Ketika Hendak Beramal, Sebaiknya Disembunyikan Atau Diperlihatkan?

0
720

BincangSyariah.Com – Nabi saw jauh-jauh hari sudah mengingatkan kepada umatnya akan hal yang paling beliau khawatirkan terjadi pada umatnya, dalam Ihya’ ‘Ulumiddin Imam Al-Ghazali mengutip sebuah hadis yang berbunyi demikian.

إن  أخوف ما أخاف على أمتي الرياء والشهوة الخفية

Sungguh hal yang paling aku takutkan atas umatku adalah riya’ dan syahwat yang samar

Dalam riwayat lain, menggunakan redaksi al-isyrok billah (menyekutukan Allah Swt). Yang dimaksud bukanlah menyekutukan-Nya dengan menyembah berhala-berhala, tapi menyekutukan Allah Swt dalam amal ibadah.

Apa maksudnya? Maksudnya adalah mengerjakan amal untuk mengharap balasan dari orang lain, baik dalam bentuk pujian, menjadi baik namany, dll. Mengapa riya’ sedemikian dikhawatirkan oleh Nabi Saw? Agaknya pernyataan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’-nya sudah cukup menjawab hal tersebut, beliau mengatakan

قد عرفت مما سبق أن الرياء محبط للأعمال وسبب للمقت عند الله تعالى وأنه من كبائر المهلكات

Telah engkau ketahui dari penjelasan yang telah lalu bahwa riya’ dapat melebur pahala amal ibadah dan bisa mendatangkan murka Allah dan sungguh riya’ adalah salah satu dari hal-hal besar yang dapat merusak seorang hamba

Sudah maklum bahwa amal yang dikerjakan di hadapan orang lain mempunyai potensi riya’ lebih besar dibanding amal yang dikerjakan dalam keadaan sepi, dan tidak ada orang yang mengetahui selain dirinya sendiri.

Namun, di sisi lain amal yang dilihat oleh orang lain bisa menjadi pemicu bangkitnya jiwa orang tersebut untuk ikut melaksanakan amal seperti dirinya. Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

Siapa saja yang menunjukkan pada kebaikan, maka dia mendapat pahala sebagaimana orang yang mengerjakan kebaikan tersebut mendapat pahala

Baca Juga :  Menyeimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat

Pertanyaannya, mana yang lebih diutamakan antara menyelamatkan ibadah dari riya dengan menyembunyikannya dari pandangan orang lain atau memperlihatkannya agar menjadi pemicu bangkitnya jiwa orang lain melaksanakan ibadah? Imam Abdullah Al-Haddad pernah ditanya mengenai hal ini, beliau menjawab

اعلم أن الإظهار أفضل لمن لا يخشى على نفسه الرياء ويرجو أن يقتدي به فيما يظهره أحد من أخوانه المؤمنين والإخفاء أفضل لمن يخشى الرياء ولا يرجو الإقتداء فإن أمن الرياء ولم يرج الإقتداء أو عكسه فالإخفاء أفضل أيضاً

Ketahuilah bahwa memperlihatkan ibadah pada orang lain lebih utama bagi orang yang tidak takut akan muncul riya’ pada dirinya dan ia berharap akan ada yang mengikuti amal ibadahnya tersebut. Dan menyembunyikan amal lebih utama bagi orang yang takut akan muncul riya’ dalam dirinya dan tidak berharap ada yang mengikutinya melakukan amal tersebut. Jika dia tidak takut akan muncul riya akan tetapi juka tidak ada potensi akan ada yang mengikutinya andai dia memperlihatkan ibadahnya, maka lebih utama melakukan ibadahnya secara sembunyi-sembunyi”

Fatwa beliau dibukukan dalam salah satu karya beliau Al-Nafais Al-‘Ulwiyyah. Memang beliau tidak menyebutkan secara langsung bagaimana jika dia takut akan muncul riya’ tapi dengan memperlihatkan amalnya akan menjadi motivasi bagi orang lain, namun secara implisit, seolah beliau mengatakan bahwa dalam keadaan demikian lebih baik tidak memperlihatkan amalnya pada orang lain, hal ini dipahami dari ucapan beliau ketika menjelaskan dalam keadaan bagaimana memperlihatkan amal dinilai lebih utama, beliau hanya menyebutkan satu keadaan yaitu ketika tidak takut akan muncul riya’ dan diharapkan akan ada yang mengikutinya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here