Beretika Secara Islami di Era Digital

1
796

BincangSyariah.Com – Beretika secara islami di era digital sekarang ini bukan saja hak setiap individu, melainkan kewajiban dari individu itu sendiri. Hal ini didasari dengan banyaknya dalil Alquran yang memerintahkan umat Islam untuk selalu menjadi bagian dari golongan orang-orang yang berpikir. Namun kebebasan berpendapat saat ini bukan terbelenggu oleh satu hukum yang mengekang, tapi justru terbelenggu oleh kebebasan itu sendiri. Beretika di tengah kebebasan berpendapat menjadi oasis di tengah carut-marut warganet di era digital.

Dunia digital yang gandrung belakangan ini harus diakui banyak mengubah pola pikir dan juga budaya masyarakat Indonesia. Setiap isu sosial maupun politik yang aktual, menjadi bahan perbincangan para warganet. Berbagai komentar dilontarkan dari setiap isu yang mereka konsumsi. Alih-alih berkomentar memberi kritik, saran, ataupun pujian pada sebuah isu, tak sedikit warganet justru terjebak pada perdebatan yang tak jarang menuangkan sumpah serapah dan kata-kata yang tak elok.

Warganet cenderung mudah percaya pada satu kelompok, artikel, dan media tertentu. Akibat dari kepercayaan yang fanatik ini, warganet dengan mudah menyebarkan artikel atau postingan apapun yang berafiliasi oleh kelompok yang mereka percaya. Jika ada kelompok lain yang menyebarkan artikel, video, atau apapun yang tidak sesuai dengan golongannya, maka hal itu kerap dianggap melenceng dan sesat.

Kita tentu ingat bagaimana kasus yang pernah terjadi di dunia maya saat warganet dengan mudahnya menghina ulama, presiden, atau tokoh tertentu dengan kata-kata yang tak pantas. Mirisnya, terkadang kebencian yang mereka lontarkan justru didasari dari hal-hal fiktif atau fitnah yang mereka konsumsi setiap hari dari media digital. Padahal dalam Islam, Allah telah menegaskan dalam firmanNya Surat Al Hujarat ayat 6:

Baca Juga :  Tiga Hal yang Hilang dari Kita di Dunia Digital

ياايها الذين امنوا ان جاءكم فاسق بنباء فتبينوا ان تصيبوا قوما بجهلة فتصبحوا علي ما فعلتم نادمين

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Berkomentar di era digital tentu sangat diperlukan jika itu dirasa perlu dan dapat memberikan sumbangsih pemikiran serta kebaikan. Kritik dan saran merupakan hal yang baik, yang tidak baik adalah ketika kebencian atau ketidaksetujuan akan suatu hal malah bermuara pada cacian. Tentu sangat disayangkan sekali jika ada salah satu di antara bagian tubuh kita yang kita gunakan untuk hal yang merusak pribadi sendiri.

Mengikuti arus yang diciptakan buzzer di dunia digital dari golongan atau kelompok tertentu hanya akan membuat kita terjebak dalam kolam lumpur yang buram. Otak kita tidak bisa berpikir jernih, nurani kita terkubur dengki. Naudzubillah.

Kurangnya semangat saling menghargai dan mengkaji lebih teliti lagi adalah titik kelemahan para warganet hari ini. Sebagai umat yang memiliki kitab suci yang wahyu pertamanya adalah seruan untuk membaca, mengkaji, dan meniliti, kita tak boleh larut dalam arus digital yang diproduksi oleh segelintir golongan.

Dengan bersikap tenang, berperilaku, berkata-kata yang baik, kita bisa tetap bisa mengkritik dan memberi masukan pada setiap golongan yang dirasa apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan nurani dan akal kita. Dengan itu, mudah-mudahan apa yang kita sampaikan dengan kata-kata baik tersebut, kebaikannya dapat kembali ke diri kita sendiri.
Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here