Berkah Keping Dinar Yang Disedekahkan Oleh Ali bin Abi Thalib

0
985

BincangSyariah.Com- Pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib bertanya kepada istrinya, Fatimah Al-Zahra.

“Adakah sesuatu yang bisa kumakan untuk hari ini?”

“Sungguh demi Allah wahai yang memuliakan ayahandaku dengan kenabian, aku tidak mempunyai apa-apa yang bisa engkau makan untuk hari ini. Begitu juga kedua anak kita!” jawab putri Rasulullah Saw, Fatimah Al-Zahra.

Lalu Ali bin Abi Thalib berkata,

“Wahai Fatimah istriku, mengapa engka tidak memberitahuku, sehingga aku bisa mencarikan makanan untukmu dan kedua anak kita”

“Wahai suamiku, aku malu kepada Allah jika harus terus membebanimu” jawab Fatimah Al-Zahra.

Lalu Ali bin Abi Thalib segera keluar rumah, dengan harapan Allah akan memeberikan jalan untuknya. Dengan usaha yang telah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, akhirnya mendapatkan beberapa keping dinar. Lalu Ali bin Abi Thalib bergegas membeli bahan makanan dengan membawa beberapa keping dinar yang baru Ia dapatkan untuk makan keluarganya. Tetapi ketika diperjalanan Ali bin Abi Thalib bertemu dengan Al-Miqdad bin Aswad yang dalam keadaan letih dan lesu akibat sengatan panas terik matahari. Al-Miqdad bin Aswad terlihat sangat letih karena perjalanan yang ditempuhnya. Lalu Ali bin Abi Thalib menghampiri Al-Miqdad.

“Wahai anak saudaraku, apa yang membuatmu melakukan perjalanan di bawah teriknya panas matahari. Bukankah hal ini akan membuatmu kecapekan” tanya Ali bin Abi Thalib kepada Al-Miqdad bin Aswad.

“Wahai Abu Al-Hasan, jalan di depanku telah terbentang dan janganlah engkau bertanya sesuatu yang ada di belakangku” jawab Al-Miqdad bin Aswad.

“Wahai anak saudaraku, janganlah engkau menyembunyikan sesuatu dariku tentang keadaanmu saat ini” desak Ali bin Abi Thalib.

Dan pada akhirnya Al-Miqdad bin Aswad mengaku.

Baca Juga :  Agar Diberi Kekayaan yang Bermanfaat, Bacalah Shalawat Ini

“Demi Allah, hal yang membuatku melakukan ini semua adalah keluargaku. Mereka saat ini sedang merintih menahan lapar karena tiada sesuatu yang bisa dimakan untuk hari ini. Dan sayalah yang bertanggung jawab semua atas nafkah keluargaku. Maka dari itu saya keluar berkelana untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan untuk keluargaku saat ini” papar Al-Miqdad Aswad.

Mendengar cerita Al-Miqdad bin Aswad, ia ikut bersedih atas kesedihan yang menimpa Al-Miqdad bin Aswad. Ali bin Abi Thalib tak kuasa membendung kesedihannya sehingga keluarlah air mata yang mengalir membasahi kedua pipi Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali bin Abi Thalib berkata lirih kepada Al-Miqdad bin Aswad.

“Al-Miqdad, aku keluar dari rumah kerana alasan yang sama dengan mu. Tapi kini aku sudah mendapatkan beberapa keping dinar. Ambilah dinar ini dan segera kembalilah ke keluargamu.”

Lalu Ali bin Abi Thalib menyerahkan beberapa keping dinar yang ada ditangannya kepada Al-Miqdad bin Aswad. Dia pun tidak tau bagaimana nantinya keadaan keluarganya. Kemudian Ali bin Abi Thalib pergi ke Masjid untuk shalat dzuhur. Ali tetap tinggal di Masjid sembari menunggu waktu shalat Ashar dan Maghrib. Selepas shalat ashar, Ali bin Abi Thalib melihat Rasulullah Saw. berjalan didekatnya. Lalu Ali mengkuti Rasulullah Saw. dari belakang, hingga bertemu di pintu Masjid.

