Bernazar Kurban dalam Hati, Apakah Jadi Wajib Berkurban?

2
173

BincangSyariah.Com – Terdapat sebagian dari kita yang sering ada keinginan dan niat, bahkan nazar kurban dalam hati di bulan haji. Apakah nazar dalam hati tersebut wajib dilaksanakan sehingga harus berkurban di bulan haji?

Menurut para ulama, pada dasarnya hukum asal kurban adalah sunnah. Namun ia menjadi wajib jika kita bernazar untuk melakukan kurban. Jika kita sudah bernazar untuk berkurban, maka kita wajib memenuhinya.

Namun demikian, di antara syarat sah nazar yang wajib dipenuhi adalah harus diucapkan dengan lisan, bukan hanya sebatas niat atau diucapkan dalam hati. Jika hanya diucapkan dalam hati, maka nazarnya tidak sah, dan tidak wajib memenuhinya.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu berikut;

قال أصحابنا يصح النذر بالقول من غير نية كما يصح الوقف والعتق باللفظ بلا نية. وهل يصح بالنية من غير قول – فيه الخلاف الذي ذكره المصنف (الصحيح) باتفاق الاصحاب انه لا يصح الا بالقول ولا تنفع النية وحدها

Ulama kami (Syafiiyah) berkata; Nazar dengan ucapan tetap sah meskipun tidak disertai dengan niat, seperti halnya sahnya wakaf dan memerdekakan budak dengan mengucapkan lafaz dengan tanpa adanya niat’. Lalu apakah nazar sah dengan niat tanpa adanya ucapan? Dalam permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat di antara ulama yang telah dijelaskan oleh pengarang kitab. Menurut pendapat yang sahih (qaul shahih) dengan kesepakatan ulama Syafiiyah bahwa nazar tidak sah kecuali dengan ucapan, dan niat dalam hati saja tidak bermanfaat (tidak cukup) untuk digunakan nazar.

Ini juga disebutkan oleh Imam Al-Mardawi dalam kitab Al-Inshaf berikut;

ولا يصح (النذر) إلا بالقول ، فإن نواه من غير قول : لم يصح بلا نزاع

Baca Juga :  Tiga Tips Menciptakan Rumahku Surgaku

Nazar tidak sah kecuali dengan diucapkan. Jika dia hanya berniat tanpa mengucapkan, maka nazarnya tidak sah tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa niat atau nazar berkurban yang kita ucapkan dalam hati semata, tanpa diucapkan dengan lisan, maka nazar kita tidak sah dan kita tidak wajib memenuhinya. Namun jika kita sudah mengucapkan nazar berkurban dengan lisan, meskipun tanpa ada niat, maka nazar kita sudah dinilai sah dan kita wajib menunaikannya.

2 KOMENTAR

  1. […] Sembelihan orang yang tuna netra atau buta hukumnya boleh dan sah, serta hasil sembelihannya halal dimakan. Meski boleh dan halal, namun sebaiknya orang yang tuna netra mewakilkan sembelihan kurbannya kepada orang lain yang bisa melihat dengan baik. Ini karena jika dia menyembelih sendiri, dikhawatirkan ada hal-hal yang harus dilakukan dalam sembelihan tidak dilaksanakan dengan baik dan sempurna. (Baca: Bernazar Kurban dalam Hati, Apakah Jadi Wajib Berkurban?) […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Agar bisa melakukan kurban di bulan Haji, terdapat sebagian orang yang menabung uang jauh-jauh hari untuk dibelikan hewan kurban. Kemudian setelah sampai waktunya berkurban, uang hasil tabungan tersebut dibelikan hewan kurban. Apakah menabung untuk kurban termasuk bagian dari nazar sehingga tidak boleh boleh memakan dagingnya? (Baca: Bernazar Kurban dalam Hati, Apakah Jadi Wajib Berkurban?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here