Benarkah Mendoakan Cepat Punya Anak Pada Pengantin Baru Tidak Boleh?

0
30

BincangSyariah.Com – Ketika ada keluarga, teman dan tetangga menikah, kita biasanya mengucapkan selamat padanya. Selain itu, ada beberapa kalimat yang biasanya kita tambahkan sendiri. Misalnya, semoga cepat punya momongan atau anak, semoga langgeng sampai kakek-nenek, dan lain sebagainya. Namun menurut sebagian keterangan, ucapan tambahan seperti ‘semoga cepat punya momongan atau anak’ ini tidak boleh. Benarkah demikian?

Dalam Islam, ketika ada pengantin baru, kita dianjurkan untuk mengucapkan tahniah atau ucapan selamat pernikahan padanya. Ucapan yang dianjurkan adalah “baarakallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair.”

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, dia berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَّأَ الإِنْسَانَ إِذَا تَزَوَّجَ قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Sesungguhnya Nabi Saw ketika mendoakan orang yang menikah, beliau mengucapkan; Barakallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair’.

Adapun mengenai tahniah dengan ucapan ‘semoga langgeng’ atau ‘semoga cepat punya momongan’, terdapat sebuah keterangan dalam kitab Al-Adzkar bahwa hal itu dimakruhkan. Imam Nawawi berkata sebagai berikut;

يكره أن يقال للمتزوج : بالرفاء والبنين وإنما يقال له : بارك الله لك وبارك عليك

Dimakruhkan mengucapkan pada pengantin “semoga harmonis dan banyak anak.” Hendaknya mengucapkan ‘semoga Allah memberkahi dan menetapkan berkah atasmu.
Menurut Ibnu Hajar, kemakruhan mengucapkan “semoga langgeng”; “semoga harmonis”“semoga banyak anak”, jika dimaksudkan menyerupai ucapan kaum jahiliyah. Jika dimaksudkan untuk mendoakan kebaikan, apalagi diucapkan setelah kalimat ‘Barakallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair’, maka hukumnya boleh dan tidak makruh.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari berikut;

Baca Juga :  Kitab Bahjat al-Wudluh: Di Dunia, Susah dan Senang itu Silih Berganti

وأما الرفاء فمعناه الالتئام من رفأت الثوب ورفوته رفوا ورفاء وهو دعاء للزوج بالالتئام والائتلاف فلا كراهة فيه ، وقال ابن المنير : الذي يظهر أنه صلى الله عليه وسلم كره اللفظ لما فيه من موافقة الجاهلية لأنهم كانوا يقولونه تفاؤلا لا دعاء

Adapun rifa’ artinya adalah menjahit dari kalimat ‘aku menjahit baju’. Itu adalah doa pada suami agar harmonis, maka hal itu tidak makruh. Ibnu Al-Munir berkata; Yang jelas Nabi Saw tidak suka kalimat itu karena hal itu bisa menyamai orang-orang jahiliyah. Mereka mengucapkan hal itu sebagai tafa’ul atau harapan, bukan sebagai doa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here