Berpikir Maju ke Depan sebagai Bentuk Ketakwaan

0
152

BincangSyariah.Com – Islam selalu menganjurkan kepada kita untuk selalu latihan agar mampu melihat ke depan, latihan untuk tidak menjadi tawanan kekinian dan kedisinian. Dengan kata-kata lain, Islam mengajarkan prinsip menunda kesenangan untuk kebahagiaan di masa depan. Untuk hal ini, Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 59:18)

Muhammad Asad mengartikan kata takwa sebagai kesadaran akan hadirnya Allah (God-conciousness) dalam setiap relung kehidupan kita. Dalam ayat tersebut, anjuran bertakwa  dikaitkan dengan anjuran mempersiapkan bekal untuk masa yang akan datang. Persiapan tersebut mesti berdasar pada evaluasi dan muhasabah diri terhadap amalan-amalan hari kemarin. Allah mengaitkannya dengan takwa agar jalan menuju masa depan itu tetap dalam koridor keriaan-Nya.

Setiap waktu kita dituntut untuk menyediakan bekal masa depan. Rasul SAW mengajarkan agar hari-hari selalu diisi dengan kegiatan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya. Tidak ada hari tanpa rencana, aktivitas dan evaluasi diri. Kita dituntut agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus menjadi lebih baik lagi dari hari ini. “Orang yang beruntung ialah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Orang yang merugi ialah orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin.” (HR. Abu Dawud)

 

Ayat di atas menganjurkan kita untuk memiliki visi hidup ke depan dengan mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan di masa lalu, kemudian mewujudkan visi tersebut dengan kerja keras, penuh keuletan dan ketekunan. Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah sangat menyukai hambanya yang ulet dan telaten dalam bekerja.”(HR. Bukhari)

Baca Juga :  Ini Empat Penyebab Gelapnya Hati

Dalam sabdanya yang lain diriwayatkan bahwa Ibnu Umar datang kepada Rasulullah SAW. beserta sembilan orang sahabat, lalu  salah seorang sahabat Anshar berkata,” Siapakah orang yang paling pandai dan paling mulia wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW. menjawab,“ orang pandai ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak bekalnya. Mereka pergi dengan kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat.”(Kanzul Ummal)

Dalam hadis ini kepandaian diartikan lebih luas. Kepandaian bukan hanya kemampuan menguasai bidang-bidang tertentu dalam ilmu pengetahuan, kepandaian bisa juga berarti memiliki  kepekaan terhadap hari esok dan beramal sebaik mungkin untuk bekal di akhirat. Kepekaan terhadap hari akhir menuntut kita untuk selalu mawas diri dan mengevaluasi amalan-amalan terdahulu. Nabi SAW bersabda; “orang terbaik di antara kamu ialah yang paling banyak amalnya dan paling banyak muhasabahnya.” (HR.Thabrani)

Orientasi ke depan dalam Islam ini terejawantahkan dalam sabda Nabi yang berpesan: Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, sempatmu sebelum sibukmu, kayamu sebelum miskinmu (sebab semua orang itu bisa jatuh miskin mendadak), kemudian hidupmu sebelum matimu. Semua prinsip ini merupakan pendidikan bagi seorang muslim

Dengan demikian, sebagai pribadi kita semua dituntut untuk mempersiapkan kehidupan di hari esok dan melakukan amalan sebaik mungkin di hari ini dengan mempertimbangkan masa lalu sebagai bahan renungan. Di satu sisi kita dituntut untuk bervisi hidup ke depan, menjangkau hal-hal di luar materi, di sisi lain kita tidak boleh alpa dari segenap kekeliruan-kekeliruan yang mesti diperbaiki untuk masa depan yang lebih baik. Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here