Benarkah Nabi Pernah Disihir Orang Lain?

3
3654

BincangSyariah.Com – Pernahkah kalian melihat orang terkena sihir, diguna-guna, atau disantet? Biasanya hal ini dilakukan oleh dukun, paranormal, atau “orang pintar” dengan bantuan setan untuk membuat sakit atau tidak nyaman hidup seseorang disebabkan sakit hati atau persaingan bisnis. Tidak hanya orang biasa, Nabi saw. pun pernah dikirim sihir atau guna-guna oleh seorang Yahudi yang bernama Labid bin Al-A’sham yang memiliki sifat hasud kepada Nabi saw.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سُحِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَدَعَا ثُمَّ قَالَ: أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِي فِيمَا فِيهِ شِفَائِي؟ أَتَانِي رَجُلانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلآخَرِ: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ  مَطْبُوبٌ ؟ قَالَ : وَمَنْ طَبَّهُ ؟ قَالَ: لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ. قَالَ : فِيمَا ذَا؟ قَالَ: فِي مُشُطٍ وَمُشَاقَةٍ وَجُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ. قَالَ فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ. فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِينَ رَجَعَ: نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ. فَقُلْتُ: اسْتَخْرَجْتَهُ ؟ فَقَالَ: لاَ، أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللَّهُ وَخَشِيتُ أَنْ يُثِيرَ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا ثُمَّ دُفِنَتْ الْبِئْرُ. رواه البخاري ومسلم.

Dari Aisyah r.a. ia berkata, “Nabi saw. pernah disihir (diguna-guna) hingga beliau dibuat (seperti) mengkhayal, beliau seakan-akan melakukan ini padahal beliau tidak melakukannya. Sampai suatu hari beliau memanggil, manggil lalu beliau bertanya, “Apakah kamu tidak merasakan bahwa Allah telah memberikan fatwa kepadaku tentang kesembuhanku? Dua orang laki-laki mendatangiku, lalu salah satu dari keduanya duduk di sisi kepalaku dan yang lainnya di sisi kedua kakiku. Kemudian salah satu dari keduanya mengatakan kepada yang lainnya, “Apa penyakit laki-laki ini?” “Terkena sihir.” “Siapa yang mengsihirnya.” “Labid bin Al-A’sham.” “Dengan apa?” “Sisir, rambut yang jatuh, serta selendang mayang pohon kurma.” “Di mana ia letakkan itu?” “Di Sumur Dzarwan.” Nabi saw. pun keluar ke sumur itu, kemudian kembali dan berkata kepada Aisyah ketika pulang, “Pohon kurmanya seperti kepala setan.” Lalu aku (Aisyah) berkata, “Apakah engkau bisa mengeluarkannya?” “Tidak, sungguh Allah telah menyembuhkanku, aku khawatir memberikan kesan buruk kepada orang lain.” Kemudian sumur itu dikubur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Baca Juga :  Kajian Hadis: Sungai Eufrat Mengering adalah Tanda Kiamat, Benarkah?

Syekh Wahbah Az-Zuhaili di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah penyihiran Labid bin Al-A’sham erat kaitannya dengan sebab turunnya surah muawwidzatain. Yakni surah An-Nas dan A-Falaq. Di mana Nabi saw. disihir dengan menggunakan rontokan-rontokan rambut Nabi saw. yang diikat menjadi sebelas ikatan. Lalu turunlah dua surah muawwidzatain. Setiap Nabi saw. membaca satu ayat, lepaslah satu ikatan (begitu seterusnya karena jumlah surah Al-Falaq 5 ditambah surah An-Nas 6 maka menjadi 11 sesuai dengan 11 ikatan yang dibuat oleh Labid agar Nabi saw. sesak) dan Nabi saw. pulih kembali.

Oleh karena itu, di dalam kitab Tafsir Jalalain, ketika menafsirkan Q.S. Al-Falaq ayat 4 dan 5 sebagai berikut.

وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ

dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menafsirkan

{ وَمِن شَرِّ النفاثات } السواحر تنفث { فِى العقد } التي تعقدها في الخيط تنفخ فيها بشيء تقوله من غير ريق . وقال الزمخشري معه كبنات لبيد المذكور .

(Dan dari kejahatan perempuan-perempuan yang meniup), yakni perempuan-perempuan penyihir yang meniup (pada tali-tali) yang diikatkan di dalam sebuah jarum yang ditiupkan di dalamnya dengan sesuatu yang dikatakan tanpa ada ludah. Imam Zamakhsyari berkata besertanya seperti anak-anak perempuan Labid yang telah disebutkan.

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

أظهر حسده وعمل بمقتضاه كلبيد المذكور من اليهود الحاسدين للنبي صلى الله عليه وسلم ، وذكر الثلاثة الشامل لها «ما خلق» بعده لشدّة شرها .

Imam Suyuthi menjelaskan bahwa hasud yang nyata dan dilaksanakan seperti Labid itu dari bangsa Yahudi yang hasud kepada Nabi saw. Dan disebutkan tiga kejahatan yang lengkap setelahnya sebagai penjelas “kejahatan makhluk yang diciptakan” karena sangat jahatnya apa yang dilakukan.

Baca Juga :  Siapa yang Lebih Berhak Membantu Saudara Kandung yang Kesulitan?

Imam Suyuthi mengarahkan yang dimaksud Nabi saw. berlindung dari kejahatan sihir dan dengki di dalam surah Al-Falaq tersebut adalah khususnya dari Labid bin Al-A’sham beserta anak-anak perempuannya yang membantunya untuk menyihir Nabi saw.

Oleh karena itu, dua surah tersebut Al-Falaq dan An-Nas bisa dibaca untuk mengusir sihir dan guna-guna. Di mana isi dari dua surah tentang permintaan perlindungan dengan Allah swt. dari seburuk-buruknya kejahatan baik dari jin maupun manusia.

Demikian riwayat shahih tentang Nabi saw. pernah disihir atau diguna-guna oleh orang lain, yakni Labid bin Al-A’sham dari kalangan Yahudi. Di mana beliau, diberitahu langsung oleh Allah swt. melalui dua malaikat yang menyerupai laki-laki tentang penyebab sakitnya yang tak wajar yang ternyata sihir. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here