Benarkah Tasawuf bukan Bagian dari Syariat Islam?

0
1942

BincangSyariah.Com – Dalam menilai sebuah praktik atau ajaran agama apakah itu sudah benar atau tidak, adalah dengan menilai apa yang dilakukan. Jika itu didasari oleh dalil yang diakui oleh agama, yaitu Alquran dan Sunah, maka praktik atau ajaran tersebut benar. Jika tidak sesuai dengan Alquran dan Sunah, maka praktik itu akan dinilai keliru. Termasuk dalam hal ini adalah praktik tasawuf.

Untuk menilai apakah tasawuf itu bagian dari ajaran Islam atau bukan, kita tinggal menilai apa yang dilakukan di dalamnya. Jika hanya menilai bahwa di zaman Nabi Saw. tidak ada tasawuf karena tidak pernah beliau sebutkan atau ajarkan secara rinci, ini adalah bentuk penilaian yang terburu-buru.

Bukankah ulama sufi sendiri, semisal Junayd al-Baghdadi, menyatakan bahwa mereka (para pengamal tasawuf) tidak sedang menyimpang dari Alquran dan Sunah. Ia mengatakan bahwa, “Cara kami (thariqatunaa) dalam beragama terikat dengan Alquran dan Sunnah.

Sebagai cerminan, di zaman Nabi Saw. sendiri belum ada disiplin ilmu tersendiri untuk menyimpulkan sebuah hukum, atau disebut Ushul al-Fiqh. Tapi faktanya adalah adanya penyimpulan atau pendapat tentang syariat di masa Nabi Saw. dan sahabat menunjukkan praktik istinbath al-ahkam dalam ushul fikih sudah ada, meski belum memiliki nama keilmuan yang spesifik.

Tasawuf juga demikian. Sebagian mencoba memperkuat “stigma” ini dengan menggunakan pendekatan bahasa. Dalihnya adalah kata tashawwuf bukan berasal dari kata shafaa yang berarti menyucikan diri, namun dari kata al-shuuf yang bermakna jubah kasar yang digunakan orang-orang saleh terdahulu sebagai tanda kesederhanaan dan zuhud dari dunia.

Menurut mereka yang menolak tasawuf, kebiasaan ini pertama kali muncul pada abad 2 H, tepatnya saat Hasan al-Bashri berinisiatif mengenakan pakaian tersebut karena ia merasa para penguasa saat itu sudah terlalu bermewah-mewah bahkan dalam urusan pakaian.

Baca Juga :  Orang Tua Meminta Kembali Barang Pemberian, Bolehkah?

Namun, Hasan al-Bashri sebenarnya tidak menghendaki itu terus-menerus, tapi karena beliau orang saleh akhirnya banyak yang menirukan secara terus-menerus. Permasalahannya adalah ketika menilai bahwa orang yang menirukan pakaian Hasan al-Bashri tersebut lalu terus berkembang menjadi ciri khusus orang yang menjalankan praktik tasawuf, sedang melakukan bid’ah yang sesat.

Kenyataannya, pemaknaan tentang asal usul kata tasawuf tidak tunggal. Mengutip ‘Ali Sami al-Nassyar dalam karyanya Nasy’atu al-Fikr al-Falsafi fi al-Islam, yang memahami kata al-tashawwuf terambil dari kata al-shuuf tersebut adalah bagian dari keragaman definisi tentang apa itu sufi.

Menurut al-Kalabadzi, dalam bukunya Atta’arruf li Madzhabi Ahli al-Tashawwuf ada sekian definisi tentang tasawuf salah satu adalah tasawuf berasal dari kata shuuf tadi. Namun, ada definisi lain misalnya terambil dari kata shafaa yang berarti murni atau bersih. Karena ahli tasawuf adalah man shafat lillahi mu’aamalaatuhu (siapa yang interaksinya dengan Allah murni/tidak menyekutukan dengan selain-Nya).

Ada lagi pembahasan menarik. Menurut al-Thusi dalam kitabnya Alluma’ fi al-Tashawwuf, kata sufi sebenarnya bukan hanya diambil dari kata shafaa ataupun shuf. Justru, kata tersebut berasal disinyalir berasal dari julukan bagi seorang saleh yang dijuluki shufi pada masa pra-Islam.

Kisah ini juga disebutkan oleh Ibn al-Jawzi dan Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Awliya, di mana Mekkah pernah suatu ketika kosong dari orang yang beribadah ke Ka’bah. Sampai suatu ketika muncul seorang laki-laki dari luar Mekkah yang bertawaf di Ka’bah, lalu orang-orang ramai menyebutnya shufi.

Junayd al-Baghdadi, tokoh yang dijuluki dengan Syaikh al-Shufiyah dalam Siyar A’laam al-Nubala, mengatakan kalau tasawuf adalah, “membebaskan yang Maha Terdahulu (Allah) dari yang baru (ciptaan), keluar dari negeri (untuk berkelana), memutus semua yang dicintai, meninggalkan yang dia tahu (dengan akal belaka) atau tidak, seseorang bersikap zuhud dengan apa yang dianugerahkan Allah, dan berharap apa yang akan Dia berikan (di Akhirat). Jika seseorang sudah demikian, Allah akan menganugerahinya tersingkap beragam ilmu.

Baca Juga :  Makna Jihad dalam Islam Bukan Hanya Perang

Dari beberapa pemaparan tentang asal usul kata tasawuf saja, kita mendapatkan gambaran bahwa tasawuf pada esensinya adalah bagian dari ajaran-ajaran Islam yang mendorong seorang hamba untuk menyembah dengan penuh keikhlasan kepada Allah Swt.

Seperti kata al-Thusi dalam karyanya Alluma’ fi al-Tashawwuf, seorang sufi ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai makna sebuah dalil atau ada pertentangan antara dua dalil, ia akan memilih untuk lebih berhati-hati (ihtiyath), dan memilih yang paling mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Wallahu A’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here