Benarkah Peristiwa Isra Mi’raj Buktikan Allah Bertempat di Langit?

11
3358

BincangSyariah.Com – Perdebatan klasik yang masih saja diulang-ulang oleh sebagian teolog Islam hingga hari ini adalah masalah keberadaan Allah. Seorang muslim, menurut pemahaman mereka, harus meyakini bahwa Allah Swt berada di langit. Dalil-dalil dari al-Qur’an maupun hadis tidak lupa mereka kutip untuk menguatkan keyakinan tersebut seperti misalnya Q.S. al-A’raf : 54, Q.S. Yunus : 3, Q.S. al-Ra’d : 2, Q.S. Thaha : 5, Q.S. al-Furqan : 59, dan Q.S. al-Sajadah : 59 yang secara teks menyebutkan bahwa Allah bertempat di langit atau bersemayam di atas Arasy.

Selain itu, mereka juga berdalil dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersumber dari Muawiyah ibn al-Hakam al-Sulami di mana dia mempunyai seorang budak perempuan yang ingin dia merdekakan, lalu ia membawanya kepada Rasulullah. Untuk memastikan kemuslimannya, Rasul lantas bertanya kepada sang budak, “di mana Allah.?” Lalu dia menjawab, “di langit”. Kemudian Rasul bertanya lagi, “siapa saya.?”. Ia menjawab, “Engkau utusan Allah”. Mendengarkan jawaban tersebut, Rasulpun berkata kepada Muawiyah ibn al-Hakam, “Merdekakanlah dia, karena dia sudah beriman!

Para teolog yang bersikeras mengatakan Allah di langit berdalil dengan teks hadis tersebut. Mereka menganggap pembenaran Nabi terhadap jawaban budak perempuan tersebut mengandung isyarat bahwa setiap muslim harus meyakini bahwa Allah berada di langit. Mengingkari keberadaan Allah di langit adalah salah satu bentuk ta’thil (menghilangkan sifat Allah). Demikian pula dengan hadis masyhur riwayat al-Bukhari dan Muslim yang menerangkan peristiwa isra’ dan mi’raj-nya Nabi. Mereka mengklaim bahwa hal itu merupakan bukti kongkrit bahwa Allah Swt berada di langit. Tepatkah keyakinan seperti ini? Mari kita bahas!

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Kisah Indah Laits Ibn Sa’ad

Dalam memahami perkara ketuhanan atau yang disebut juga dengan Ilmu Tauhid, diperlukan dalil-dalil naqli dan aqli yang benar. Dalil Naqli diambilkan dari teks al-Qur’an dan Hadis-Hadis sahih, sementara dalil aqli dipergunakan untuk merasionalkan dalil-dalil naqli tersebut. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi antar satu sama lain. Tidak mungkin kebenaran akan ditemukan dengan hanya mengandalkan teks-teks yang tidak dirasionalkan. Begitu juga kebenaran juga akan bersifat nisbi jika hanya mengandalkan akal semata.

Untuk konteks persoalan di atas, mayoritas ulama salaf dan khalaf meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang bersifat dengan sifat-sifat kemuliaan dan kesempurnaan yang berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Sifat ini mereka istilahkan dengan mukhalafatuhu li al-hawadits (berbeda dengan yang baharu). Dalil yang mereka gunakan adalah Q.S. al-Syura : 11 yang menegaskan bahwa tidak satupun zat selain Allah yang menyerupai wujud, sifat, ataupun perbuatan-Nya. Konsep ini pada tahapan selanjutnya menjadi kaedah universal dalam memahami eksistensi Allah Swt.

Dengan demikian, ketika Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, maka di saat yang sama tidak mungkin sifat-sifat makhluk yang hina ini dinisbatkan kepada Allah yang mulia. Salah satu satu sifat makhluk adalah membutuhkan ruang dan waktu untuk berdiri, duduk, berbaring dan sebagainya. Bisa dikatakan mustahil jika ada makhluk, tapi dia tidak mengambil tempat sedikitpun dari alam semesta ini. Kesimpulannya adalah jika demikian halnya (mengambil tempat adalah sifat makhluk) maka amat sangat naif menisbatkannya kepada Zat yang menciptakan tempat dan waktu itu sendiri, yaitu Allah Swt.

Sebagaimana yang diketahui juga bahwa Allah bersifat qadim (terdahulu dari semua zat yang ada), sehingga jika keyakinan Allah bertempat ini masih dipaksakan, maka pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah di mana Allah ketika ruang dan waktu itu belum Ia ciptakan.? Jika Allah bertempat di Arasy, mana yang lebih besar antara Allah dengan tempat duduk-Nya.? Jika Allah lebih besar maka bagaimana mungkin Ia bisa duduk di tempat yang lebih kecil dari-Nya.? Sebaliknya, jika tempat duduknya lebih besar dari Allah, lantas di mana letak kemahabesaran dan kemahaagungan-Nya di hadapan makluk-Nya.?

