Berbaik Sangkalah kepada Allah

1
4219

BincangSyariah.Com – Hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik untuk kita, untuk itu tak ada alasan untuk tidak berbaik sangka kepadaNya. Hidup ini penuh dengan misteri. Kita belum tahu apa yang terjadi esok, atau bahkan kenyataan hari ini jauh dari keinginan yang kita dambakan. Titik inikah yang dinamakan kegagalan? Jawabannya adalah bukan. Apa yang terjadi hari ini adalah skenario terbaik dari Allah.

Allah berfiman dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ.

“Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku, karnanya hendaklah ia berprasangka semaunya kepada-Ku.”

Dengan keterbatasan pikiran manusia, alangkah indahnya jika kita menghiasi hidup dengan berbaik sangka kepada Allah. Dengan begitu kita bisa merasa nyaman dan berlapang dada dalam menjalani kehidupan ini. Terkadang kita sempat memikirkan sesuatu yang tidak baik yang belum terjadi, sehingga bayangan tersebut menghantui selalu dan membuat hati tidak tenang. Apabila kita mengalaminya saat ini, maka segeralah menepis pikiran tersebut. Kembalilah kepada Allah, hanya Allah yang tidak pernah mengecewakan kita.

Ibnu Atha’illah menuliskan dalam kitb Al-Hikam:

إِنْ لَمْ تُحْسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لِأَجْلِ وَصْفِهِ حَسِّنْ ظَنَّكَ بِهِ لِأَجْلِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ. فَهَلْ عَوَّدَكَ إِلَّا حُسْنًا؟ وَهَلْ أَسْدَى إِلَيْكَ إِلَّا مِنَنًا؟

“Bila kamu tidak berbaik sangka kepada Allah karena sifat (rahmat)-Nya, maka baik sangkalah karena perlakuan-Nya kepadamu. Tidakkah Allah telah membiasakanmu kecuali pada kebaikan? Tidakkah Allah memberimu kecuali berbagai anugerah-Nya?”

Beliau mengajarkan bahwa mentalitas percaya sepenuhnya kepada Allah tidak akan pernah ada pada diri seseorang kecuali dengan berprasangka baik kepada Allah. Berbaik sangka kepada Allah bisa dimulai dengan menyaksikan keindahan dan kesempurnaan-Nya. Mulai dari rahmat, kasih sayang, kemurahan, hingga takdir apapun yang dituliskan oleh-Nya tidak mengurangi sedikitpun untuk berbaik sangka kepada Allah.

Atau bisa juga kita mulai belajar berbaik sangka kepada Allah melalui kehendak Allah yang telah memberi kita banyak kenikmatan, ujian, dan rintangan hidup.

Kita menghadapi warna warni kehidupan tersebut dengan penuh syukur, kerelaan, tetap optimis dan berbaik sangka kepada Allah. Bagaimanapun kondisinya, jika dibekali dengan iman yang baik, maka kita  akan tetap berbaik sangka dan mengharap ridha-Nya. Dalam QS Al-Baqarah ayat 218 disebutkan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

1 KOMENTAR

  1. […] “Ada tiga keadaan orang sakit. Pertama, ketika penyakit diprediksi kritis sehingga membolehkan tayammum, maka penderita makruh untuk berpuasa. Ia diperbolehkan tidak berpuasa. Kedua, jika penyakit kritis itu benar-benar terjadi, atau kuat diduga kritis, atau kondisi kritisnya dapat menyebabkannya kehilangan nyawa atau menyebabkan disfungsi salah satu organ tubuhnya, maka penderita haram berpuasa. Ia wajib membatalkan puasanya. Ketiga, kalau sakit ringan yang sekiranya tidak sampai keadaan kritis yang membolehkan tayammum, penderita haram membatalkan puasanya dan tentu wajib berpuasa sejauh ia tidak khawatir penyakitnya bertambah parah. Sama status hukumnya dengan penderita sakit adalah buruh tani, petani tambak garam, buruh kasar, dan orang-orang dengan profesi seperti mereka.”Baca Juga :  Berbaik Sangkalah kepada Allah […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here