Berapa Jumlah Minimal Peserta Jamaah Salat Id?

0
2632

BincangSyariah.Com – Ulama berbeda pendapat mengenai hukum pelaksanaaan salat Id (Idulfitri/Adha). Abdurrahman al-Jaziri mengatakan dalam kitabnya al-Fiqh ‘alaa al-Madzaahib al-arba’ah ada tiga pendapat mengenai hal tersebut.

Pertama, pendapat ulama Hanafiyah yang mengatakan salat Id wajib dikerjakan setiap muslim mukalaf. Kedua, pendapat ulama mazhab Hanbali yang mengatakan Salat Id hukumnya fardu kifayah yang mana jika telah ada yang mengerjakannya maka gugurlah kewajiban yang lain. Ketiga, menurut pendapat ulama mazhab Syafi’iyah dan Malikiyah, hukum mengerjakan salat Id adalah sunah muakad atau ibadah sunah sangat dianjurkan .

Tidak seperti salat Jumat yang disyaratkan minimal harus ada 40 peserta, dalam salat Id tidak ada ketentuan jumlah minimal peserta jamaahnya.  Sebab pada hari raya Idulfitri/Adha, semua umat Islam, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak, disunahkan untuk melaksanakan salat Id berjamaah.

Yang mana pelaksanaannya dilakukan Masjidul Bilad (masjid kota/desa) atau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Masjid Jami’. Namun jika masjid tidak cukup maka bisa dipusatkan di satu tempat yang luas. Demikian penjelasan Imam Nawawi dalam kitabnya yang berjudul al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab.

Adapun yang disyaratkan memiliki batasan jumlah minimal adalah ketika khutbah Id. Al-Jaziri mengatakan mayoritas ulama  mazhab Syafi’iyah dan Hanbali mensyaratkan bahwa suara khutbah minimal bisa didengar oleh empat puluh orang yang hadir sekalipun di antaranya ada orang yang tidak diwajibkan salat Jumat seperti anak-anak dan perempuan.

Namun yang menjadi permasalahan adalah ketika jamaah salat Id berakhir. Terkadang sebagian jamaah ada yang bersenda gurau dan tidak menghiraukan khutbah. Bahkan ada pula yang pergi meninggalkan tempat ketika khutbah berlangsung. Padahal mendengarkan khutbah termasuk kesunahan dalam salat Id.

Bahkan Nabi Muhammad Saw. pernah menegur jamaah wanita yang tidak mendengarkan ketika beliau sedang khutbah, sebagaimana dalam riwayat berikut ini

Baca Juga :  Idul Fitri, Zakat dan Relevansinya pada Nilai Kemanusiaan

عن ابن عباس  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خطب يوم العيد فرأى أنه لم يسمع النساء فأتاهن فذكرهن ووعظهن وأمرهن بالصدقة  رواه البخاري ومسلم 

Dari sahabat Ibnu Abbas berkata, “Sesunggunya Rasulullah Saw. Ketika khutbah pada hari raya Id, beliau melihat para wanita tidak mendengarkan. Maka beliau mendatangi mereka. Lalu beliau mengingatkan dan menasehati mereka. Kemudian menyuruh mereka untuk bersedekah.” (HR. Bukhari & Muslim)

Berdasarkan hadis di atas, meskipun mendengarkan khutbah bukan bagian dari syarat sahnya salat Id namun makruh hukumnya meninggalkan atau tidak mendengarkannya. Wallahu’alam.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here