Bernarkah Muslim Tidak Boleh Bekerja pada Non-Muslim?

2
1399

BincangSyariah.Com – Saat ini, banyak dijumpai orang muslim yang bekerja kepada non-muslim, baik bekerja sebagai karyawan toko, pabrik, pembantu rumah tangga, dan lain sebagainya. Sebenarnya, bagaimana hukum Muslim bekerja pada non-muslim, apakah boleh?

Dalam Islam, orang muslim bekerja kepada non-muslim hukumnya diperbolehkan. Tidak ada larangan bagi orang muslim untuk bekerja kepada non-muslim, baik bekerja sebagai sopir pribadi, karyawan toko, pembantu rumah tangga dan lain sebagainya.

Menurut pendapat yang shahih dari kalangan ulama Syafiiyah, bekerja kepada non-muslim dinilai sah dan uang yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut dihukumi halal. Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin berikut;

يجوز أن يستأجر الكافر مسلماً على عمل في الذمة كدين في ويجوز أن يستأجره بعينه على الأصح حراً كان أو عبدا

Diperbolehkan bagi non-muslim menyewa orang muslim untuk mengerjakan sesuatu yang masih ada dalam tanggungan (masih akan dikerjakan kemudian) sebagaimana orang muslim boleh membeli sesuatu dari orang non-muslim dengan bayaran yang masih ada dalam tanggungan (hutang), dan diperbolehkan bagi orang muslim menyewakan dirinya (tubuh/tenaganya) kepada non-muslim menurut pendapat yang paling shahih, baik ia merdeka atau hamba sahaya.

Di antara dalil yang dijadikan dasar kebolehan bekerja kepada non-muslim adalah hadis riwayat Imam Thabrani dari Ka’ab bin Ujrah, dia berkata;

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عليه وسلم يَوْماً، فَرَأَيْتُهُ مُتَغَيِّراً. قَالَ: قُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّيْ، مَا لِي أَرَاكَ مُتَغَيِّراً؟ قَالَ: مَا دَخَلَ جَوْفِي مَا يَدْخُلُ جَوْفَ ذَاتِ كَبِدٍ مُنْذُ ثَلاَثٍ. قَالَ: فَذَهَبْتُ، فَإِذَا يَهُوْدِيٌّ يَسْقِي إِبِلاً لَهُ،  فَسَقَيْتُ لَهُ عَلَى كُلِّ دَلْوٍ تَمْرَةٌ، فَجَمَعْتُ تَمْراً فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَ: مِنْ أَيْنَ لَكَ يَا كَعْبُ؟ فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَتُحِبُّنِي ياَ كَعْبُ؟ قُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ نَعَمْ.

Baca Juga :  Hukum Bekerja pada Atasan Non-Muslim

Saya mendatangi Nabi Saw pada suatu hari, dan saya melihat beliau pucat. Maka saya bertanya, ‘Ayah dan ibu saya adalah tebusanmu, kenapa engkau pucat?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada makanan yang masuk ke perut saya sejak tiga hari.’ Maka saya pun pergi dan mendapati seorang Yahudi sedang memberi minum untanya.

Lalu saya bekerja padanya, memberi minum unta dengan upah sebiji kurma untuk setiap ember. Saya pun mendapatkan beberapa biji kurma dan membawanya untuk Nabi Saw. Beliau bertanya, ‘Dari mana ini wahai Ka’ab?’ Lalu saya pun menceritakan kisahnya. Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mencintaiku wahai Ka’ab?’ Saya menjawab, ‘Ya, dan ayah saya adalah tebusanmu.’

Dalam hadis ini, Nabi Saw tidak mengingkari perbuatan Ka’ab yang bekerja kepada orang Yahudi untuk mendapatkan upah kurma. Ini menunjukkan bahwa bekerja kepada non-muslim hukumnya boleh dalam Islam.

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Sebagian Muslim di Indonesia ada yang beranggapan bahwa memberi salam pada non-Muslim itu mutlak haram. Sehingga mereka beranggapan bahwa saat kita berkunjung ke rumah kerabat atau tetangga yang non-Muslim itu tidak perlu memberi salam dengan mengucapkan assalamu’alaikum. Cukup permisi saja misalnya. Benarkah demikian? (Baca: Bernarkah Muslim Tidak Boleh Bekerja pada Non-Muslim?) […]

  2. […] Apabila dikerucutkan pembahasan ini bagi seorang istri saja, maka kondisi yang dimaksud ini bisa dicontohkan dengan seorang perempuan yang menjadi janda akibat ditinggal suami. Bisa juga istri dari seorang laki-laki, yang mana sang suami belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga, karena berbagai alasan. Sehingga, sang istri pun akhirnya dituntut untuk turut berikhtiar sendiri dalam rangka mencukupi kebutuhan keluarga. (Baca: Bernarkah Muslim Tidak Boleh Bekerja pada Non-Muslim?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here