Benarkah Zara Zettira Menghina Pesantren terkait Tradisi Bisyarah?

0
680

BincangSyariah.Com – Sejumlah netizen di Twitter menunjukkan respon meradang dengan pernyataan akun bernama @zarazettirazr. Sosok kader Partai Demokrat dan sempat menjadi model terkenal dan penulis sejak era 90-an ini membagikan tautan berita yang berjudul “Skandal Bertubi-Tubi di Kemenag, Kasir pun Bisa Korupsi Rp 3,3 Miliar”. Kemudian, tautan tersebut disertai tweet “tradisi pesantren jangan dibawa ke Kementrian, camkan!”.

Pernyataan ini kemudian mengandung reaksi keras di jagad maya, hingga muncul tagar #zarazettirahinapesantren. Sebagian orang segera menggunakan tagar tersebut untuk menyampaikan aneka respon, mulai dari yang membela sampai yang mengkritik Zera habis-habisan. Guntur Romli, seorang politisi PSI misalnya mengatakan bahwa secara tak langsung Zera mengatakan kalau korupsi adalah tradisi pesantren.

Menurut penulis, yang menjadi problem dalam persoalan ini sebenarnya adalah mengapa Zara bisa menyimpulkan kalau fenomena maraknya “korupsi” di Kementerian Agama merupakan hasil pengaruh budaya pesantren. Memang, jika kita menelusuri yang berkomentar soal kasus ini – terutama dari pihak yang ingin “membela” – akan mengutip berita-berita terkait ungkapan pengacara salah seorang tersangka terkait suap terhadap Romahurmuzy.

Dalam berita tersebut, pengacara menyebutkan kalau kliennya, yang merupakan pejabat Kanwil Jawa Timur, tidak melakukan suap, namun memberikan bisyaroh. Dalam tradisi pesantren, bisyaroh yang dalam bahasa Arab arti asalnya adalah “sesuatu yang membuat senang” digunakan untuk menyebut pemberian apapun termasuk uang kepada sosok kyai atau ustadz yang menjadi guru para santri dan begitu dihormati. Mungkin, potongan informasi itu yang boleh jadi membuat ibu Zara Zettira menyimpulkan demikian.

Dalam perspektif penulis, semua orang memang tidak bisa dihalang-halangi di hari ini untuk menyampaikan pendapatnya, termasuk didalamnya kritik. Bahwa jika bercermin kepada berita-berita terkait problematika korupsi memang tidak bisa dipungkiri lagi kebenarannya. Mungkin, yang keliru dari bu Zara Zettira adalah ia langsung menggenaralisir keadaan bahwa tingginya kasus korupsi di lingkungan Kementerian Agama karena berasal dari budaya pesantren. Padahal, kebanyakan Pesantren serta para kyai yang memimpinya menjalankan roda gerak lembaga dengan uang yang mungkin sangat murah, dan kebanyakan adalah lembaga swasta. Ini berbeda dengan institusi pemerintah dengan para pegawai yang disebut ASN itu sudah mendapatkan gaji yang layak karena memang menjadi pelayan publik.

Baca Juga :  Perbudakan Bukan Tradisi Islam, Justru Islam Berupaya Menghapusnya

Pemberian “hadiah-hadiah” atau biasa dibingkai dengan istilah “ucapan terimakasih” memang beresiko jika diberikan untuk orang yang sudah menduduki jabatan publik. Menerima hadiah memang bukan sesuatu yang salah. Dalam ajaran Islam sendiri memang tidak dilarang memberi atau menerima hadiah. Namun, itu akan menjadi keliru jika hadiah itu mempengaruhi keputusan kita untuk memutuskan yang benar. Disinilah muncul relevansi pernyataan Umar bin ‘Abdul Aziz,

1كَانَتْ الْهَدِيَّةُ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدِيَّةً وَالْيَوْمَ رِشْوَةً.

Hadiah pada zaman Nabi adalah hadiah, tetapi hari ini adalah suap.

Maka, menurut penulis ibu Zara sebaiknya melakukan pernyataan terbuka untuk meminta maaf karena pendapatnya tidak tepat dan menyebabkan sejumlah orang yang menjadi bagian dari kehidupan di Pesantren menjadi tersinggung. Namun, menyatakan bahwa ucapan Ibu Zara tersebut bisa dipolisikan juga tidak tepat dan cenderung berlebihan. Selain itu, secara bersamaan kita tidak boleh menutup mata bahwa problematika korupsi dan sogok menyogok masih belum hilang dari kehidupan kita, paling tidak di lingkungan para pejabat pemerintahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here