Berharap kepada Allah Melebihi Rasa Takut Kepada-Nya, Pantaskah?

0
1073

BincangSyariah.Com – Hati adalah raja dan anggota tubuh lainnya adalah bala tentaranya yang senantiasa akan tunduk pada raja. Membina hati agar terarah pada kebaikan dapat dimulai dari menumbuhkan rasa takut akan ancaman dan siksa Allah.

Para ulama salaf termotivasi oleh rasa takut mereka pada Allah sehingga senantiasa memperbaiki amalan-amalan mereka dan senantias berharap atas rahmat Allah. Oleh karenanya keadaan mereka membaik, cita-cita mereka suci, amalan-amalan mereka bersih.

Namun rasa takut sendiri tidak akan lengkap jika tidak bersamaan dengan harap kepada Allah. Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin menyebutkan bahwa perjalanan hati menuju Allah bagaikan burung. Kepalanya adalah cinta dan kedua sayapnya adalah takut dan harap. Jika kepala dan kedua sayapnya baik, maka itu adalah burung yang terbaik. Dan jika kepalanya terpenggal, maka burung itu mati.

Dan ketika kedua sayapnya patah, maka itu merupakan kesia-siaan bagi setiap usaha yang tidak bermakna. Namun para salaf senantiasa memperkuat dan menyegarkan kembali sayap rasa takut selama di dunia, ketika mereka keluar dari dunia, mereka menguatkan sayap harapan, dan hanya Allah yang dapat menyalurkan seluruh nikmat dan karuniaNya,

Takut dan harap kepada-Nya memang kesatuan yang tak terpisahkan. Namun tahukah jika berharap kepada Allah sebaiknya dengan harapan yang benar-benar besar? Melebihi besarnya rasa takut yang ada kepada-Nya. Abu Nu’aim Al Ashhabani menjelaskan dalam kitabnya Thawus Hilyatul Awliya sebagai berikut:

خف الله تعالى مخافة لا يكون عندك شيئ أخوف منه وأرجه رجاء هو أشد من خوفك إياه وأحب للناس ما تحب لنقسك

Takutlah kepada Allah sampai tak ada lagi yang kau takuti melebihi takutmu kepada-Nya dan berharaplah kepada-Nya dengan harapan yang melebihi takutmu kepada-Nya. Sukailah untuk orang lain apa yang kau sukai untuk dirimu sendiri.

Dengan demikian berharap kepada Allah dengan sebesar-besarnya harapan adalah bukahlah yang salah, bahkan jika harapan itu lebih besar adanya daripada rasa takut kepada-Nya. begitulah benang merah dari keteranga di atas.

Baca Juga :  Apakah Mani (Sperma) Itu Najis? Ini Pendapat Ulama Empat Mazhab

Pengharapan yang besar disini bukan berarti harapan yang kosong tanpa amal, melainkan pengharapan yang tinggi terhadap pahala-pahala di sisi Allah yang sesuai dengan amalan shalih yang telah dilkaukannya. Jika berharap besar tanpa amal, sebut saja itu khayalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here