Berjualan Makanan di Siang Hari Ramadhan

0
240

BincangSyariah.Com- Akhir-akhir ini heboh pemberitaan seorang ibu pemilik warung makan yang terkena razia karena berjualan pada siang hari. Akibat pemberitaan tersebut banyak gerakan yang simpati untuk membantu maupun gerakan untuk mendiskusi mencari jawaban hukum berjualan. Diskusi banyak dilakukan di media sosial. Ada yang mengatakan boleh namun ada juga yang mengatakan tidak boleh.

Tulisan ini tidak akan membahas hukum berjualan makanan di siang hari ramadhan. Penulis akan melihat peristiwa tersebut dari segi etika atau akhlak. Sebagaimana kita ketahui tiga fondasi ajaran agama Islam yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, yaitu akidah, akhlak dan syariah (hukum). Setiap muslim akan terikat dengan etika dengan muslim lainnya.

Semenjak kecil kita diajarkan bagaimana bersikap kepada orang. Bagi orang seorang santri sangat akrab dengan kitab ِAkhlaq li al-Banin. Dalam kitab tersebut dijelaskan siapa yang dianjurkan terlebih dahulu mengucapkan salam. Orang yang berjalan dianjurkan telebih dahulu memberikan salam kepada orang yang duduk, orang yang berkendaraan diajurkan memberikan salam kepada orang yang berjalan dan seterusnya ke atas.

Anak menghormati orang tua dan orang tua menyayangi anak. Murid menghormati guru dan guru menyayangi murid-muridnya. Etika lain yang diajarkan dalam Islam adalah etika bertamu. Seorang yang ingin bertamu harus mengucapkan salam dan mengetuk pintu maksimal sebanyak tiga kali, tidak boleh lebih dari itu. Tidak boleh menjadi imam sholat tanpa seizin dari pemilik rumah, dan lain sebagainya.

Kembali kepada puasa, makna puasa adalah dari segi bahasa adalah imsak atau menahan. Menahan dalam arti luas tidak hanya dari makan dan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, tapi juga menahan diri dari sifat amarah, sifat boros dan sifat buruk lainnya.

Baca Juga :  Tafsir Mengenai Dua Surga bagi Orang yang Takut pada Allah

Persoalan berjualan makanan di siang hari Ramadhan ditanggapi dengan beragam dan dengan cara yang beragam pula. Setiap kita harus menahan diri dari memperolok-olok ungkapan orang lain baik yang berpendapat memperbolehkan jual makanan di siang hari maupun yang tidak atau yang menganjurkan untuk saling menghormati.

Setiap kita dalam bermasyarakat berkewajiban untuk saling menghormati satu dengan yang lainnya. Seyogiyanya di tengah lingkungan yang mayoritas masyarakatnya berpuasa tidak berjualan makanan pada siang hari. Layaknya seorang yang bertamu, tentunya seorang tamu tidak elok melakukan apa yang akan mengganggu kenyamanan tuan rumah. Namun demikian bukan berarti orang yang berpuasa dapat melakukan apasaja bagi orang yang berjualan. Seperti merampas, menghancurkan barang orang lain. Perampasan dan perusakan barang milik orang lain adalah bentuk kejahatan.

Dalam al-Qur’an surah al-Nahl [16]: 125 mengajarkan kita supaya mengajak dalam kebaikan dengan cara yang baik. Sama halnya dengan perintah amr ma’ruf dan nahi munkar harus dilakukan dengan cara yang ma’ruf pula. Dalam bahasa lain adalah “jangan sapu lantai yang kotor dengan sapu yang kotor pula”.

Sebagai ibadah yang sangat bersifat individual, puasa menjadi sangat bergantung pada sikap individual seorang hamba. Tidak akan ada orang yang tau seseorang melakukan puasa atau tidak, kecuali dia jelas-jelas menunjukkan dia tidak puasa. Untuk itu sikap jujur dan sikap hati lainnya menjadi sangat penting dalam menjalankan ibadah puasa.

Semoga dengan ibadah puasa pada bulan Ramadhan ini dapat merubah sikap yang amarah menjadi kasih sayang, sifat bohong menjadi jujur dan sikap boros menjadi bijak dalam mengelola kebutuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here