Benarkah Peristiwa Isra Mi’raj Buktikan Allah Bertempat di Langit?

5
1285

BincangSyariah.Com – Perdebatan klasik yang masih saja diulang-ulang oleh sebagian teolog Islam hingga hari ini adalah masalah keberadaan Allah. Seorang muslim, menurut pemahaman mereka, harus meyakini bahwa Allah Swt berada di langit. Dalil-dalil dari al-Qur’an maupun hadis tidak lupa mereka kutip untuk menguatkan keyakinan tersebut seperti misalnya Q.S. al-A’raf : 54, Q.S. Yunus : 3, Q.S. al-Ra’d : 2, Q.S. Thaha : 5, Q.S. al-Furqan : 59, dan Q.S. al-Sajadah : 59 yang secara teks menyebutkan bahwa Allah bersemayam di atas Arasy (langit).

Selain itu, mereka juga berdalil dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Muawiyah ibn al-Hakam al-Sulami di mana dia mempunyai seorang budak perempuan yang ingin dia merdekakan, lalu ia membawanya kepada Rasulullah. Untuk memastikan kemuslimannya, Rasul lantas bertanya kepada sang budak, “di mana Allah.?” Lalu dia menjawab, “di langit”. Kemudian Rasul bertanya lagi, “siapa saya.?”. Ia menjawab, “Engkau utusan Allah”. Mendengarkan jawaban tersebut, Rasulpun berkata kepada Muawiyah ibn al-Hakam, “Merdekakanlah dia, karena dia sudah beriman!

Para teolog yang bersikeras mengatakan Allah di langit berdalil dengan teks hadis tersebut. Mereka menganggap pembenaran Nabi terhadap jawaban budak perempuan tersebut mengandung isyarat bahwa setiap muslim harus meyakini bahwa Allah berada di langit. Mengingkari keberadaan Allah di langit adalah salah satu bentuk ta’thil (menghilangkan sifat Allah). Demikian pula dengan hadis masyhur riwayat al-Bukhari dan Muslim yang menerangkan peristiwa isra’ dan mi’raj-nya Nabi. Mereka mengklaim bahwa hal itu merupakan bukti kongkrit bahwa Allah Swt berada di langit. Tepatkah keyakinan seperti ini? Mari kita bahas!

Baca Juga :  Banyak Bersyukur Merupakan Kunci Sukses

Dalam memahami perkara ketuhanan atau yang disebut juga dengan Ilmu Tauhid, diperlukan dalil-dalil naqli dan aqli yang benar. Dalil Naqli diambilkan dari teks al-Qur’an dan Hadis-Hadis sahih, sementara dalil aqli dipergunakan untuk merasionalkan dalil-dalil naqli tersebut. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi antar satu sama lain. Tidak mungkin kebenaran akan ditemukan dengan hanya mengandalkan teks-teks yang tidak dirasionalkan. Begitu juga kebenaran juga akan bersifat nisbi jika hanya mengandalkan akal semata.

Untuk konteks persoalan di atas, mayoritas ulama salaf dan khalaf meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang bersifat dengan sifat-sifat kemuliaan dan kesempurnaan yang berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Sifat ini mereka istilahkan dengan mukhalafatuhu li al-hawadits (berbeda dengan yang baharu). Dalil yang mereka gunakan adalah Q.S. al-Syura : 11 yang menegaskan bahwa tidak satupun zat selain Allah yang menyerupai wujud, sifat, ataupun perbuatan-Nya. Konsep ini pada tahapan selanjutnya menjadi kaedah universal dalam memahami eksistensi Allah Swt.

Dengan demikian, ketika Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, maka di saat yang sama tidak mungkin sifat-sifat makhluk yang hina ini dinisbatkan kepada Allah yang mulia. Salah satu satu sifat makhluk adalah membutuhkan ruang dan waktu untuk berdiri, duduk, berbaring dan sebagainya. Bisa dikatakan mustahil jika ada makhluk, tapi dia tidak mengambil tempat sedikitpun dari alam semesta ini. Kesimpulannya adalah jika demikian halnya (mengambil tempat adalah sifat makhluk) maka amat sangat naif menisbatkannya kepada Zat yang menciptakan tempat dan waktu itu sendiri, yaitu Allah Swt.

Sebagaimana yang diketahui juga bahwa Allah bersifat qadim (terdahulu dari semua zat yang ada), sehingga jika keyakinan Allah bertempat ini masih dipaksakan, maka pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah di mana Allah ketika ruang dan waktu itu belum Ia ciptakan.? Jika Allah bertempat di Arasy, mana yang lebih besar antara Allah dengan tempat duduk-Nya.? Jika Allah lebih besar maka bagaimana mungkin Ia bisa duduk di tempat yang lebih kecil dari-Nya.? Sebaliknya, jika tempat duduknya lebih besar dari Allah, lantas di mana letak kemahabesaran dan kemahaagungan-Nya di hadapan makluk-Nya.?

