Benarkah Rasulullah Zalim Menikahi Aisyah Saat Masih Gadis? Berikut Jawaban Syekh al-Buthi

1
1811

BincangSyariah.Com – Kelirukah pandangan sayyidah Aisyah yang masih berumur enam tahun senang dan bahagia menikah dengan Rasulullah saw yang sudah berumur lima puluh tahun lebih?

Pertanyaan diatas dijawab oleh Dr. Said Ramadhan al-Buthi, salah seorang ulama kharismatik dalam bukunya “A’isyah Ummul Mu’minin” yang menjadi rujukan utama penulis dalam artikel ini.

pertama, semua ahli sejarah tidak pernah memberikan statemen apalagi data bahwa sayyidah A’isyah tertekan dan tidak bahagia menikah dengan Rasul pada saat itu.  Bahkan mereka mengatakan bahwa sayyidah A’isyah sangat senang dan cinta terhadap Nabi Muhammad saw. Terbukti dengan adanya banyak kisah-kisah romantis antar keduanya. Belum lagi sayyidah A’isyah pernah mengatakan bahwa tidak ada perempuan yang lebih bernasib baik daripada saya karena sudah dinikahi orang yang sangat agung dan sangat mulia.

Kedua, orang yang mempertanyakan kebahagiaan sayyidah Aisyah pada masa awal pernikahannya dengan Rasulullah pastinya, tidak mengenal nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah swt.

Dia tidak tahu betapa Nabi Muhammad saw menjadi manusia yang sangat luar biasa dimata Allah swt. Sehingga bisa menjadi manusia pilihan yang  tak tertandingi oleh ciptaan lainnya. Jika dia tahu pasti dia akan meyakini bahwa Sayyidah Aisyah sudah dipilihkan oleh Allah swt untuk menjadi istrinya dan tentunya Allah juga memberikan cinta ketenangan serta kebahagian dalam hatinya.

Ketiga, sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Rasululllah sendiri pasca wafatnya istri pertamanya sayyidah Khadijah belum memikirkan untuk menikah apalagi suka terhadap perawan yang masih belia seperti sayyidah A’isyah.

Dia ditawarkan oleh seorang perempuan untuk menikah dengan sayyidah A’isyah dan kemudian dia juga juga yang melamarkannya. Sementara kedua orang tuanya sama sekali tidak ada penolakan sama sekali.

Baca Juga :  Kenapa Sampai ada Sujud Syukur Prabowo dan Takbir Neno Warisman?

Bahkan mereka merasa tidak percaya atas lamaran itu mengingat kemuliaan dan ketinggian pangkat Rasulullah saw. ini artinya bahwa kejadian itu betul-betul murni pilihan Allah swt. Bukan semata-mata kehendak Nabi Muhammad saw.

Keempat, penyampaian perempuan atas kehendaknya untuk melamar sayyidah A’isyah menjadi istri Nabi Muhammad saw yang langsung diterima oleh sayyidah A’isyah berserta kedua orang tuanya tidak melahirkan kontroversi dan penolakan dari penduduk Mekkah pada saat itu.

Padahal mayoritas pada saat itu penduduk Mekkah masih banyak yang menjadi musuh Nabi Muhammad saw. Ini berarti bahwa hal demikian tidak bertentangan dengan fitrah manusia dan hukum alam.

Kelima, perlu dipahami bahwa ukuran kematangan perempuan dalam hal pertumbuhan seksualitas dan percintaan (masa pubertas) berbeda-beda sesuai dengan iklimnya masing-masing.

Negara yang tandus dan gersang tentunya berbeda dengan Negara yang beriklim tropis. Negara Timur Tengah dan Afrika yang pada umumnya gersang dan panas perempuannya cepat memasuki masa kematangan seksualitas.

Contohnya di Mesir, Sudan dan Negara Timur Tengah lainnya, perempuan yang sudah berumur sembilan hingga sepuluh tahun sudah memasuki masa pubertas. Berbeda dengan Negara-negara di Asia yang notabene beriklim tropis tentunya umur sembilan sampai sepuluh tahun perempuan belum mengalami masa pubertas.

Ini berarti bahwa masa pubertas yang ditandai dengan adanya ketertarikan dan kecintaaan terhadap lawan jenis tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya. Sedang cinta tidak bisa diukur dengan akal dan logika.

Buktinya banyak kok perempuan di Negara kita yang mencintai dan kemudian menikah dengan laki-laki yang sudah tua dan kakek-kakek.

Disarikan dari: Dr. Said Ramadan al-Buthi, A’isyah Ummul Mu’minin Ayyamuha wa Siratuha al-Kamilah fi Shafhat, Karya Dr. Said Ramadhan al-Buthi (Maktabah al-Farabi), hal. 9-27.

Baca Juga :  Saat Sayyidah Aisyah Difitnah Berselingkuh, Ini 4 Respon Para Sahabat Nabi

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here