Berobat dengan Air Pelarut Tulisan Al-Quran di Piring, Apakah Boleh?

0
832

BincangSyariah.Com – Ketika kita sowan pada kiai atau seorang ulama, sering kita melihat mereka menggunakan media-media tertentu untuk mengobati orang sakit. Di antaranya adalah dengan menulis ayat-ayat Al-Quran atau kalimat zikir di piring, terkadang di kertas, lantas tulisan tersebut dihapus dengan air, lalu airnya diminumkan pada orang yang sakit tersebut. Apakah boleh berobat dengan air pelarut tulisan Al-Quran di piring dalam Islam?

Pengobatan dengan cara menulis Al-Quran atau dzikir tertentu pada piring atau kertas, dan kemudian dilarut dengan air, dalam fikih disebut dengan nusyrah. Untuk lebih lengkapnya, definisi nusyrah disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah sebagai berikut;

هي ان يكتب شيئا من اسماء الله تعالى او من القران ثم يغسله بالماء ثم يمسح به المريض او يسقيه

Nusyrah adalah seseorang menulis nama-nama Allah atau ayat-ayat Al-Quran, lalu dia menghapusnya dengan air, kemudian air itu dia mandikan pada orang yang sakit atau meminumkannya.

Menurut kebanyakan para ulama, baik kalangan ulama Syafiiyah, Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah, mereka berpendapat bahwa nusyrah hukumnya diperbolehkan. Boleh seseorang berobat dengan air yang bercampur dengan bekas tulisan Al-Quran atau dzikir yang tulis di piring, atau kertas dan lainnya, baik dia mandi dengannya atau dia meminumnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَأَمَّا حُكْمُ النُّشْرَةِ، فَقَدْ ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ عَدَا ابْنَ عَبْدِ السَّلاَمِ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ جَائِزٌ وَهُوَ قَوْل سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، وَعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، وَأَبِي عَبْدِ اللَّهِ وَالطَّبَرِيِّ وَكَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقْرَأُ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ فِي إِنَاءٍ، ثُمَّ تَأْمُرُ أَنْ يُصَبَّ عَلَى الْمَرِيضِ

Adapun hukum nusyrah, maka kebanyakan ulama fiqih, baik kalangan ulama Hanafiyah, Malikiyah, selain Ibn ‘Abdissalam, Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa hukumnya boleh. Ini adalah pendapat Sa’id bin Al-Musayyib, Sayidah Aisyah, Abu Abdullah, dan Al-Thabari. Sayidah Aisyah pernah membaca surah Al-Falaq dan Al-Nas dalam sebuah wadah, dan kemudian beliau menyuruh agar disiramkan pada orang yang sakit.

Berdasarkan keterangan ini, maka dapat diketahui bahwa nusyrah atau berobat dengan air yang bercampur dengan bekas tulisan Al-Quran sudah dilakukan oleh istri Nabi Saw. Karena itu, kebanyakan ulama membolehkan dan dinilai sebagai bentuk pengobatan yang dibolehkan secara syariat.

Baca Juga :  Cara Bijak Memahami Kata ‘Alaika pada Doa Gus Mus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here