Nabi Ditipu? Ini Bantahan terhadap Ustaz Tengku Zulkarnaen

0
1789

BincangSyariah.Com – Seorang dai merespons kejadian dugaan menyampaikan berita palsu yang disampaikan oleh Ratna Sarumpaet (RS) beberapa waktu yang lalu. Ia memberikan pernyataan yang pada intinya adalah ingin membela mereka yang berempati dengan RS dan yang menganggap apa yang dilakukannya bukan kesalahan. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tidak semestinya mereka yang berempati dengan RS disalahkan. Berikut pernyataannya, 

 

Pertanyaan utamanya di sini adalah apakah bisa mengkiaskan tidak jujurnya sekelompok orang-orang kafir kepada Nabi saw. dengan mereka yang hari ini tertipu (termasuk tokoh politik seperti Prabowo dan Amien Rais) dengan pernyataan RS?

Oh ya, kisah yang dikutip oleh dai tersebut memang benar adanya. Ada beberapa sumber yang menyebutkan seperti dalam kitab hadis Shahih Muslim dan Mu’jam al-Thabrani atau dalam kitab-kitab sejarah seperti al-Sirah al-Nabawiyyah karya Ibn Hisyam, Tarikh al-Thabari dan al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibn Katsir al-Dimasyqi. Berikut saya kutipkan selengkapnya redaksinya:

قَدِمَ أبو براء عامر بن مالك بن جعفر -الملقب بملاعب الأسنة- على رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة، فعرض عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم الإسلام ودعاه إليه، فلم يسلم، وقال: يا محمد! لو بعثتَ رجالاً من أصحابك إلى أهل نجد، فدعوهم إلى أمرك، رجوت أن يستجيبوا لك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إني أخشى عليهم أهل نجد) قال أبو براء: أنا لهم جار، فابعثهم فليدعوا الناس إلى أمرك.

فبعث رسول الله صلى الله عليه وسلم المنذر بن عمرو -أحد بنى ساعدة، الملقب: المعنق ليموت- فى سبعين من خيار المسلمين، منهم: الحارث بن الصمة، وحرام بن ملحان ـ أخو أم سليم، وهو خال أنس بن مالكـ، وعروة بن أسماء بن الصلت السلمي، ونافع بن بديل بن ورقاء الخزاعى، وعامر بن فهيرة مولى أبى بكر الصديق وغيرهم، فنهضوا فنزلوا بئر معونة، وهى بين أرض بنى عامر وحرة بنى سليم، ثم بعثوا منها حرام بن ملحان بكتاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى عدو الله ورسوله صلى الله عليه وسلم عامر بن الطفيل.

Baca Juga :  Hampir Dipukuli karena Dituduh Mencuri, Sahabat Nabi Ini Selamat karena Shalawat

فلما أتاه لم ينظر فى كتابه، ثم عدا عليه فقتله، ثم استنهض إلى قتال الباقين بنى عامر، فأبوا أن يجيبوه؛ لأن أبا براء أجارهم، فاستغاث عليهم بنى سليم، فنهضت معه عصية ورعل وذكوان، وهم قبائل من بنى سليم، فأحاطوا بهم، فقاتلوا، فقُتِلوا كلهم رضوان الله عليهم، إلا كعب بن زيد أخا بنى دينار بن النجار، فإنه ترك فى القتلى وفيه رمق، فرُفِع وبه جراح من القتلى، فعاش حتى قتل يوم الخندق رضوان الله عليه

Abu Bara’ bin ‘Amir bin Malik bin Ja’far – yang dikenal dengan sebutan Mula’ib al-Asinnah – bertemu dengan Rasulullah saw. Rasul menjelaskan agama Islam dan menawarkan agar Abu Bara’ bisa masuk Islam. Ia namun tidak mau. Kemudian berkata: “Wahai Muhammad! Andaikan kamu utus sejumlah orang dari kalangan sahabatmu kepada penduduk wilayah Najd. Kemudian mereka mendakwahkan mereka untuk (menuruti) perintahmu (masuk Islam). Saya berharap mereka (penduduk Najd) akan menjawab ajakanmu.” Rasulullah saw. berujar: “yang paling saya khawatirkan bagi sahabat-sahabat saya adalah tentang perilaku mereka !” Abu Bara’ menjawab (berusaha meyakinkan): “Saya tetangga mereka, utuslah sahabat-sahabatmu dan ajak orang-orang menuruti perintahmu!”