Baca Juga :  Apakah Otomatis Setiap Hadis Sahih Diamalkan dan Hadis Dhaif Ditolak?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis lain yang bermunculan jika keyakinan Allah bertempat di arah atas (langit) itu tetap terus diyakini dan dipaksakan kepada semua umat Islam. Lantas bagaimana cara memahami ayat dan hadis-hadis di atas yang seakan-akan menunjukkan bahwa Allah berada di langit atau di atas ‘arasy.? Al-Ghazali menjawab dalam karyanya al-Iqtishad fi al-I’tiqad penyebutan langit dalam pertanyaan Nabi tersebut sengaja untuk menguji tingkat keimanan seorang awam yang biasanya meyakini Tuhan itu Maha Tinggi dan kemahatinggiannya dipahami dengan eksistensinya yang berada di arah atas (langit).

Karena Nabi mengetahui kalau budak tersebut masih awam dan sebelumnya adalah non muslim, maka beliaupun bertanya kepadanya dengan pertanyaan global yang sangat mendasar. Tujuannya hanya untuk mengetahui apakah dia beriman atau tidak? Jadi hadis itu sama sekali tidak dimaksudkan Nabi untuk menyatakan bahwa Allah Swt bertempat di langit, tapi hanya semata-mata untuk memastikan keimanan sang budak tersebut terhadap eksistensi Allah Swt. Hal ini, menurut al-Ghazali juga bisa dikaitkan dengan pertanyaan kenapa kita berdoa dengan menghadap ke arah langit? Jawabannya adalah karena melihat ke arah atas (langit) itu adalah simbol kehinaan diri yang senantiasa harus direndahkan di hadapan Tuhan semesta alam. Bukan berarti kita meyakini bahwa Allah itu berada di langit.

Begitu juga dengan riwayat yang menyebutkan Nabi melakukan mi’raj ke sidratul muntaha. Kenapa Nabi mi’raj harus ke langit atau sidratul muntaha? Jawabannya adalah hanya sebagai pembuktian kemahabesaran Allah yang identik dengan ketinggian dan ketidakterjangkauan. Sementara tempat yang paling agung menurut perspektif manusia pada umumnya adalah langit, maka Nabipun dimikrajkan Allah hingga sampai kelangit tertinggi. Pada dasarnya mungkin saja bagi Allah untuk memikrajkan Nabi ke dasar lautan, ke dasar bumi, atau ke tempat lain, namun karena langit sebagai isyarat ketinggian, maka Allah pun memilihnya.

Baca Juga :  Hukum Bersuci dari Najis Menggunakan Air Zamzam, Apakah Boleh?

Keyakinan Allah ada tanpa ruang dan tempat ini adalah keyakinan mayoritas ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini juga dijelaskan secara panjang lebar oleh Imam al-Nawawi dalam syarah Muslim-nya ketika menjelaskan hadis di atas. Beliau menyebutkan bahwa penyebutan langit pada hadis tersebut hanya karena langit dijadikan sebagai kiblat dalam berdoa sebagaimana halnya kakbah ditetapkan Allah sebagai kiblat dalam melaksanakan salat. Bukan berarti Allah hanya bertempat di langit dan di Kakbah saja, namun itu hanya sebatas penyatuan arah dalam berdoa dan salat, tidak yang lain. Allahu A’lam

 

11 KOMENTAR

  1. Langit yang yang dimaksud dalam beberapa hal adalah dalam alam ruh bukan alam kita ini, buktinya nabi bisa bertemu dengan para nabi yang terdahulu, apakah kita tidak percaya kalau para nabi terdahulu telah meninggal? Jika Allah diatas langit dunia maka Allah lebih kecil dari alam ini sedang kita mengakui sifat Allah adalah maha Agung. Wallahu a’lam.

