para malaikat tu­run ke bumi. Suasana semacam itu sudah pasti akan sangat kondusif untuk dapat menyadarkan diri, yang pada giliran­nya, apabila kita sudah dapat menyadari diri kita sendiri, kita akan dapat menyadari kehadiran Tuhan, sebagaimana dalam kalangan sufi dikenal istilah, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”

Baca Juga :  Puasa Membentuk Karakter Berkualitas

Di sisi lain, tobat juga merupakan refleksi sikap positif bagi orang yang membuat kesalahan atau dosa. Tobat juga dapat menjadi sikap produktif karena dengan menyadari di­ri­nya telah terperosok dalam kesalahan, ia kemudian akan berusaha membenahi diri dan berupaya tidak mengulangi ber­buat kesalahan atau dosa.

Tobat yang di dalamnya terkandung amalan purification atau dalam bahasa sufi tazkiyyah (pembersihan atau penyuci­an diri), dengan sendirinya akan dapat menjadikan dirinya lebih optimistis karena selalu berpengharapan baik kepada Allah Swt.

Sebaliknya, sikap tidak mau bertobat atau tidak pernah mau mengakui dan menyadari dirinya salah atau berbuat sa­lah adalah sikap yang dapat menghancurkan dirinya atau counter-productive. Sikap tersebut dapat mengarah pada mun­cul­nya sikap menyalahkan diri self-blaming, atau yang lebih parah lagi mencari kambing hitam, adanya pihak yang ditu­duh menjadi penyebab kesalahan.

Bila sikap-sikap seperti self-blaming tersebut sudah tidak dapat lagi dikontrol, yang akan muncul adalah sikap frustrasi atau putus asa, putus pengharapan. Dan ini sangat berba­ha­ya dan fatal. Sikap putus asa adalah sebuah sikap yang oleh Alquran diperin­tahkan agar dijauhi oleh seorang ber­iman karena dapat mengarah kepada syirik, seperti lahirnya anggapan bahwa Tuhan tidak mampu mengubah nasib dia. Sikap-sikap tersebut dapat melahirkan pra­sangka buruk ter­ha­dap Allah Swt. sebagaimana disebutkan dalam Alquran, … Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tu­hannya ke­cuali orang-orang yang sesat (QS Al-Hijr [15]: 56).

Tobat yang dilakukan tanpa kejujuran dan ketulusan, sesung­guhnya merupakan perbuatan membohongi diri dan akan merugikan dirinya sendiri. Karena amal perbuatan yang baik, shâlihan atau yang jahat sû’un pada hakikatnya akan kembali kepada diri kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here