Benarkah Karamah Para Wali Bertentangan dengan Al-Qur’an? Ini Penjelasan Ulama Tafsir

0
82

BincangSyariah.Com – Para wali disebut sebagai wali karena mereka adalah orang-orang yang ditolong dan dimuliakan oleh Allah, di mana mereka tidak mengharapkan apa-apa kecuali dekat dengan Allah (Ahmad ash-Shawi, Tafsir ash-Shawi, II: 194).

Dengan demikian, wali adalah kekasih Allah, pilihan Allah, dan orang yang dekat dengan Allah. Mereka adalah orang-orang yang memadukan antara iman yang benar dengan takwa kepada Allah, yaitu: beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, dan hari akhir dan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya (Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsir al-Munir, 2009, VI: 225).

Hal ini berdasarkan penafsiran terhadap surah Yunus (10): 62-63. Oleh karena itu, setiap orang yang bertakwa kepada Allah, maka dia adalah wali Allah (hlm. 225). Penjelasan senada juga pernah disampaikan oleh KH. Muhammad Syamsul Arifin (Pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, Madura) dalam salah satu ceramahnya.

Menurutnya, wali Allah adalah orang yang beriman dan senantiasa bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam surah Yunus (10): 62-63. Oleh karena itu, wali Allah belum tentu seorang kiai, ustaz, atau hafiz.

Sebab, siapapun yang beriman dan bertakwa kepada Allah, maka dialah wali Allah. Adapun takwa sendiri adalah mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya (pengertian ini sesuai dengan makna takwa yang disebutkan oleh Imam al-Gazali dalam Bidayah al-Hidayah, hlm. 8).

Lebih lanjut KH. Muhammad Syamsul Arifin menjelaskan bahwa wali Allah itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat sesuai maqam (kedudukan) masing-masing. Ada wali Allah yang memiliki kedudukan (maqam) sangat tinggi, semi tinggi, sedang, biasa, dan rendah.

Oleh karena itu, terkadang ada seorang wali yang sejatinya memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi Allah dalam keadaan telanjang, karena dia sudah lupa dan tidak sadar kalau sedang dalam keadaan telanjang (fana’).

Ada juga seorang wali yang secara kasat mata tampak biasa saja di mata manusia, karena setiap harinya biasa mengendarai mobil mewah. Dia menjadi wali karena beriman dan bertakwa kepada Allah. Sebab, Allah memang menyembunyikan wali-Nya di antara para hamba-Nya. Sehingga terkadang sang wali tersebut tidak merasa kalau dirinya seorang wali.

Para Wali adalah Rahmat Allah untuk Kehidupan Umat Manusia  

Habib Zein bin Smith menyebutkan bahwa wali-wali Allah terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu: ada yang tau kalau dirinya wali dan begitu pula dengan orang lain; ada yang hanya diketahui oleh orang lain dan dirinya tidak tau kalau wali; dan ada yang tidak diketahui oleh siapapun, baik dirinya maupun orang lain.

Baca Juga :  Mana yang Lebih Utama, Nikah Dulu atau Haji Dulu?

Para wali merupakan salah satu rahmat Allah kepada manusia, karena keberadaan mereka bisa menolak bencana dan mendatangkan rahmat (al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 494).

Adapun jumlah para wali dalam setiap masa tidak kurang dari jumlah para nabi, yaitu seratus dua puluh empat ribu orang (hlm. 493). Hal ini karena memang para wali adalah pengganti para nabi (Imam Habib Abdillah al-Haddad, Diwan al-Imam al-Haddad, Penerbit Dar al-‘Ulum al-Islamiyyah: 117).

Sedangkan sifat-sifat para wali yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah: pertama, mereka tidak takut atas musibah yang akan menimpa mereka dan tidak bersedih hati, baik ketika tidak mendapatkan keinginan-keinginannya, mengalami kondisi yang tidak disukai, maupun ketika kehilangan sesuatu yang dicintai.

Sebab, mereka beriman kepada qaḍâ dan qadar dan hanya mengharap rida Allah. Kedua, mereka tidak takut terhadap pedihnya peristiwa-peristiwa di akhirat dan siksa neraka dan tidak bersedih terhadap kehidupan di akhirat kelak (at-Tafsir al-Munir, hlm. 225-226).