“Apakah engkau mempunyai sesuatu yang bisa kita makan untuk malam ini?” tanya Rasulullah Saw.

Mendengar pertanyaan Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib merasa kaget dan malu karena di rumanya tidak sesuatu apapun yang bisa dimakan.

“Katakalah iya atau tidak! Kalau iya aku akan ikut ke rumahmu, kalu tidak aku akan pulang”, lanjut Rasulullah Saw.

Baca Juga :  Abu Thalhah, Sahabat Dermawan yang Dipuji Allah

Pada akhirnya, Rasulullah Saw. berjalan menggandeng tangan Ali bin Abi Thalib menuju rumahnya. Ketika Rasulullah Saw dan Ali bin Abi Thalib masuk rumah, Fatimah Al-Zahra sedang shalat. Mendengar suara ayahandanya, Fatimah Al-Zahra bergegas menemuinya dan memberikan salam. Beliau membalas salamnya dan mengusap kepalanya dengan telapak tangan beliau.

Di belakang tempat shalat terdapat sebuah panci yang sedang mengepul menandakan bahwa ada makanan lezat yang sedang dimasak dan siap disantap. Fatimah Al-Zahra segera mengangkat panci tersebut dan memberikannya kepada suaminya. Setelah melihat apa isi di dalam panci tersebut, Ali bin Abi Thalib menatap tajam istrinya, seakan-akan tidak percaya melihat apa yang dia lihat. Dilihat dari sorotan matanya, Ali tidak suka akan adanya makanan tersebut. Ali marah bercampur curiga.

“Demi Allah, jangan menatap aku seperti itu, apa dosaku sehingga engkau melihatku seperti itu”, ucap Fatimah Al-Zahra.

“Dosa apakah yang telah engkau lakukan hari ini? Padahal engkau tadi pagi mengatakan kepadaku dengan bersumpah kepada Allah bahwa tiada sesuatu yang bisa dimakan selama dua hari ini” sahut Ali bin Abi Thalib.

Seraya menatap langit, Fatimah Al-Zahra menjawab.

“Hanya Allah Swt yang tau apa yang terjadi di langit dan bumi. Dan apa yang ku katakan benar adanya.”

“Lalu dari mana engkau mendapatkan makanan ini? Padahal aku tadi tidak melihat makanan seperti ini” tanya Ali bin Abi Thalib.

Rasulullah melihat kemarahan Ali bin Abi Thalib yang demikian itu. Rasulullah Saw segera meredakan kemarahan menantunya. Beliau meletakakan kedua telapak tangannya dikedua bahu Ali, lalu berkata.

“Wahai Ali, ini adalah berkah dinar yang engkau sedekahkan tadi. Ini adalah pahala dinar, berasal dari Allah Swt, yang dianugerahkan kepada hambanya yang dikehendaki”

Baca Juga :  Kisah Pilu Perjuangan Rasulullah di Thaif

Sejenak Rasulullah Saw menghentikan pembicaraanya, sedangkan kedua mata beliau meneteskan air mata kesedihan, terharu. Tak lama kemudian beliau berkata.

“Segala puja dan puji bagi Allah Swt yang telah mengeluarkan kalian berdua dari dunia sehingga sehingga menuntunmu. Wahai Ali, di jalan Zakariyya, dan menuntunmu, wahai Fatimah, di jalan Maryam.”

Demikianlah kisah inspirasi yang menceritakan tentang berkah keping dinar yang disedekahkan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kita bisa merasakan betapa dahsyat pahala bersedekah. Ketika kita bersedekah dengan hati yang ikhlas, Allah Swt pasti akan membalasnya. Allah tidak memandang seberapa banyak yang disedekahkan, tetapi Allah melihat seberapa ikhlas kita dalam bersedekah.

Janganlah bersifat kikir dan pelit kepada sesama manusia, apalagi untuk membantu saudara kita yang sedang kesusahan dalam hal ekonomi. Dengan bersedekah, berbagi kebahagiaan, niscaya Allah akan membalas kebaikannya. Wallahu a’lam

Diolah dari: Ahmad Rofi’ Usmani, 2008. Pesan Indah dari Makkah & Madinah. Bandung: PT Mizan Pustaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here