Baca Juga :  Tafsir Surah Yasin Ayat 65; 4 Alasan Mulut Tak Bisa Berbicara pada Hari Kiamat

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis lain yang bermunculan jika keyakinan Allah bertempat di arah atas (langit) itu tetap terus diyakini dan dipaksakan kepada semua umat Islam. Lantas bagaimana cara memahami ayat dan hadis-hadis di atas yang seakan-akan menunjukkan bahwa Allah berada di langit atau di atas ‘arasy.? Al-Ghazali menjawab dalam karyanya al-Iqtishad fi al-I’tiqad penyebutan langit dalam pertanyaan Nabi tersebut sengaja untuk menguji tingkat keimanan seorang awam yang biasanya meyakini Tuhan itu Maha Tinggi dan kemahatinggiannya dipahami dengan eksistensinya yang berada di arah atas (langit).

Karena Nabi mengetahui kalau budak tersebut masih awam dan sebelumnya adalah non muslim, maka beliaupun bertanya kepadanya dengan pertanyaan global yang sangat mendasar. Tujuannya hanya untuk mengetahui apakah dia beriman atau tidak? Jadi hadis itu sama sekali tidak dimaksudkan Nabi untuk menyatakan bahwa Allah Swt bertempat di langit, tapi hanya semata-mata untuk memastikan keimanan sang budak tersebut terhadap eksistensi Allah Swt. Hal ini, menurut al-Ghazali juga bisa dikaitkan dengan pertanyaan kenapa kita berdoa dengan menghadap ke arah langit? Jawabannya adalah karena melihat ke arah atas (langit) itu adalah simbol kehinaan diri yang senantiasa harus direndahkan di hadapan Tuhan semesta alam. Bukan berarti kita meyakini bahwa Allah itu berada di langit.

Begitu juga dengan riwayat yang menyebutkan Nabi melakukan mi’raj ke sidratul muntaha. Kenapa Nabi mi’raj harus ke langit atau sidratul muntaha? Jawabannya adalah hanya sebagai pembuktian kemahabesaran Allah yang identik dengan ketinggian dan ketidakterjangkauan. Sementara tempat yang paling agung menurut perspektif manusia pada umumnya adalah langit, maka Nabipun dimikrajkan Allah hingga sampai kelangit tertinggi. Pada dasarnya mungkin saja bagi Allah untuk memikrajkan Nabi ke dasar lautan, ke dasar bumi, atau ke tempat lain, namun karena langit sebagai isyarat ketinggian, maka Allah pun memilihnya.

Baca Juga :  Pesan Imam al-Ghazali tentang Tiga Macam Kesabaran

Keyakinan Allah ada tanpa ruang dan tempat ini adalah keyakinan mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini juga dijelaskan secara panjang lebar oleh Imam al-Nawawi dalam syarah Muslim-nya ketika menjelaskan hadis di atas. Beliau menyebutkan bahwa penyebutan langit pada hadis tersebut hanya karena langit dijadikan sebagai kiblat dalam berdoa sebagaimana halnya kakbah ditetapkan Allah sebagai kiblat dalam melaksanakan salat. Bukan berarti Allah hanya bertempat di langit dan di Kakbah saja, namun itu hanya sebatas penyatuan arah dalam berdoa dan salat, tidak yang lain. Allahu A’lam

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

5 KOMENTAR

  1. Langit yang yang dimaksud dalam beberapa hal adalah dalam alam ruh bukan alam kita ini, buktinya nabi bisa bertemu dengan para nabi yang terdahulu, apakah kita tidak percaya kalau para nabi terdahulu telah meninggal? Jika Allah diatas langit dunia maka Allah lebih kecil dari alam ini sedang kita mengakui sifat Allah adalah maha Agung. Wallahu a’lam.

  2. “Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Beliau menjawab, “Dia berada di ‘amaa, tidak ada di atas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya diatas air”. (HR. Tirmidzi).
    kemudiaan Dia menciptakan Arsy-NYA diatas air yg bermakna memulai penciptaan dari sel-sel sehingga menjadi makhluk-makhluk yg dikehendakiNYA, oleh sebab itu ada firman yg berbunyi sbb.
    “Sesungguhnya Rabb kamu Dia-lah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (QS. Yuunus [10] : 3)

    kita ini adalah sel yg tidak terpisahkan dengan alam semesta ini karena saling membutuhkan.
    bersemayam di atas arsy bermakna di atas makhluk yg menguasai makhluk sebagai Tuhan seluruh makhluk.yg tidak sama dengan makhlukNYA.

    ustadz sayyid habib yahya

  3. أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَا
    Apakah kamu merasa aman terhadap Allâh yang berada di atas langit… [Al-Mulk/67:16]

    coba di tafsirin? atau anda mentakwil?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here