Kewajiban Memercayai Keberadaan Para Wali dan Kabar Gembira untuk Mereka

Menurut Syekh Muhammad Amin al-Kurdi (ulama dan sufi terkemuka bermazhab asy-Syafi‘i dan bertarekat Naqsyabandiyyah), setiap Muslim wajib percaya kepada (keberadaan) para wali Allah. Sebab, barangsiapa yang mengingkari keberadaaan wali-wali Allah, maka dia termasuk orang kafir karena sama saja menentang al-Qur’an yang menyebutkan: “Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati (Yunus (10): 62).”

Selain itu, setiap Muslim wajib percaya kepada karomah yang dimiliki oleh para wali Allah, baik ketika masih hidup maupun sudah meninggal. Karomah sendiri adalah perkara yang tidak lazim terjadi (keajaiban) yang muncul dari orang saleh, dan dia bukan seorang nabi (Tanwir al-Qulub fi Mu‘amalah ‘Allam al-Guyub, hlm. 40). Menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili, para wali adalah orang-orang yang memelihara diri dengan taat dan beribadah kepada Allah. Sehingga Allah memelihara mereka dengan al-karamah (kemuliaan) (hlm. 225).

Dalam hal ini, surah Yunus (10): 64 menyebutkan bahwa para wali akan mendapatkan kabar gembira untuk kehidupan dunia dan akhirat. Menurut Syekh Ahmad ash-Shawi, kabar gembira di dunia adalah berupa: adanya kabar gembira dari malaikat ketika mau meninggal; penghormatan yang baik dan kecintaan makhluk kepada mereka (para wali), sebagaimana disebutkan dalam hadis; tampaknya beberapa karomah; dan memperoleh keinginan-keinginan dengan mudah. Sebab, ketika seorang hamba yang dincintai Allah (wali) meminta sesuatu kepada-Nya, maka Alah segera mengabulkan permintaannya (hlm. 195-196).

Namun demikian, masih terdapat tiga kabar gembira lain yang jauh lebih utama dibandingkan dengan beberapa kabar gembira yang telah disebutkan. Tiga kabar gembira ini adalah: adanya taufik dari Allah untuk senantiasa mengabdi kepada-Nya; tenangnya tubuh dalam mengabdi (taat) kepada-Nya; dan riangnya hati karena taat kepada-Nya.

Baca Juga :  Hirarki Kosmos dan Negara Para Wali Allah

Syekh Ahmad ash-Shawi menegaskan bahwa ketiga hal tersebut merupakan kabar gembira yang paling utama di antara beberapa kabar gembira lainnya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya (hlm. 195-196).

Adapun kabar gembira di akhirat adalah berupa surga dan segala kenikmatan di dalamnya (hlm. 196). Pendapat senada juga dikemukakan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili. Menurutnya, kabar gembira di dunia untuk para wali adalah berupa: pertolongan, kemuliaan, kekuatan, penghormatan yang baik, dan menjadi wakil Allah (khalifah) untuk memelihara dan memakmurkan bumi. Sedangkan kabar gembira di akhirat adalah berupa: keberuntungan, keselamatan, dan surga serta segala kenikmatan abadi yang ada di dalamnya (hlm. 226-228).

Beberapa Karomah yang Disebutkan dalam al-Qur’an

Habib Zein bin Smith membahas masalah karomah para wali secara lengkap dan jelas dalam al-Fawa’id al-Mukhtarah (hlm. 529- 543). Menurutnya, dasar karomah adalah al-Qur’an dan beberapa karomah para sahabat dan tabiin.

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah yang secara langsung menunjukkan adanya karomah, seperti kisah Sayyidah Maryam as. (Ali ‘Imran (3): 37 dan Maryam (19): 25), Ashhabul Kahfi as. (al-Kahfi (18): 11 & 25), Nabi Khidir as. (al-Kahfi (18): 65), Dzul Qarnain as. (al-Kahfi (18): 84), dan Ashif bin Burkhiya (an-Naml (27): 40) (hlm. 530).

Ahli tafsir menyebutkan bahwa Sayyidah Maryam as. mendapatkan buah-buahan musim dingin di musim panas dan begitu pula sebaliknya. Hal ini merupakan karomah Sayyidah Maryam as. yang diberikan oleh Allah, karena termasuk perkara yang tidak lazim terjadi.

