Berdoa di Makam Para Wali, Sama dengan Minta Ke Penghuni Kubur?

0
2074

BincangSyariah.Com – Banyak dari ustadz kalangan Salafi ini ibarat dokter palsu (belajar dari internet) sering salah melakukan diagnosa. Salah satu permasalahan yang salah didiagnosa oleh golongan tersebut seperti jika seorang Muslim berziarah ke makam dan berdoa di sana, orang tersebut dianggap musyrik karena meminta kepada penghuni kuburan.

Padahal orang-orang yang berziarah tersebut dalam doanya menyebut Allahumma (Wahai Allah). Tapi kenapa kok disebut minta ke penghuni kuburan ?

Mereka yang ziarah ke makam para wali, Habaib, kyai dan sebagainya hanya berdoa di tempat itu. Bukan minta ke penghuni kuburan. Lalu bagaimana kita menyikapi pihak yang salah sangka terhadap sebagian saudaranya tersebut?

Mungkin kita bisa melihat dalam literatur islam klasik, apakah ada tuntunan doa di makam dari Nabi dan ulama? Dalil Hadis dapat kita dapatkan dari hadis yang diriwayatkan Sayidah Aisyah berkata:

ﺛُﻢَّ اﻧﻄﻠﻘﺖ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺛْﺮِﻩِ، ﺣَﺘَّﻰ ﺟَﺎءَ اﻟْﺒَﻘِﻴﻊَ ﻓَﻘَﺎﻡَ، ﻓَﺄَﻃَﺎﻝَ اﻟْﻘِﻴَﺎﻡَ، ﺛُﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺛَﻼَﺙَ ﻣَﺮَّاﺕٍ

“Kemudian saya berjalan di belakang Nabi. Hingga Nabi sampai di Baqi’ lalu Nabi berdiri lama. Nabi mengangkat kedua tangannya beberapa kali” (HR Muslim)

Dalam riwayat Sayidah Aisyah yang lain dalam Sahih Muslim bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selalu datang ke makam Baqi’ tiap Rasulullah menginap di kamar Aisyah. Ini menunjukkan tidak ada masalah berdoa kuburan. Dan kita ketahui di makam Baqi’ banyak para Sahabat dimakamkan.

Salah satu penjelasan ini bisa kita lihat dalam pendapat para Ulama. Salah satunya Murid Syekh Ibnu Taimiyah menulis dalam kitabnya:

ﻗُﻠْﺖُ: ﻭَاﻟﺪُّﻋَﺎءُ ﻣﺴﺘﺠﺎﺏ ﻋِﻨْﺪ ﻗُﺒُﻮْﺭ اﻷَﻧْﺒِﻴَﺎء ﻭَاﻷَﻭْﻟِﻴَﺎء، ﻭَﻓِﻲ ﺳَﺎﺋِﺮ اﻟﺒِﻘَﺎﻉ، ﻟَﻜِﻦ ﺳَﺒَﺐُ اﻹِﺟَﺎﺑَﺔ ﺣُﻀُﻮﺭُ اﻟﺪَّاﻋِﻲ، ﻭَﺧُﺸُﻮﻋُﻪُ ﻭَاﺑﺘِﻬَﺎﻟﻪ، ﻭَﺑﻼَ ﺭَﻳْﺐٍ ﻓِﻲ اﻟﺒﻘﻌَﺔِ اﻟﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺔ، ﻭَﻓِﻲ اﻟﻤَﺴْﺠَﺪِ، ﻭَﻓِﻲ اﻟﺴَّﺤَﺮ، ﻭَﻧَﺤْﻮِ ﺫَﻟِﻚَ، ﻳَﺘَﺤَﺼَّﻞُ ﺫَﻟِﻚَ ﻟﻠﺪَاﻋِﻲ ﻛَﺜِﻴْﺮاً، ﻭَﻛُﻞُّ ﻣﻀﻄﺮ ﻓﺪﻋﺎﺅﻩ ﻣﺠﺎﺏ.

Baca Juga :  Hukum Nikah Bagi Orang Gila

Saya (Adz-Dzahabi) berkata: Doa dikabulkan di dekat makam para Nabi dan wali, juga tempat yang lain. Namun sebab terkabulnya adalah kekhusyukan dan kesungguhan orang yang berdoa. Dan tidak ragu lagi adalah di tempat yang diberkahi, di masjid, di waktu sahur dan lainnya. Dalam keadaan seperti doa seseorang akan banyak dikabulkan. Setiap orang yang dalam keadaan darurat dikabulkan (Siyar A’lam An-Nubala’ 12/523)

Selain di kitab Imam Adz-Dzahabi, masih banyak penjelasan ulama yang menjelaskan demikian. Jika ingin menelusuri literatur-literatur tersebut silahkan diketik di beberapa kitab Thabaqat/ Rijalul Hadis dengan kata kunci:

والدعاء عند قبره مستجاب

“Dan berdoa di makamnya (para kekasih Allah) itu mustajab.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here