Benarkah Pelaku Homoseksual Harus Dihukum dengan Dibakar?

0
577

BincangSyariah.Com – Ulama sepakat mengenai keharaman hubungan sesama jenis. Akan tetapi, ulama berbeda pendapat mengenai hukuman bagi pelaku homoseksual. Terdapat pendapat yang sangat keras yang menyatakan bahwa hukuman pelaku homoseksual itu harus dibakar atau dibunuh. Tentu pendapat ini sangat keras sekali untuk konteks di Indonesia saat ini.

Di Indonesia sendiri, perkawinan homoseksual tidak diakui oleh hukum Indonesia, berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan). Sementara itu, hukum Indonesia hanya memberikan hukuman pidana bagi pelaku homoseksual yang mencabuli sesama jenis di bawah umur dengan pidana 5 tahun penjara. Sebagaimana dikutip dari Hukumonline, ini sesuai dengan Pasal 292 KUHP yang berbunyi:

Orang yang cukup umur, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, 

Dalam hukum Islam, terdapat 3 orang yang tidak terkena beban hukum, yaitu anak kecil yang belum balig, orang tidur, dan orang gila. Oleh karena itu, hadis mengenai hukuman bagi subjek atau objek homoseksual itu tidak berlaku bagi anak di bawah umur atau orang yang mengalami penyakit mental. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah saw. dari Ali bin Abi Thalib:

رفع القلم عن ثلاثة: عن النائم حتى يستيقظ، وعن الصغير حتى يكبر، وعن المجنون حتى يعقل أو يفيق

Beban hukum itu tidak berlaku bagi tiga orang, orang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai dia dewasa, dan orang gila sampai dia sembuh (HR Tirmidzi).

Hal ini juga sesuai dengan kesepakatan ulama 4 mazhab, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh.

Sementara itu, ulama berbeda pendapat mengenai hukuman yang dijatuhkan bagi pelaku homoseksual, baik sesama lelaki atau sesama perempuan. Mayoritas ulama menyamakan perbuatan homoseksual dengan zina, dirajam bila sudah menikah dan dicambuk bila belum menikah. Namun, hukuman tersebut tidak dapat diterapkan apabila tidak ada bukti atau 4 orang saksi, sebagaimana dijelaskan Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh

ولا يقام حد الزنا إلا بعد ثبوت الزنى بإقرار أو ببينة أربعة شهود عدول

Had zina tidak dapat ditegakkan kecuali setelah adanya bukti perzinahan berupa pengakuan atau keterangan 4 orang saksi yang kredibel. 

Syarat lain penerapan hukum ini menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili adalah pelakukan melakukannya di negara Islam.

ويشترط كذلك أن يكون الوطء في دار الإسلام

Disyaratkan juga bahwa perbuatan persetubuhan itu dilakukan di negara Islam.

Sementara itu, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa homoseksual itu bukan zina. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa hukuman bagi homoseksual itu hanya ditakzir sesuai keputusan hakim. Ada tiga alasan mengapa pelaku homoseksual hanya mendapatkan hukum takzir. Pertama, homoseksual itu bukan zina, jadi hukumannya tentu lebih ringan dari zina. Kedua, perbuatan homoseksual tidak akan membuat rancu nasab anak. Ini karena pelaku homoseksual itu tidak mungkin hamil. Ketiga, biasanya tidak ada potensi konflik yang berimplikasi pada pembunuhan pelaku homoseksual. (Baca: Homoseksual dalam Hukum Islam Termasuk Pidana?)

Atas beberapa paparan di atas dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, pelaku homoseksual di Indonesia yang sudah dewasa itu belum terdapat undang-undang pidananya secara khusus. Kedua, bila pun ingin diterapkan hukuman pidana itu tidak perlu sampai menghilangkan nyawa seseorang, karena dalam hukum Islam juga terdapat perbedaan pendapat mengenai hukuman bagi pelaku homoseksual. Mungkin dalam hal ini kita bisa mengambil pendapat Imam Abu Hanifah yang tidak begitu keras. Ketiga, penarapan had zina itu hanya berlaku di negara Islam. Sementara itu, Indonesia bukan negara Islam. Tapi negara yang dianut mayoritas Muslim berdasarkan UUD 45 dan Pancasila.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here