  2. “Wahai Rasulullah dimana dahulu Rabb kita berada sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Beliau menjawab, “Dia berada di ‘amaa, tidak ada di atas dan bawahnya udara, kemudian dia menciptakan Arsy-Nya diatas air”. (HR. Tirmidzi).
    kemudiaan Dia menciptakan Arsy-NYA diatas air yg bermakna memulai penciptaan dari sel-sel sehingga menjadi makhluk-makhluk yg dikehendakiNYA, oleh sebab itu ada firman yg berbunyi sbb.
    “Sesungguhnya Rabb kamu Dia-lah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.” (QS. Yuunus [10] : 3)

    kita ini adalah sel yg tidak terpisahkan dengan alam semesta ini karena saling membutuhkan.
    bersemayam di atas arsy bermakna di atas makhluk yg menguasai makhluk sebagai Tuhan seluruh makhluk.yg tidak sama dengan makhlukNYA.

    ustadz sayyid habib yahya

  3. أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَا
    Apakah kamu merasa aman terhadap Allâh yang berada di atas langit… [Al-Mulk/67:16]

    coba di tafsirin? atau anda mentakwil?

  4. apakah anda pernah menjumpai firman bahwa Allah S.W.T berada di bawah tanah?
    tidak ada bukan?walaupun Dia berkuasa di bawah tanah.
    Diatas langit menunjukkan bahwa Dia berkuasa atas keseluruhannya,bukan menunjukkan tempatnya.

    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

  5. […] BincangSyariah.Com – Sebelum membahas masalah ini lebih jauh, pemahaman umum yang tersebar dalam masyarakat tentang waktu terjadinya peristiwa isra Mi’raj adalah pada tanggal 27 bulan Rajab. Namun pada tulisan ini kita akan memaparkan ragam keterangan dan data yang menunjukkan waktu terjadinya peristiwa Isra Mi’raj selain daripada pendapat yang telah familiar tersebut. (Baca: Benarkah Peristiwa Isra Mi’raj Buktikan Allah Bertempat di Langit?) […]

  6. […] BincangSyariah.Com – Terkait peristiwa Isra Mi’raj, apakah yang diberangkatkan itu jasad Nabi atau ruh beliau saja? Ulama klasik sudah membicarakan hal ini sejak dulu.  Fakhruddin al-Razi dalam tafsir Mafatihul Ghaib (20/148) menjelaskan bahwa sebagian besar ulama sepakat bahwa Nabi pergi Isra Mi’raj beserta dengan jasad beliau. Hanya ada sebagian kecil pendapat yang menyebutkan Rasulullah Saw hanya berangkat dengan Ruhnya saja. (Baca: Benarkah Peristiwa Isra Mi’raj Buktikan Allah Bertempat di Langit?) […]

  7. Di artikel BincangSyariah.com diatas di sebutkan bahwa “Mengambil tempat adalah sifat makhluk, maka amat sangat naif menisbatkannya kepada Zat yang menciptakan tempat dan waktu itu sendiri, yaitu Allah ” .

    Lantas , bagaimana dengan sifat “Melihat, mendengar, berbicara, mencintai, menyayangi, mempunyai tangan, mata, dsb.” Kan sifat-sifat tersebut adalah merupakan sifat² makhluk juga? Dan Alloh sendiri yg berfirman dlm Al-Qur’an yg menerangkan bahwa “Alloh maha melihat, maha mendengar, Alloh dapat berbicara, Alloh mencintai Hamba-Nya yg beriman dan bertaqwa, Alloh akan menggulung langit dengan tangan kanan-Nya, dsb” . Bukankah Hal ini menerangkan bahwa “Tdk ada salahnya sifat² makhluk tsb di miliki juga oleh Alloh, termasuk sifat bersemayam “, namun kita sebagai pengikut salafush sholih harus menyakini bahwa sifat² Alloh itu berbeda dengan sifat² makhluk-Nya.

    Melihat-Nya Alloh , pasti berbeda dengan cara melihatnya Makhluk-Nya

    Mata-Nya Alloh , pasti berbeda dengan mata makhluk-Nya.

    Wong mata sesama makhluk Alloh saja berbeda ko, ( contoh : mata manusia dengan mata kucing, mata ikan, mata nyamuk, mata kutu, mata cacing, dsb) , apalagi mata-Nya Alloh pasti berbeda dengan mata Makhluk-Nya.

    Begitupun mendengar-Nya Alloh pasti berbeda dengan mendengarnya Makhluk-Nya,

    Mencintai-Nya Alloh, pasti berbeda dengan sifat mencintainya makhluk-Nya.

    Begitupun dengan bersemayam-Nya Alloh di atas ‘Arsy, pasti berbeda dengan cara bersemayamnya makhluk Alloh di muka bumi ini maupun makhluk Alloh yg ada di langit.

    Jadi, kesimpulannya adalah , tugas kita hanya sebatas mengimani apa yg Alloh terangkan di dalam Al-Qur’an sesuai dengan pemahamannya Rosuululloh dan para sahabatnya, serta meyakini bahwa sifat² yg di miliki Alloh , pasti berbeda dengan sifat² yg di miliki makhluk-Nya.

    Wallohu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here