Beredar Meme Menyebut Quick Count Sebagai Penyihir Firaun, Ini Makna Aslinya dalam Q.S al-A’raf: 116

1
496

BincangSyariah.Com – Kutip mengutip ayat al-Quran sebagai bentuk pembenaran dalam melakukan tindakan adalah sesuatu yang telah terjadi sejak zaman dulu. Apalagi ketika menyangkut perebutan kekuasaan. Orang-orang khawarij yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib berpegang pada ayat al-Quran. Begitu pun perseteruan dan perebutan kekuasaan di antara Bani Abbasiyyah dan Bani Umayyah, masing-masing mendaku paling berhak menduduki jabatan khalifah berdasarkan dalil al-Quran dan al-hadis.

Hal ini lumrah karena memang al-Quran merupakan kitab suci yang dihormati oleh seluruh umat Islam. Karenanya orang sekuat tenaga mencari ayat al-Quran sebagai pembenaran atas sesuatu yang diyakininya. Padahal belum tentu ayat al-Quran itu sesuai dengan tindakannya alias cocokologi.

Akibat tensi politik yang memanas selama rangkaian Pemilu 2019 terutama dalam Pilpres, mulai bermunculan meme dan flayer yang memakai ayat al-Quran. Contohnya adalah flayer yang digunakan salah satu kubu untuk mendiskreditkan lembaga survei terutama dalam hasil quick count yakni dengan Q.S al-A’raf: 16 yang bunyinya:

قَالَ أَلْقُوا فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

Dia (Musa) menjawab, “lemparkanlah (lebih dahulu)!” Maka setelah mereka melemparkan, mereka menyihir mata orang banyak dan menjadikan orang banyak itu takut, karena mereka memperlihatkan sihir yang hebat!

Sekilas kita bisa menangkap bahwa yang dimaksudkan oleh pembuat flyer ini adalah menyamakan lembaga survei dengan para penyihir, hasil quick count dengan sihir ular, dan secara tersirat menyamakan petahana dengan Fir’aun. Dan mereka, si pembuat flayer, memosisikan diri sebagai golongan Nabi Musa.

Penyihir pasti tidak sama dengan lembaga survei. Hasil quick count pasti tidak bisa disamakan dengan sihir. Apalagi menyamakan petahana dengan Fir’aun, raja yang mendaku sebagai Tuhan, tentu sangat berlebihan.

Baca Juga :  Dai Tak Pak Paham Alquran dan Hadis, Bolehkah Berdakwah?

Cocokologi ayat ini adalah tindakan yang gegabah dan kelewat batas. Al-Qur’an yang merupakan wahyu Allah swt, diturunkan dengan maksud membimbing umat manusia ke jalan kasih sayang dan semangat persaudaraan, diputar balikkan untuk menebar kebencian dan buruk sangka kepada semua pihak yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Tidakkah pembuat flyer ini takut dengan ancaman Nabi Muhammad saw dalam hadis sahih riwayat imam al-Bukhari:

إنَّ كَذِباً علَيَّ ليسَ ككَذِبٍ على أَحدٍ، مَن كذَبَ علَيَّ متَعمِّداً؛ فلْيتَبوَّأْ مقعَدَهُ منَ النارِ

“Sungguh berdusta atas namaku tidak sama dengan berbohong dengan atas nama orang lain. Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka bersiap-siaplah tempatnya ada di Neraka.”

Hadis di atas seringkali dikutip oleh para ulama untuk orang-orang yang memalsukan hadis, menggunakan hadis untuk memenuhi hasrat nafsunya dan sebagainya. Ini masih taraf hadis Nabi saw. Apalagi dengan ayat al-Quran? Pastinya ancaman Nabi saw lebih berat lagi.

Oleh karenanya, seyogyanya kita menyikapi pesta demokrasi atau Pemilu sewajarnya saja. Menang dan kalah biasa saja. Tidak perlu benci sebenci-bencinya kepada pihak lawan, begitu pun sebaliknya. Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here