Rasulullah saw. akhirnya mengutus beberapa orang sahabatnya sejumlah tujuh pulih orang dengan dipimpin al-Mundzir bin ‘Amr dari Bani Sa’idah. Di antara mereka adalah al-Harits bin al-Shammah, Haram bin Milhan (sepupu Anas bin Malik), ‘Urwah bin Asma’ bin al-Shalt al-Sulami, dan Nafi’ bin Badi bin Warqa’ al-Khuza’i, serta ‘Āmir bin Fuhairah mawla Abu Bakar as-Shiddi dan lain-lain. Mereka bergerak hingga sampai daerah Bi’r Ma’unah, tempatnya di antara wilayah Bani ‘Amir dan Bani Salim.

Kemudian, para sahabat itu mengutus Haram bin Milhan untuk membawa surat dari Rasulullah saw. kepada seorang musuh Allah dan RasulNya, ‘Amir bin al-Thufail. Ketika Haram memberikan surat kepada ‘Āmir, ia tidak melihat surat itu dan justru menyerangnya sampai terbunuh. ‘Āmir justru meminta Bani ‘Āmir untuk membunuh sahabat Nabi yang tersisa itu. Namun, mereka menolak karena Abu al-Barā’ – sebagai pemimpin Banu ‘Āmir – sudah berjanji tidak mengganggu mereka. ‘Āmir lalu minta Bani Salim yang melakukan penyerangan.

Akhirnya, berangkatlah ‘Āmir bin Thufail bersama beberapa kabilah Bani Salim seperti kabilah ‘Ushyah, Ra’l, dan Dzakwan. Mereka lalu mengepung sahabat Nabi saw., menyerangnya, sampai mereka semua terbunuh kecuali Ka’b bin Zayd dari Bani Zayd bin al-Najjar. Ia ditinggalkan bersama para korban dengan kondisi sekarat. Ia lalu meninggal, namun masih ada sahabat yang hidup dalam keadaan terluka. Sahabat ini kemudian masih hidup sampai akhirnya terbunuh di perang Khandaq.  

Pada cerita di atas, disebutkan ada sahabat Nabi saw. yang masih hidup pada peristiwa pembantaian tersebut. Dalam riwayat Shahih Muslim, disebutkan ia bernama ‘Umar bin Umayyah al-Dhamari. Ia yang melaporkan kepada Nabi saw. peristiwa yang memilukan tersebut. Ia juga yang menceritakan kalau para sahabatnya berdoa:

Baca Juga :  Hukum Mencium Kaki Orang yang Dihormati

 اللهم بلغ عنا نبينا، أنا قد لقيناك فرضينا عنك، ورضيت عنا

“Ya Allah, sampaikan salam kami kepada Nabi kami, Nabi Muhammad saw. Sesungguhnya, kami sudah bertemu dengan Engkau, Ya Allah. Kami rida dengan Engkau, dan Engkau juga rida dengan kami.”

Salah satu alasan kenapa kita tidak bisa menyamakan antara kisah di atas dengan apa yang dilakukan beberapa tokoh-tokoh politik kita dalam merespons RS adalah, tentu saja mereka bukanlah Nabi saw. Nabi saw. sendiri, sebenarnya khawatir untuk mengutus sahabat-sahabat tersebut. Rasulullah saw. menyadari kalau masyarakat Najd yang belum beriman itu dikenal sadis dalam menghadapi lawan mereka. Ini sebenarnya menjadi titik tolak kita bahwa Rasul pun sebenarnya khawatir, penuh pertimbangan, meski akhirnya tetap memberangkatkan mereka.

Ini karena Rasulullah saw. sebagai suku Quraisy memegang tradisi masyarakat Arab untuk percaya kepada tetangga suku yang sudah berjanji memberikan perlindungan, yaitu Abu Bara’ tadi. Padahal, dua bulan sebelumnya umat Islam baru saja berduka karena kehilangan saudara-saudaranya dalam Perang Uhud yang juga berjumlah tujuh puluh orang.

Sekarang, Rasul kembali berduka karena tujuh puluh orang lagi sahabatnya meninggal dalam usahanya berdakwah, dan dengan cara yang tidak khas masyarakat Arab waktu itu. Yaitu, ditikam ketika mereka tidak sedang dalam berperang.

Jika Rasulullah saw. untuk perkara yang sangat krusial saja penuh kekhawatiran, meskipun akhirnya “salah memperkirakan” juga. Bukankah kita seharusnya yang umatnya ini, menyadari bahwa kita bisa lebih mudah jatuh kepada kesalahan.

Semestinya, kita justru tidak menggunakan kisah kepiluan Nabi saw. itu untuk membenarkan kalau kita gegabah dan tidak mengklarifikasi sesuatu, kita tidak boleh disalahkan layaknya Nabi saw. yang tidak disalahkan oleh para sahabatnya. Informasi dari sang dai demikian. Tapi, saya belum memeriksa lagi. Mungkin ada informasi lain. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here