Berapakah Usia Anak Kecil Dianjurkan Berpuasa Ramadhan?

1
11479

BincangSyariah.Com – Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu dan dirindukan bagi setiap umat muslim, baik orang tua, dewasa, remaja maupun anak kecil. Banyak hal mengesankan yang hanya ada pada bulan suci Ramadhan. Euforia shalat tarawih bersama, membangunkan orang-orang sahur, makan sahur bersama dan buka bersama tidak mungkin didapatkan di bulan lain. Salah satu uforia Ramadhan lainnya adalah belajar berpuasa bagi anak-anak kecil yang belum baligh.

Memang syariat Islam tidak mematok usia berapa anak kecil harus berpuasa. Karena secara umum, kewajiban menjalankan syariat Islam adalah ketika sudah mencapai usia mukalaf atau aqil baligh. Anak laki-laki dinyatakan aqil baligh jika sudah mengeluarkan sperma atau bermimpi melakukan persetubuhan.

Sedangkan anak perempuan dinyatakan aqil baligh jika ia sudah mengalami menstruasi atau haid. Dan untuk hal ini usia masing-masing anak tidaklah sama, namun biasanya batas minimal anak mengalami hal tersebut adalah di usianya yang ke 9, sementara batas maksimalnya biasanya anak sudah berusia 15 tahun.

Namun, di dalam hadis shahih disebutkan bahwa anak yang sudah mencapai usia 7 tahun maka ia agar disuruh shalat, dan apabila ia sudah sampai berusia 10 tahun belum mau menjalankan shalat, maka bagi orang tuanya atau walinya boleh untuk memukulnya dengan pukulan yang mendidik. Hadisnya sebagaimana berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم علموا الصبي الصلاة وهو ابن سبع سنين واضربوه عليها وهو ابن عشر سنين.

Rasulullah Saw. bersabda, “ajarilah shalat kepada anak kalian pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka yang masih meninggalkan shalat (dengan pukulan yang tidak menyakitkan) ketika mereka menginjak usia sepuluh tahun” (HR. Al Tirmidzi).

Baca Juga :  Benarkah Shalat Jumat Dua Gelombang Tidak Boleh?

Oleh karena itu, jika dianologikan dengan shalat, maka anak yang berusia tujuh tahun hendaknya sudah disuruh untuk menjalankan puasa. Di dalam kitab Shahih al Bukhari pun terdapat bab khusus puasanya anak-anak “Babu Shaumis Shibyan”. Dalam pengantarnya imam al Bukhari mengutip perkataan khalifah Umar bin al Khattab yang sedang geram dengan ulah orang yang mabuk di bulan Ramadhan, seakan-akan ia tidak malu dengan anak-anak kecil yang sudah mau belajar berpuasa.

وقال عمر رضي الله عنه لنشوان في رمضان: ويلك، وصبياننا صيام، فضربه

Umar Ra. berkata kepada orang yang sedang mabuk di bulan Ramadhan: “Celakalah kamu, padahal anak-anak kecil kami berpuasa, maka ia pun memukulnya (sebagai hukuman baginya).”

Selain itu, imam al Bukhari juga memaparkan hadis riwayat seorang sahabat perempuan bernama al Rubayi’ binti Mu’awwidz.

قالت: أرسل النبي صلى الله عليه وسلم غداة عاشوراء الى قرى الأنصار: من أصبح  مفطرا فليتم بقية يومه، ومن أصبح صائما فليصم، قالت: فكنا نصومه بعد ونصوم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن، فاذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الافطار.

Rasulullah saw. mengutus (utusannya) ke kampung-kampung kaum Anshar pada pagi hari ‘Asyura’ (hari kesepuluh bulan Muharram) (dengan pesan): “siapa yang memasuki pagi hari ini dalam keadaan tidak berpuasa, maka hendaknya dia menyempurnakan waktu yang tersisa dari hari tersebut (dengan berpuasa), dan siapa yang memasuki pagi hari dalam keadaan berpuasa, maka hendaknya dia melanjutkan puasanya.”

