Sudah Bernazar Kurban Tapi Ternyata Hewan Cacat, Apakah Wajib Disembelih?

1
97

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa hewan cacat yang mengurangi kualitas dagingnya tidak boleh dijadikan hewan kurban. Hewan kurban sebaiknya adalah hewan gemuk, dagingnya banyak, fisik sempurna, bentuknya bagus, dan harganya mahal. Namun bagaimana jika seseorang terlanjur bernazar kurban dengan hewan cacat, apakah wajib disembelih?

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa ada empat cacat yang membuat hewan tidak boleh dan tidak layak dijadikan hewan kurban. Pertama, buta sebelah dan jelas kebutaannya. Kedua, sakit parah. Ketiga, pincang parah. Keempat, sangat kurus hingga tidak punya tulang sumsum.

Oleh karena itu, jika seseorang sudah terlanjur bernazar dan menentukan hewan kurban dengan hewan cacat, maka dia bisa melakukan satu di antara dua hal berikut;

Pertama, diganti dengan hewan yang bagus dan tidak ada cacat. Menurut ulama Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Atha‘, Mujahid dan Ikrimah, mengganti hewan kurban dengan hewan lain yang lebih bagus hukumnya adalah boleh.

Karena itu, jika seseorang bernazar kurban dengan hewan cacat, maka dia sebaiknya mengganti dengan hewan yang bagus dan tidak ada cacat. Pergantian dari hewan cacat pada hewan yang bagus tidak dilarang. Bahkan hal itu dianjurkan agar hewan tersebut memenuhi syarat untuk bisa dijadikan kurban.

Ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berikut;

ولانه عدل عن عين وجبت لحق الله تعالى الى خير من جنسها فجاز كما لو وجبت عليه بنت لبون فأخرج حقة في الزكاة

Karena hal tersebut mengganti dari jenis yang wajib karena hak Allah ke jenis yang lebih bagus, maka hal tersebut boleh, sebagaimana (dibolehkan) jika seseorang wajib mengelurkan unta umur 2-3 sebagai zakat, kemudian dia menggantinya dengan unta umur 4-5 tahun.

Baca Juga :  Cara Memahami Hadis: Memahami Hadis yang Bertentangan dengan Al-Qur'an (1)

Kedua, hewan cacat tersebut tetap disembelih pada hari Idul Adha atau hari-hari tasyrik. Meski demikian, hewan tersebut tidak disebut dengan kurban karena ada cacat. Ia bernilai sedekah biasa meskipun tetap wajib disembelih pada hari Idul Adha atau hari-hari tasyrik dan wajib dibagikan serta disedekahkan sebagaimana hewan kurban.

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaih Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berikut;

وَلَوْ نَذَرَ التَّضْحِيَةَ بِمُعِيْبَةٍ أَوْ صَغِيْرَةٍ أَوْ قَالَ جَعَلْتُهَا أُضْحِيَةً فَإِنَّهُ يَلْزَمُ ذَبْحُهَا وَلَا يُجْزِىءُ أُضْحِيَةً وَإنْ اُخْتُصَّ ذَبْحُهَا بِوَقْتِ الْأُضْحِيَةِ وَجَرَتْ مَجْرَاهَا فِي الصَّرْفِ

Jika seseorang bernazar dengan hewan cacat atau hewan yang masih kecil, atau dia berkata; ‘Aku menjadikan hewan ini kurban’, maka hewan itu wajib disembelih dan tidak disebut kurban meskipun wajib disembelih di waktu kurban dan wajib disedekahkan sebagaimana hewan kurban.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here