Benarkah Pekerjaan Mubah Bisa Bernilai Sunah di Bulan Ramadhan?

0
420

BincangSyariah.Com – Bisakah pekerjaan mubah bisa bernilai sunah di bulan ramadan? Bulan ramadan adalah bulan penuh berkah. Keberkahan yang merata kepada semua umat islam. Dari yang petani, pedagang, nelayan, pegawai, rakyat kecil, pemerintah, semua bisa merasakan berkahnya bulan ramadhan. Keberkahan umum bulan ramadhan adalah terajutnya kembali kebersamaan lewat sholat tarawih dan buka bersama.

Selain itu, amalan sunah di bulan ramadan diganjar setara dengan pahala ibadah wajib. Adapun ibadah wajib, pahalanya berlipat-lipat dari pahala amalan wajib di luar Bulan Ramadhan. Allah Sawt. memanjakan hamba-Nya dengan berjuta-juta rahmat dan ampunan di bulan ke-8 dalam kalender hijriyah. Dalam sebuah riwayat disebutkan,

وهو شهر اوله رحمة واوسطه مغفرة واخره عتق من النار

Wahuwa syahrun awwaluhu rahmatun, wa ausathuhu maghfirotun, wa aakhiruhu ‘itqun minannari.

Bulan Ramadhan pertamanya adalah kasih sayang, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. (HR. Al-Mahaamili)

Terus, bagaimana dengan pekerjaan mubah yang di lakukan di bulan ramadan, apakah juga bisa bernilai ibadah yang berlipat ganda? Misalnya tidur, makan, dan lain-lain.

Jawabannya bisa bernilai ibadah, bisa juga tidak bernilai apa-apa. Pekerjaan mubah bisa bernilai ibadah jika diniati dengan benar. Misalkan tidur siang agar kuat untuk bangun malam. Tentunya tidur tersebut naik setingkat yang asalnya mubah menjadi sunah karena diniati agar kuat sholat tahajud. Konon, ada sebuah riwayat yang menyatakan,

نوم الصائم عبادة

Tidurnya orang puasa bernilai ibadah (HR. Ibn Abi Aufa)

Walaupun tidur saat puasa bernilai ibadah, bukan berarti anjuran untuk selalu tidur. Apalagi dari pagi sampai sore, tentunya ini tidak baik juga. Lebih-lebih sampai tidak sholat fardu, bukan lagi ibadah yang didapat, tapi siksa yang mendekat. Sebenarnya bukan tidurnya yang bernilai ibadah, akan tetapi puasanyalah yang dihitung ibadah. Baik dalam kondisi sadar ataupun tidur. Namun terlepas dari itu, tidur di siang ramadhan tetap berpahala jika diniati dengan benar.

Baca Juga :  Telaah Hadis Kiamat Terjadi pada Malam Jumat Pertengahan Ramadan

Selain tidur, kebiasaan lain yang mungkin berpahala adalah makan sahur agar kuat berpuasa dan berbuka untuk kuat sholat tarawih, maka hal ini tentunya bernilai ibadah. Update status di medsos juga bisa bernilai ibadah jika diniati untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Malahan makan di bulan Ramadhan mendapatkan legalitas sunah langsung dari Rasulullah Saw. Yakni makan di waktu buka dan saat sahur. Rasulullah Saw. bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

Manusia terus menerus dalam kebaikan selama ia menyegerakan buka puasa (Muttafaqun ‘alaih)

Kesunahan di sini bukan semata-mata karena kegiatan makannya. Akan tetapi dikarenakan menyegerakan buka puasa saat terbenamnya matahari sudah nyata. Seharian penuh perut tidak kemasukan makananan dan minuman, maka agar pulih kembali dianjurkan segera buka puasa. Nah, makan semacam ini tentunya bernilai ibadah. Pertama karena anjuran nabi. Kedua karena dengan makan, bisa lebih bertenaga untuk sholat fardu dan sholat tarawih serta ibadah yang lain.

Di hadits lain Rasulullah Saw. bersabda,

تسحروا فان في السحور بركة

Makan sahurlah, karena di dalamnya terdapat keberkahan (HR. Muttafaq Alaihi)

Sekali lagi, makan di tengah malam sesungguhnya tidak lazim dilakukan. Hanya saja saat bulan ramadhan menjadi sebuah kesunahan. Bahkan bukan hanya kenyang yang didapat, tapi juga keberkahan. Tidak heran banyak para marbot musholla membangunkan masyarakat sekitar lewat pengeras suara hanya untuk sahur. Apalagi makan sahur juga menjadi amunisi untuk beraktifitas selama seharian penuh di siang ramadhan.

Makan saja yang asalnya mubah bisa menjadi sunah sebab Bulan Ramadhan selain karena diniati untuk ibadah. Apalagi ibadah yang jelas-jelas sudah di-labeli sunah atau wajib, sungguh tak terhitung lagi pahalanya. Belum lagi pahala dari puasanya sendiri yang menjadi rahasia Allah Swt. Maka sangat merugilah orang yang lalai terhadap Bulan Ramadhan dan ibadah puasa.

Baca Juga :  Umamah binti Abu Al-Ash: Cucu Perempuan Kesayangan Rasulullah

Oleh karena itu, kita harus banyak berayukur karena masih diberi kesempatan untuk bersua dengan bulan ramadhan. Berkah bulan puasa, ibadah sunah bisa bernilai fardu dan ibadah mubah bisa bernilai sunah. Semoga Allah Swt. mempertemukan kembali dengan ramadhan yang akan datang. Allah Ta’ala A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here