Benarkah Shalat Jumat Dua Gelombang Tidak Boleh?

1
1331

BincangSyariah.Com – PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah menerbitkan surat edaran mengenai protokol pelaksanaan shalat Jumat yang ditandatangani oleh Ketua Umum DMI H. Jusuf Kalla dan Sekretaris Jenderal DMI H. Imam Daruquthni. Yang menarik dari isi surat tersebut adalah poin 8b bunyi surat edaran yang mengimbau kebolehan daerah yang padat penduduknya untuk melaksanakan shalat Jumat dua gelombang. Artinya, ada jamaah gelombang 1 dan gelombang 2, yang mana jamaah gelombang 2 ini datang setelah jamaah jum’at gelombang satu sudah pada keluar semua. (Baca: Tidak Shalat Jumat Tiga Kali Berturut-turut karena Antisipasi Corona, Benarkah Jadi Kafir?)

Adapun dasar dari edaran ini adalah didasarkan pada Keputusan Fatwa MUI DKI Jakarta tahun 2001 dengan beberapa alasan di antaranya:

  1. Bolehnya ta’addudi al-jum’ah (melaksanakan shalat Jumat di beberapa tempat dalam satu waktu) karena alasan sulit mempertemukan dua kelompok umat Islam dalam satu masjid dan banyaknya jumlah jamaah
  2. Karena adanya tugas penting sehingga memaksa pembagian shift shalat Jumat, misalnya karena faktor menunggu kerja mesin industri yang mengharuskan adanya giliran menjaga
  3. Kaidah fiqih yang dijadikan landasan berangkat adalah al-masyaqqah tajlibu al-taisir (kesulitan mengharuskan menarik kemudahan).

Sebenarnya, memang ada lembaga fatwa lain di Eropa, tepatnya warga muslim Kanada, yang mengajukan fatwa kepada Lajnah Fatawi Syar’iyah di Kanada, yang mempersoalkan penunaian shalat Jumat dua gelombang, dengan latar belakang sempitnya tempat menunaikan Jumat sehingga memaksa harus mengadakan shalat Jumat dengan dua shift. Lajnah Fatawi Syar’iyah mereka menjawab dengan bunyi fatwa sebagai berikut:

إذا كان الأمر كما ورد في الاستفتاء، فإن اللجنة ترى أنه يجوز لهم تعدد الجمعة في المصر الواحد. فإذا لم يتيسر ذلك في مسجد آخر كما هو الحال بالنسبة للمسلمين المغتربين في بعض البلاد غير الإسلامية، فإذا وجد مكان آخر وأمكن جعله مصلى، فإنه يجوز إقامة الجمعة فيه، فإن لم يمكن ذلك، أو منعت الدولة ذلك، فإنه يجوز تعددها في نفس المسجد الواحد للضرورة، ويكون ذلك بعد انقضاء صلاة الجمعة، بأن يأتي إمام جديد ويخطب ويصلي الجمعة بالمصلين الذين قبلوا الانتظار والصلاة معه. وتوصي اللجنة هؤلاء المسلمين بأن يبحثوا عن مكان آخر يجعلونه مصلى لهم تؤدى فيه الجمعة في هذه الحالة.

Baca Juga :  Batas Minimal Jumlah Jamaah Shalat Jumat Menurut 4 Mazhab

Artinya:

“Jika realitas yang terjadi adalah sebagaimana digambarkan oleh pemohon fatwa, maka Lajnah Fatwa memandang bahwa sesungguhnya ta’addudi al-jum’ah bagi mereka adalah boleh, meski dalam satu lokasi wilayah. Bilamana kondisi ini juga masih belum memungkinkan sebab sulitnya mendapati masjid lain, sebagaimana kondisi yang dialami oleh kaum muslimin di sejumlah negara non-muslim, maka bila mereka mendapati adanya bangunan lain dan bisa dijadikan tempat menyelenggarakan shalat, maka sesungguhnya boleh mendirikan Jumat di tempat tersebut.