Sedangkan karomah Ashhabul Kahfi as. adalah tertidur selama 309 tahun dan masih tetap hidup meskipun tidak makan dan minum selama kurun waktu tersebut. Bahkan tubuh mereka tetap utuh dan tidak rusak oleh usia dan zaman.

Adapun karomah Nabi Khidir as. adalah mengetahui perkara-perkara gaib dan karomah Ashif bin Burkhiya bisa mendatangkan singgasana Ratu Balqis sebelum mata Nabi Sulaiman berkedip (hlm. 530-531).

Adapun contoh karomah sahabat adalah kisah Sayyidina Khubaib ra. (salah satu sahabat Rasulullah saw.) yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari. Dalam hal ini, beliau pernah memakan buah-buahan di luar musimnya. Padahal beliau sedang dirantai dalam penjara di Mekah, di mana pada waktu itu tidak ada buah-buahan di Mekah―karena bukan musimnya. Hal ini tentu merupakan karomah Sayyidina Khubaib ra. yang diberikan oleh Allah (hlm. 531).

Baca Juga :  Kisah Teladan Kehidupan yang Menakjubkan

Beberapa sahabat lain yang memiliki karomah adalah: Sayyidina Umar bin Khattab ra., Sayyina Utsman bin Affan ra., Imam Hasan as., dan pembantunya Rasulullah saw. Selain itu, Habib Zein bin Smith menyebutkan karomah-karomah beberapa ulama, wali, dan habib, seperti bisa menghidupkan orang mati dan lain sebagainya. Beberapa karomah ini merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada para kekasih(wali)nya. (Baca: Lima Karamah Umar bin Khattab)

Dengan demikian, karomah para wali tidak bertentangan dengan al-Qur’an. Mengingat ada pendapat yang mengatakan bahwa cerita karomah wali bertentangan dengan surah Yunus (10): 49: “katakanlah (Muhammad), aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah Kehendaki.

Menurut Syekh Ahmad as-Shawi, ayat tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah saw. tidak bisa menolak kemudaratan ketika Allah sudah Menghendaki dan tidak bisa mendatangkan manfaat ketika Allah Mencegahnya.

Namun demikian, redaksi kalimat “kecuali apa yang Allah Kehendaki” menunjukkan bahwa Allah masih memberikan kemampuan kepada Rasulullah saw. untuk menolak kemudaratan dan mendatangkan kemanfaatan sesuai kehendak Allah (hlm. 191).

Artinya, hakikatnya Rasulullah saw. sebagai manusia memang tidak memiliki kekuatan apa-apa, tetapi beliau mendapatkan anugerah dan kekuatan Ilahi sehingga memiliki kemampuan untuk menolak kemudaratan atau mendatangkan kemanfaatan sesuai kehendak Allah. Oleh karena itu, tidak heran apabila Rasulullah saw. memiliki beberapa keistimewaan dan keajaiban, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Salah satu keistimewaan Rasulullah saw. ketika masih hidup adalah bisa melihat orang yang ada di belakangnya sebagaimana melihat orang yang ada di depannya dan tangan beliau bisa memancarkan air segar. Selain itu, sebuah batang yang pernah dijadikan tempat khotbah oleh Rasulullah saw. menangis tersedu-sedu karena rindu kepada beliau.

Ia baru bisa tenang dan berhenti menangis ketika Rasulullah saw. meletakkan tangannya kepada batang tersebut. Ketiga keajaiban ini bukanlah dongeng, tetapi kisah nyata berdasarkan hadis sahih (Sayyid Muhammad ‘Alawî al-Maliki, Muhammad saw. al-Insan al-Kamil, 2007: 152 dan lihat ta‘liq hadis dalam Imam al-Gazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, penerbit Dar Ibn Hazm, 2005: 368).

Sedangkan keistimewaan beliau di akhirat adalah bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh nabi-nabi yang lain, yaitu memberikan syafaat (pertolongan) kepada umat-umatnya. Bahkan para nabi yang lain dan umat-umatnya juga meminta syafaat kepada Rasulullah saw. Sebab, tidak satupun orang mukmin bisa masuk surga tanpa syafaat (pertolongan) Rasulullah saw. (Muhammad saw. al-Insan al-Kamil, hlm. 163). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here