Kemudian (dia al Rubayyi’) berkata: “maka kami telah melaksanakan puasa pada hari itu (asyura’), dan kami memerintahkan anak-anak kecil kami untuk berpuasa. Kamipun membuat mainan (anak-anak) yang terbuat dari wol. Jika salah satu dari mereka menangis karena ingin makan, maka kami memberinya mainan tersebut hingga datangnya waktu berbuka.”

Imam Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari-nya ketika memberikan penjelasannya terkait dalam bab puasanya anak-anak kecil tersebut mengatakan bahwa, menurut jumhur ulama tidak wajib menjalankan puasa bagi anak yang belum berusia baligh. Tetapi menurut meyoritas ulama salaf, di antaranya adalah imam Ibnu Sirin dan az-Zuhri mengatakan berhukum sunah berpuasa (di bulan Ramadhan) bagi anak-anak.

Baca Juga :  Hukum Ziarah Kubur saat Ramadan Bagi Perempuan

Imam Syafii pun mengamini pendapat tersebut dan beliau pun memberikan komentar bahwa anak-anak hendaknya memang sudah diperintah untuk menjalankan puasa karena sebagai latihan, jika mereka mampu. Adapun masalah usia latihan berpuasa bagi anak-anak ulama’-ulama’ syafiiyah memang menyamakan dengan perintah shalat, yakni di usia tujuh tahun dan sepuluh tahun (sebagaimana keterangan di atas).

Sementara itu, imam Ishaq membatasi di usia 12 tahun, dan imam Ahmad di suatu riwayat berpendapat 10 tahun. Dan pendapat yang paling aneh adalah pendapatnya Ibnul Majisyun dari kalangan Malikiyah yang mengatakan bahwa jika anak-anak itu telah mampu berpuasa, maka diwajibkan bagi mereka untuk berpuasa, dan jika ia tidak berpuasa karena tidak ada udzur maka ia wajib meng-qadha-nya.

Dan di akhir penjelasannya atas hadis tersebut, imam Ibnu Hajar menegaskan kembali bahwa di dalam hadis di atas merupakan dalil tentang disyariatkannya pelatihan puasa bagi anak-anak kecil (meskipun hadis tersebut merupakan hadis puasa Asyura’ yang berhukum fardlu sebelum diwajibkannya puasa bulan Ramadhan). Karena seseorang yang berada pada umur tersebut tidaklah tergolong seseorang yang terbebani hukum syariat (mukallaf). Namun, hal itu hanyalah dilakukan dalam rangka pelatihan.

Maka, jelaslah bagi kita bahwa anak-anak meskipun belum diwajibkan berpuasa, namun bagi orang tua hendaknya sudah melatihnya sebelum usia baligh. Sebagaimana hadis di atas yang menggambarkan bahwa di zaman Nabi Saw. dan Umar ra. anak-anak kecil sudah mulai dilatih berpuasa. Adapun usianya adalah disamakan dengan perintah shalat, yakni usia tujuh dan sepuluh tahun.

Agar anak tidak merasa kesulitan menjalankan puasa, kita bisa memberikan mainan atau motivasi sebagai hadiah sebagaimana alternatif yang telah disarankan oleh sahabat perempuan al Rubayi’  di dalam hadis di atas. Atau puasanya dilakukan sampai zuhur, yang disebut oleh masyarakat jawa dengan puasa bedug.

Baca Juga :  Memahami Tipologi Pemahaman Hadis Para Ulama

Sehabis makan, anak meneruskan kembali puasanya sampai terbenamnya matahari. Tahun berikutnya, ia berpuasa sampai waktu asar, dan tahun berikutnya lagi ia puasa shubuh sampai maghrib. Dengan cara melatih seperti ini insya Allah anak-anak tidak merasa kesulitan menjalankan ibadah puasa apabila ia telah mencapai usia aqil baligh.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here