Bilamana hal ini juga tidak memungkinkan, atau sebab dilarang oleh negara tersebut untuk menunaikan Jumat di dalamnya, maka boleh melakukan shalat Jumat di masjid yang sama karena alasan dlarurah. Catatannya, bila penyelenggaraannya setelah shalat Jumat shift pertama selesai dari shalatnya, kemudian hadir imam jum’ah yang baru, berkhutbah, dan melaksanakan shalat jumlah bersama-sama dengan jamaah yang bersedia menunggu giliran kedua.

Namun, lajnah fatwa mewasiatkan kepada mereka kaum muslimin, hendaknya mencari tempat lain yang bisa dijadikan tempat shalat Jumat, dan selanjutnya menunaikan jum’atan di tempat baru tersebut.” (Fatwa ini terekam dalam Kitab Mausu’atu al-Fatawi al-Syar’iyah, dengan Nomor Fatwa 6282).

Bagaimana dengan muslim Indonesia menyikapi permasalahan shalat Jumat dengan 2 shift tersebut?

Ada beberapa pertimbangan dasar terkait dengan masalah kondisi yang dialami di Indonesia, yaitu: Pertama, muslim Indonesia mengikuti Empat Madzhab besar sehingga manhaj berpikir mereka harus mengikuti paradigma berfikir masing-masing Imam Madzhab yang dianutnya. Kedua, tempat shalat di Indonesia bisa ditemukan dalam jumlah banyak. Tidak hanya masjid jami’, melainkan mushalla-mushalla, atau gedung-gedung pertemuan, bisa disulap menjadi tempat menunaikan shalat Jumat. Ketiga, sebagian besar penduduk Indonesia mengikuti madzhab Imam Syafii, sehingga penyelesaiannya pun mengutamakan solusi dari Madzhab Syafii. Keempat, ada qaul qadim dari kalangan Madzhab Syafii, yang menyatakan bahwa shalat Jumat bisa dilaksanakan dengan minimal jumlah peserta sebanyak 3 orang dengan salah satunya menjadi imam, atau 4 orang dengan salah satunya menjadi imam. Pendapat tersebut merujuk pada:

Baca Juga :  Kepemimpinan adalah Amanat

Kitab Bughyatu al-Mustarsyidin, halaman 102:

ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻋﺪﻡ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺑﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻤﻞ ﻓﻴﻬﻢ ﺍﻟﻌﺪﺩ، ﻭﺍﺧﺘﺎﺭﺑﻌﺾ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ ﺟﻮﺍﺯﻫﺎ ﺑﺄﻗﻞ ﻣﻦ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺗﻘﻠﻴﺪﺍً ﻟﻠﻘﺎﺋﻞ ﺑﻪ

“Menurut pendapat yang kuat, menyatakan tidak sahnya shalat Jumat dengan orang yang tidak mampu menyempurnakan jumlah 40 orang. Namun, sebagian dari ashabu al-Syafii beropini akan kebolehan shalat Jumat dengan jumlah kurang dari 40 tersebut, dengan niat taqlid kepada Imam yang berpendapat demikian.”

Kitab Risalatu al-Jum’ah, halaman 5, yang menyatakan:

ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺳﺎﻟﻢ ﺍﻟﺤﻀﺮﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﻧﻤﺮﺓ 21 ﺍﻥ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲﺭﺣﻤﻬﺎﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺐ ﺍﻟﻌﺪﺩ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻨﻌﻘﺪ ﺑﻪ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺍﺭﺑﻌﺔ ﺍﻗﻮﺍﻝ ﻗﻮﻝ ﻣﻌﺘﻤﺪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﻭﻫﻮ ﻛﻮﻧﻬﻢ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﺸﺮﻭﻁ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ , ﻭﺛﻼﺛﺔ ﺍﻗﻮﺍﻝ ﻓﻲﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﺿﻌﻴﻔﺔ ﺍﺣﺪﻫﺎ ﺍﺭﺑﻌﺔ ﺍﺣﺪﻫﻢ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺛﻼﺛﺔ ﺍﺣﺪﻫﻢﺍﻻﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ ﺍﺛﻨﻰ ﻋﺸﺮ ﺍﺣﺪﻫﻢ ﺍﻻﻣﺎﻡ , ﻓﻌﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ ﻣﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﻭﺭﺿﺎﻩ ﺍﻥ ﻻﻳﺘﺮﻙ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﺎﻧﺄﺗﻲ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦﻫﺬﻩ ﺍﻻﻗﻮﺍﻝ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﻌﻠﻢ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺍﻧﻬﺎ ﻣﺘﻮﻓﺮﺓ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺸﺮﻭﻁ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺠﺪﻳﺪ ﻓﻴﺴﻦ ﺍﻋﺎﺩﺓ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﺑﻌﺪﻫﺎ ﺍﺣﺘﻴﺎﻃﺎ ﻓﺮﺍﺭﺍ ﻣﻦ ﺧﻼﻑ ﻣﻦ ﻣﻨﻌﻬﺎ ﺑﺪﻭﻥ ﺍﺭﺑﻌﻴﻦ ﺍﻫـ

Artinya:

“Berkata as-Syaikh Salim Al-Hudlori dalam kitabnya halaman 21, bahwa dalam Madzhab Syafi’i, ada ketentuan mengenai jumlah jamaah Jumat yang terbagi dalam empat pendapat. Pendapat yang mu’tamad berasal dari qaul jadid, yang mengharuskan jumlah jamaah jum’at terdiri dari 40 orang ahli jum’ah. Adapun tiga qaul lainnya, berasal dari Qaul Qodim dengan statusnya dla’if, yang menyatakan: a) jumlah jamaah bisa terdiri dari 4 orang, dengan salah satunya menjadi imam, b) 3 orang, dengan salah satunya menjadi imam, dan c) 12 orang, dengan salah satunya menjadi imam. (Baca: Argumen Shalat Jumat hanya 3 Orang dalam Kondisi Lockdown)

Baca Juga :  Hukum Minum Susu Hewan yang Haram Dimakan

Oleh karena itu, maka bagi orang yang berakal dan memang mencari ridha Allah Swt, semestinya tidak meninggalkan shalat Jumat, melainkan dengan jalan mengambil salah satu dari empat pendapat yang telah disebutkan ini. Bahkan, seandainya seseorang tidak tahu/ tidak yaqin bahwa shalat Jumatnya itu telah memenuhi syarat dari qaul pertama – yakni qaul jadid – atau tidak, maka baginya disunnahkan mengulang shalat dhuhur setelahnya, sebagai bentuk kehati-hatian dan solusi keluar dari khilaf ulama’ yang melarang bahwa jum’at tidak boleh kurang dari 40 jamaah.”

Dengan memakai pendapat ini, maka solusi menurut Madzhab Syafii bagi mayoritas muslim Indonesia adalah tidak menunaikan shalat Jumat dengan dua gelombang. Sebab, syarat pendirian shalat Jumat dalam Madzhab Syafii, adalah tidak harus berada di masjid, melainkan minimal ada di permukiman, sehingga rumah pun bisa dijadikan sebagai wahana melaksanakan shalat Jumat. (Baca: Bolehkah Tidak Shalat Jum’at karena Covid-19? Ini Penjelasan Kiai Cholil Nafis)

Alhasil, kondisi di Indonesia tidaklah sama sebagaimana yang dihadapi oleh Muslim Kanada yang menjadikan dasar pijakan bolehnya melakukan shalat Jumat dengan dua shift. Ketidaksamaan itu tidak hanya kondisi yang melingkupi, melainkan juga kemudahan mendapatkan tempat untuk menunaikan shalat Jumat dengan skala kecil, sebagaimana ditemukan dalam pendapat Imam Madzhab empat yang mu’tabar. Oleh karenanya, menyamakan kedua kondisi yang berbeda itu, dikenal sebagai qiyas ma’a al-fariq, yaitu qiyas yang disertai perbedaan illat yang melingkupi keluarnya hukum. Wallahu a’lam bi al-shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here