Berkontribusi dalam Program Wakaf Pembebasan Lahan

1
5

BincangSyariah.Com – Wakaf ialah pemanfaatan harta tak habis pakai yang digunakan untuk kepentingan umum tanpa mengurangi nilai harta dan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitu pentingnya wakaf, sampai-sampai dalam perkembangan sejarah peradaban Islam, wakaf mengambil peran yang cukup krusial dalam meningkatkan peradaban umat, mengingat sebagian besar lembaga pendidikan keislaman merupakan hasil dari ibadah wakaf. Misalkan seperti Universitas al-Azhar di Mesir, Madrasah Nidzamiyah di Baghdad, dan berbagai lembaga pendidikan lainnya. Tidak terhitung pula jumlah masjid yang berhasil dibangun dengan menggunakan kontribusi wakaf ini.

Diantara dalil pensyariatan wakaf bisa kita simak dalam QS. Ali Imran (3): 92,

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Lan tanālul-birra ḥattā tunfiqụ mimmā tuḥibbụn, wa mā tunfiqụ min syai`in fa innallāha bihī ‘alīm

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Sejarah mencatat bahwa orang yang pertama kali melakukan ibadah wakaf ialah Sahabat Umar bin Khattab yang mewakafkan 100 bagian daripada tanah Khaibar untuk kepentingan umat Islam sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis,

عنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيْهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَّسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَاْبنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمُ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ

“Dari Ibn Umar ra, bahwa Umar bin Khattab mendapatkan bagian tanah di Khaibar, kemudian ia menemui Nabi Muhammad saw untuk meminta arahan. Umar berkata: ‘Wahai Rasulullah saw, aku mendapatkan kekayaan berupa tanah yang sangat bagus, yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Apa yang akan engkau sarankan kepadaku dengan kekayaan itu?’ Nabi bersabda: ‘Jika kamu mau, kau bisa mewakafkan pokoknya dan bersedekah dengannya.’ Lalu Umar menyedekahkan tanahnya dengan persyaratan tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan. Umar menyedekahkan tanahnya untuk orang-orang fakir, kerabat, untuk memerdekakan budak, sabilillah, ibn sabil, dan tamu. Tidak berdosa bagi orang yang mengurusinya jika mencari atau memberi makan darinya dengan cara yang baik dan tidak menimbun.” (HR. Bukhari)

Sebenarnya, harta yang bisa kita wakafkan bukan hanya tanah saja, namun barang apapun yang bisa dimanfaatkan tanpa mengurangi nilai barang tersebut. Dengan kata lain, bukan barang yang habis sekali pakai. Bisa berupa pakaian, karpet, atau apapun itu. Namun kelazimannya di Indonesia, orang-orang berfikir bahwa wakaf tanah jauh lebih afdhal karena tanah bisa dimanfaatkan lebih lama sehingga pahala yang mereka dapatkan pun bisa mengalir lebih lama pula.

Baca Juga :  Etika Berpakaian Menurut Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad

Semangat demikian, rupanya berbanding terbalik dengan kondisi harga tanah yang semakin hari semakin meroket. Sebagai solusinya, beberapa organisasi dan lembaga pendidikan mengambil inisiatif berupa program wakaf pembebasan lahan yang kemudian lahan tersebut digunakan untuk masjid, pesantren, maupun lembaga pendidikan lainnya. Permasalahannyan adalah apakah wakaf dengan model semacam ini bisa kita benarkan dan apakah pahalanya sama seperti pahala wakaf tanah biasa tanpa melalui program?

Pembaca yang budiman, sebenarnya tidak ada masalah ketika kita melakukan wakaf dengan cara mengikuti program wakaf pembebasan lahan diatas. Hukumnya persis sama seperti anda memiliki sebidang tanah kemudian anda mewakafkannya untuk masjid. Karena sesungguhnya tidak ada batasan pasti berapa minimum bidang tanah yang mesti anda wakafkan. Maka dengan mengikuti program wakaf pembebasan lahan tersebut, anda memberikan kepercayaan kepada pihak panitia untuk membeli sebidang tanah yang kemudian tanah tersebut diwakafkan untuk kepentingan umat.

Hal demikian sebetulnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan shahabah Umar bin Khattab tadi. Catatan sejarah mencatat bahwa apa yang diwakafkan oleh Sahabat Umar ialah sebagian tanah dari tanah luas yang didapatkan oleh beliau dalan para sahabat lainnya ketika terjadi peristiwa Khaibar. Logika yang sama berlaku ketika anda memberikan senilai uang untuk dibelikan tanah oleh panitia dan kemudian panitia menggunakan uang anda beserta uang dari yang lain untuk membeli tanah dan kemudian diwakafkan. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here